, ,

Bahaya Sampah Mengancam Sungai Indonesia

Keberadaan sampah di sungai-sungai di Indonesia sudah mengancam. Dilansir dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 67,94 persen atau sebagian besar dari sungai di Indonesia berstatus terancam berat di tahun 2015.

Keadaan tersebut dipengaruhi oleh membeludaknya jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya, menyatakan bahwa produksi sampah di Indonesia mencapai 64 ton per tahun. Tiga puluh persen dari jumlah sampah tersebut merupakan sampah yang sulit untuk didaur ulang, seperti sampah plastik, logam, kaca, kain, dll. Sementara itu, 60 persen lainnya merupakan sampah organik.

Sebagian besar dari sampah tersebut berasal dari konsumsi domestik. Sampah domestik merupakan sampah yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari. Produksi dan penggunaan sampah domestik tidak dapat dibendung karena perannya yang cukup vital dalam menyokong kehidupan rumah tangga. Sebagai contoh, penggunaan botol plastik kemasan dan kantung plastik sangatlah sulit untuk diminimalisasi. Dengan demikian, menurut KLHK, penduduk Indonesia menyumbangkan sampah plastik dengan jumlah terbesar kedua di dunia.

Selain sampah domestik, sampah atau limbah industri pun turut andil dalam mencemari sungai-sungai di Indonesia. Indonesia merupakan lokasi yang sangat prospektif bagi pembangunan pabrik. Sayangnya, masih banyak pabrik yang tidak melakukan pembuangan limbah dengan baik. Sungai, pada akhirnya, dijadikan tempat pembuangan bagi sisa-sisa produksi di pabrik. Akibatnya, habitat sungai pun terganggu. Contohnya, di Kabupaten Pekalongan, sungai-sungai yang sudah tercemar oleh limbah produksi tekstil sudah tidak layak ditempati oleh flora dan fauna. Hal yang sama terjadi di sungai-sungai di Pulau Sumatra, meskipun limbah yang mencemari datang dari lokasi pertambangan.

Upaya Indonesia dalam menanggulangi pencemaran air sungai masih patut untuk dikritisi. Jumlah Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga (IPAL) di Indonesia masih sangatlah minim. Bahkan, apabila dibandingkan dengan jumlah IPAL yang terdapat di Kamboja, jumlah fasilitas IPAL di Indonesia pun kalah. Padahal, Indonesia memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah yang lebih besar. IPAL pun sangat dibutuhkan untuk mengurangi jumlah limbah domestik. Oleh karena itu, Indonesia sewajarnya membutuhkan lebih banyak instalasi IPAL apabila dibandingkan dengan Kamboja.

Masyarakat pun perlu melawan kebiasan membuang sampah ke sungai. Dibutuhkan kesadaran dan edukasi berkelanjutan terhadap bahaya pencemaran air sungai. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Padahal, kondisi air sungai di Indonesia sudah tidak layak konsumsi, dengan meningkatnya kadar bakteri E coli. Sungai-sungai di Jakarta dan Yogyakarta, terutama, mengandung bakteri E coli yang melebihi ambang batas wajar.

Upaya yang konkrit, aplikatif, dan efisien harus segera diterapkan. Urgensinya pun semakin nyata apabila memperhatikan prediksi KLHK mengenai jumlah sampah di Indonesia pada tahun 2019 yang dapat mencapai 68 juta ton. Sebagian dari sampah tersebut tentu akan mencemari sungai. Penduduk yang menggantungkan sumber airnya dari aliran sungai pun akan semakin terancam kualitas hidupnya. Dengan demikian, tindakan nyata untuk mengurangi volume sampah yang dapat mencemari sungai perlu mulai untuk dilakukan.

SUMBER
Fauziah, Lutfi. “Limbah Domestik, Musuh Utama Sungai Indonesia.” National Geographic Indonesia, 17 Juli 2016, http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/07/limbah-domestik-musuh-utama-sungai-indonesia. Diakses pada 17 April 2017.
Fitriana, Ika. “Gara-Gara Limbah Pabrik, Sungai di Jateng ‘Miskin’ Ikan.” Kompas, 21 Maret 2017, http://regional.kompas.com/read/2017/03/21/22283301/gara-gara.limbah.pabri
k.sungai.di.jateng.miskin.ikan. Diakses pada 16 April 2017.
Wahyuni, Tri. “Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Ke-dua Dunia.” CNN Indonesia, 23 Februari 2016, http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160222182308-277-112685/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-ke-dua-dunia/. Diakses pada 21 April 2017.
Wendyartaka, Anung. “Air Sungai Di Indonesia Tercemar Berat.” National Geographic Indonesia, 1 Mei 2016, http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/air-sungai-di-indonesia-tercemar-berat/1. Diakses pada 17 April 2017.