, , , , , ,

Fakta Unik Tentang Daur Ulang Sampah

Pada artikel Newsletter FEA kali ini, kami akan membahas mengenai fakta-fakta unik nan menarik mengenai daur ulang dan pengolahan sampah. Tulisan ini akan membahas secara singkat mengenai sejarah daur ulang dan di mana dimulainya daur ulang,

Jarang diketahui bahwa daur ulang dan pengolahan sampah menjadi bagian yang erat dengan manusia dan oleh karena itu, daur ulang dan pengolahan sampah bergerak seiring peradaban manusia pula. Menurut Busch Systems, perusahaan pabrikan asal Kanada yang bergerak di bidang daur ulang, sejarah pengolahan sampah dan daur ulang dapat ditarik lebih dari 2000 tahun yang lalu di mana pada sekitar tahun 500 SM, masyarakat Athena memulai program pemusatan pembuangan sampah. Setelah itu, masyarakat Jepang pada tahun 1013 juga mendaur ulang kertas yang kemudian dijual. Setelahnya, daur ulang dan pengolahan sampah ikut berkembang bersama peradaban manusia dan teknologi yang mendorong berbagai kemajuan, seperti mulai didirikannya pabrikan perusahaan bekas di Philadelphia, mulai berdirinya perusahaan daur ulang, hingga abad ini dimana para ilmuwan juga turut serta mendorong daur ulang dengan ditemukannya plastik yang dapat hancur dengan sendirinya. 

Dari fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia sebenarnya sudah lama mengenal daur ulang dan pengolahan sampah. Namun, isu ini sering kali dilupakan dan dianggap tidak penting karena masyarakat merasa bahwa daur ulang tidak membawa manfaat yang langsung dirasakan dalam kehidupan mereka. Mengenai hal ini, perusahaan pabrikan otomotif Volkswagen mempunyai ide kreatif. Mereka mengubah tempat sampah non organik menjadi semacam video game arcade di mana banyak orang berlomba – lomba mencari botol dan kaleng bekas untuk meraih nilai tertinggi yang dapat ditukarkan dengan uangnya ditransfer ke deposit akun PayPal, TechCash, atau disumbangkan ke Nature Conservacy.

Selain itu, kemudahan teknologi juga memunculkan inovasi – inovasi yang berkaitan dengan daur ulang. Salah satunya adalah inovasi dari Muryani, lulusan SD asal Blitar, yang dinamakan BBM Plast. BBM Plast mampu mengubah sampah plastik menjadi tiga jenis bahan bakar minyak (BBM), yakni Premium, Solar, dan Minyak Tanah melalui penyulingan dengan mesin bernama Destilator. Proses penggunaannya pun cukup mudah. Sampah plastik hanya perlu dipisah mana yang bening dan berwarna, lalu dijemur hingga kering. Setelah itu, baru disuling menggunakan mesin dengan kapasitas 10 kg plastik dan dihasilkanlah 6 liter solar, 2,5 liter premium, dan 1,5 liter minyak tanah. Penemuan ini penting untuk mengurangi sampah plastik di masyarakat dan bahkan untuk memecahkan masalah kelangkaan energi global.

Dari fakta-fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa daur ulang dan pengolahan sampah merupakan hal yang penting dalam masyarakat. Daur ulang penting bagi masyarakat untuk memecahkan masalah di masa depan, seperti masalah ekonomis dan bahkan masalah energi.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT:

Bradbury, Matt (2017, 20 Mei). “A Brief Timeline of The History of Recycling”. Diambil dari Buschs System: https://www.buschsystems.com/resource-center/page/a-brief-timeline-of-the-history-of-recycling diakses pada 17 Juli 2018.

Galih, Bayu (2011, 10 November). “Teknologi Jadikan Daur Ulang Menyenangkan”. Diambil dari Viva News: https://www.google.co.id/amp/s/m.viva.co.id/amp/digital/263058-teknologi-jadikan-daur-ulang-menyenangkan diakses pada 17 Juli 2018.

Riady, Erliana (2017, 7 November). “Luar Biasa! Lulusan SD Ini Mampu Daur Ulang Plastik Jadi BBM”. Diambil dari Detik com: https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-3716059/luar-biasa-lulusan-sd-ini-mampu-daur-ulang-plastik-jadi-bbm diakses pada 17 Juli 2018.

, , ,

Pentingnya Hutan Bakau Bagi Lingkungan Hidup

Hutan bakau atau hutan mangrove merupakan salah satu jenis ekosistem alam berupa hutan yang tumbuh di air payau. Hutan bakau memiliki karakteristik yang unik di mana kondisinya tidak memungkinkan banyak makhluk hidup untuk bisa berkembang akibat pasang surut air laut. Hutan bakau banyak tumbuh di wilayah tropis dan subtropis, tepatnya di daerah muara air sungai dan di pesisir laut dikarenakan lokasi tersebut cocok untuk mendukung pertumbuhan tumbuhan bakau. Sebagai negara kepulauan tropis, hutan bakau berkembang dan tumbuh di banyak daerah di sepanjang pantai Indonesia.

Dengan karakteristik yang unik, hutan bakau memegang beberapa fungsi penting. Pertama, hutan bakau berfungsi untuk mencegah abrasi dan instrusi air laut di pesisir pantai. Hutan bakau juga berperan sebagai habitat berbagai organisme pantai, seperti alga, udang dan kepiting. Telah diketahui bahwa perairan di sekitar hutan mangrove memiliki produktivitas yang tinggi karena serasah mangrove yang diekspor ke perairan di sekitarnya, bahkan memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding ekosistem lainnya. Selain itu hutan bakau juga dapat difungsikan sebagai penyedia sumber daya hayati yang memiliki nilai ekonomis seperti kayu bakau. Hutan bakau sebagai tempat tumbuhnya tanaman bakau dapat menjadi penyerap karbon dioksida untuk mengurangi gas rumah kaca. Terakhir, ekosistem hutan bakau mampu menjadi objek wisata yang menguntungkan warga sekitar.

Seiring dengan berkembangnya aktivitas manusia, keberadaan hutan bakau semakin terancam. Di Indonesia, menurut data dari tahun  2011, 48%hutan bakau dalam kondisi rusak sedang dan 23% terkategori rusak berat. Kondisi ini terjadi akibat kegiatan dan pembangunan oleh manusia di wilayah muara sungai dan pesisir pantai. Pembangunan disini dapat berupa pembangunan lahan pemukiman maupun perluasan wilayah pertanian. Pencemaran air oleh limbah maupun minyak di sekitar pantai juga menjadi salah satu penyebab kerusakan hutan bakau Indonesia.

Dengan menyadari peran penting yang dimiliki oleh hutan bakau, maka diperlukan usaha untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut pada ekosistem tersebut. Peraturan yang ketat untuk melindungi hutan bakau dari pembangunan adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan. Selain itu, pemanfaatan wilayah hutan bakau sebagai area wisata seperti yang ada di wilayah Angke, Jakarta Utara, juga dapat dilakukan. Upaya ini selain dapat melindungi kelestarian hutan bakau juga dapat meningkatkan memperkenalkan pentingnya keberadaan hutan bakau kepada masyarakat.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT :

Kurniastuti, Nurhenu. Peranan Hutan Mangrove bagi Lingkungan Hidup. Forum Manajemen vol. 06 no. 1. Hal 1-10

Pramudji (2000). Hutan Mangrove di Indonesia: Peranan Permasalahan dan Pengelolaannya. Oseana, vol. XXV, nomor 1. Hal 13-20

71% of Indonesian Mangrove Forests Damaged. Jakarta Post, 7 Agustus  2011. diakses melalui https://web.archive.org/web/20120118061854/http://www.thejakartapost.com/news/2011/08/07/71-indonesian-mangrove-forests-damaged-minister.html (diakses 2 Juli 2018)

, , , ,

Bencana Lingkungan Hidup

Bencana lingkungan hidup dapat diartikan sebagai bencana lingkungan yang terjadi akibat intervensi kegiatan manusia terhadap alam. Tindakan manusia yang merusak keseimbangan alam dapat berdampak langsung dalam menciptakan bencana lingkungan hidup yang pada akhirnya akan merugikan manusia sendiri. Beberapa contoh tindakan manusia yang dapat menciptakan bencana lingkungan hidup adalah penebangan hutan dan penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan. Bencana lingkungan hidup yang dapat terjadi dari tindakan tersebut antara lain banjir, longsor dan kekeringan.

    Salah satu aktivitas manusia yang mengakibatkan bencana lingkungan hidup adalah penebangan hutan. Hutan memegang peran vital sebagai penjaga keseimbangan lingkungan. Bencana lingkungan hidup yang terjadi akibat dari aktivitas penebangan hutan ini adalah bencana banjir dan longsor. Selain dampak bencana langsung, penebangan hutan akan mengurangi fungsi hutan sebagai paru-paru dunia dan pada akhirnya akan mengakibatkan bencana lain yang lebih besar seperti perubahan iklim.

    Aktivitas lain yang mengakibatkan bencana lingkungan hidup adalah penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan. Penggunaan bahan bakar fosil yang menghasilkan gas rumah kaca menciptakan fenomena pemanasan global. Fenomena ini membawa bencana alam yang lebih serius dan bersifat luas, yakni pemanasan global. Contoh bencana alam akibat dari pemanasan global adalah bencana badai yang meluas dan gelombang panas yang terjadi di banyak tempat. Bencana ini dapat membawa masalah lain yang berdampak pada manusia sendiri seperti kegagalan panen, dan timbulnya korban harta, benda, dan jiwa.

    Untuk mencegah terjadinya bencana lingkungan hidup, diperlukan upaya – upaya untuk mewujudkan kesadaran melestarikan lingkungan hidup. Kesadaran tersebut nantinya akan berbuah dukungan dari berbagai unsur masyarakat. Untuk mencapai hal ini, diperlukan suatu proses pendidikan lingkungan. Pendidikan lingkungan adalah proses mengembangkan kesadaran penduduk dunia akan lingkungan hidup dan upaya aktif untuk mengatasi masalah – masalah yang terkait dengan lingkungan. Pendidikan lingkungan diberikan pada masyarakat dalam semua umur dan semua level. Dengan pendidikan lingkungan diharapkan muncul kesadaran yang tinggi mengenai isu-isu lingkungan sehingga akan mendorong terjadinya perubahan dalam interaksi antara manusia dan alam yang lebih baik, yang pada akhirnya akan menciptakan lingkungan yang lebih lestari.

 

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT:

Suharko. (2014). Pencegahan Bencana Lingkungan Hidup Melalui Pendidikan Lingkungan. Jurnal Manusia dan Lingkungan, Vol. 21 (2): 254-260.

, , , ,

Penghargaan Adipura

Pada artikel Newsletter kali ini, kami akan membahas mengenai penghargaan Adipura. Penghargaan tersebut mungkin sudah akrab di telinga pembaca karena kita sering mendengarnya atau membacanya. Penghargaan tersebut adalah penghargaan kebersihan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam rangka mewujudkan kota yang bersih dan teduh. Penghargaan ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1986 walaupun sempat terhenti pada tahun 1998 dan dilanjutkan pada tahun 2002.

Dalam mewujudkan kota yang bersih dan teduh, KLHK memiliki 21 komponen penilaian untuk kota yang dinilai. Dari 21 komponen tersebut, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) memiliki komponen yang paling besar. TPA berkaitan dengan penimbunan sampah dan pengelolaan limbah. Selain TPA, komponen penilaian lainnya meliputi kondisi pasar, terminal, jalan, sungai, taman, sekolah, rumah sakit, dan komponen lainnya. Selain melihat kondisi fisik, penghargaan ini juga memandang dari sisi sosial-ekonomi, seperti keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang diperbolehkan namun tetap harus rapih dan tertata sehingga menimbulkan rasa aman dan nyaman dalam masyarakat.  KLHK pun terus mengembangkan penghargaan Adipura dengan strategi rebranding Adipura. Dimulai tahun 2017, para bupati/walikota nominator penerima Adipura wajib untuk presentasi di depan Dewan Pertimbangan Adipura, praktisi pengelolaan sampah dan bidang pemasaran, pejabat KLHK, akademisi perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan media massa. Dengan rebranding tersebut, diharapkan Adipura dapat menyelesaikan berbagai isu lingkungan hidup yakni pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau, pemanfaatan ekonomi dari pengelolaan sampah dan RTH, pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengendalian dampak perubahan iklim, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat pertambangan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta penerapan tata kelola pemerintahan yang baik.

Salah satu pemenang Adipura pada tahun 2017 adalah kota Depok. Tugu Adipura Depok dapat ditemukan di Jalan Margonda. Walaupun begitu, keberhasilan kota Depok mendapatkan Adipura dipertanyakan banyak pihak, salah satunya dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Koordinator Advokasi Walhi Jakarta, Chandra Hutasoit, mempertanyakan keberhasilan kota Depok mengingat TPA kota Depok kelebihan kapasitas, serta belum ada pengelolaan sampah berbasis pasar atau komunitas. Pengangkutan sampah melalui truk pun juga masih berantakan. Hal ini menandakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh kota Depok meskipun sudah meraih Piala Adipura.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT:

Arifianto, Bambang. (2017, Agustus 2) “TPA Kelebihan Kapasitas, Kota Depok Raih Piala Adipura”.  Diambil dari Pikiran Rakyat: http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/08/02/tpa-kelebihan-kapasitas-kota-depok-raih-piala-adipura-2017-406580 diakses pada tanggal 5 Juni 2018.

Kata Kota. (2016, Oktober 19) “Inilah Syarat Baru Penghargaan Adipura 2017”. Diambil dari: http://katakota.com/inilah-syarat-baru-penghargaan-adipura-2017/ diakses pada tanggal 5 Juni 2018.

Hasanah, Nurul. (2016, Oktober 7) “21 Komponen Penilaian Adipura”. Diambil dari Portal Resmi Pemerintah Kota Depok: https://www.depok.go.id/07/10/2016/01-berita-depok/21-komponen-penilaian-piala-adipura diakses pada tanggal 5 Juni 2018.

, , ,

Permasalahan Lingkungan di Daerah Kemiri Muka

Pada artikel sebelumnya, newsletter kami telah membahas mengenai gambaran umum daerah Kemiri Muka, salah satu situs kerja program FISIP Environmental Act. Artikel kali ini akan membahas mengenai permasalahan lingkungan yang ada dan upaya perbaikan yang dilakukan di daerah tersebut. Informasi ini kami himpun melalui advokasi yang kami telah lakukan ke Kemiri muka.

 

Salah satu masalah lingkungan yang kerap melanda daerah Kemiri Muka adalah banjir yang terjadi ketika musim penghujan datang. Banjir di daerah Kemiri Muka disebabkan oleh dua penyebab utama, yaitu penggunaan lahan yang tidak sesuai dan pendangkalan sungai yang disebabkan oleh sampah di Kali Ciliwung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penggunaan lahan yang tidak sesuai di daerah Kemiri Muka terjadi dalam beberapa kasus. Pertama, pembangunan daerah pemukiman di daerah resapan. Meningkatnya pertumbuhan penduduk di Kota Depok menyebabkan pembangunan daerah pemukiman warga di daerah yang seharusnya berfungsi sebagai area resapan air. Hal tersebut mengakibatkan banyak resapan air banyak tertutup oleh beton dan menyebabkan tidak terserapnya air hujan. Kedua, alih fungsi wilayah kebun dan sawah yang sebelumnya ada menjadi lokasi pembangunan Depok Mall. Pembangunan pusat perbelanjaan tersebut menyebabkan daerah Kemiri Muka kehilangan area penyerapan air hujan dan aliran alami air ke arah utara.

 

Permasalahan lingkungan kedua penyebab banjir di wilayah ini adalah pendangkalan sungai. Pendangkalan sungai adalah akibat langsung dari pembuangan sampah warga ke sungai. Akibatnya adalah sungai tidak mampu lagi menampung volume air yang seharusnya sehingga ketika musim hujan datang, air akan meluap dan menyebabkan banjir. Pembuangan sampah ke sungai juga disebabkan oleh gerobak sampah yang hanya lewat satu kali per hari. Padahal gerobak sampah tersebut memiliki kapasitas yang kecil sehingga tidak mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beberapa upaya telah dilakukan oleh warga Kemiri Muka untuk mengatasi masalah banjir yang terjadi di daerah mereka antara lain adalah program kerja bakti yang dilakukan setiap dua bulan. Meskipun telah dilakukan, program ini masih kurang efektif karena sebagian besar penduduk bekerja sehingga kekurangan sumber daya manusia. Normalisasi sungai oleh Pemerintah Kota Depok juga telah diusahakan walaupun tidak terealisasi karena tingginya biaya yang dibutuhkan untuk pengerukan sampah.

 

, ,

Notulensi Diskusi Rutin Terbuka “20 Tahun Reformasi: Menilik Kembali Sejarah yang Hilang”

 NOTULENSI

DEPARTEMEN KAJIAN DAN AKSI STRATEGIS

PROGRAM KERJA DIRUTE (DISKUSI RUTIN TERBUKA)

  • Hari, tanggal : Jumat, 11 Mei 2018
  • Waktu : 17.00 – 20.30 WIB
  • Agenda : DIRUTE (Diskusi Rutin Terbuka) dengan tema “20 Tahun Reformasi: Menilik Kembali Sejarah yang Hilang.

 

  • Pembicara 1 : Mas Panji
  • Pembicara 2 : Mas Berly
  • Pembicara 3 : Mas Rein
  • Pembicara 4 : Mas Agus
  • Moderator : Fuadil `Ulum (Ketua BEM FISIP UI 2018)
  • Notulen : Salman Al – Fathan (Staf Departemen Kastrat BEM FISIP UI 2018)

  • Mas Panji

Reformasi 1998 diawali oleh krisis ekonomi nasional yang memicu dislokasi sosial yang serius di dalam masyarakat Indonesia, seperti pengangguran, PHK, dan protes sosial. PHK massal memicu orang untuk beralih profesi menuju sektor informal seperti, pedagang asongan dan pedagang pinggir jalanan. Hal tersebut kemudian memicu gerakan mahasiswa di tahun tersebut sebagai lanjutan dari gerakan mahasiswa 80-an dan 90-an di awal ketika NKK BKK diberlakukan.

Ketika peristiwa 21 Mei 1998 terjadi, mundurnya Soeharto sebagai presiden kemudian menjadi suatu kejadian yang mengagetkan bagi rakyat Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena rakyat dan mahasiswa sebenarnya belum siap untuk menghadapi runtuhnya rezim Soeharto, yang terutama disebabkan oleh adanya fragmentasi agenda diantara kelompok kelompok oposisi pemerintah. Fragmentasi tersebut terjadi diantara kalangan oposisi yang menuntut reformasi terbatas, reformasi total, dan yang mendukung Habibie untuk terus menjabat sebagai Presiden. Kalangan mahasiswa radikal menolak naiknya Habibie menjadi presiden karena dianggap hanya akan memberikan sedikit ruang untuk melaksanakaan reformasi secara sepenuhnya

Perpecahan kepentingan itu pun tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat luas, namun juga di antara elite politik yang berkuasa dalam masa Orde Baru. Hal tersebut disebabkan karena Presiden Soeharto telah melakukan institutional layering dalam masa pemerintahannya sebelum mengundurkan diri, yaitu dengan mengganti rezim militeristiknya di tahun 70-an dan mulai membagi kekuasaan pemerintahannya pada kekuasaan Islam yang berada di bawah pimpinan Habibie. Di kelompok ABRI pun kemudian terjadi perpecahan antara kelompok ‘hijau’ dan kelompok ‘merah putih’.

Dengan adanya fragmentasi agenda diantara kelompok kelompok masyarakat dan elit elit politik di masa reformasi tersebut, terjadilah bounded transition yang menyebabkan berlanjutnya rezim otoritarian dalam system yang demokratis, membuat infrastruktur politik Orba terus bertahan setelah reformasi. Pola transactional transition pun terjadi dengan adanya transaksi dan negosiasi di antara para elit politik, yang terutama terjadi di antara Kelompok Ciganjur (Gus Dur, Megawati, Amien Rais, dan Sri Sultan) dengan Habibie dan Wiranto.

Sebelum Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden, pada tahun 1997 keluar kesepakatan pertama di antara Pemerintah Indonesia dengan IMF, yaitu structural adjustment terhadap rezim Soeharto yang dianggap tidak bekerja secara efisien dan marak dengan KKN. Kesepakatan yang kedua keluar pada Februari 1998, yang masih memiliki fokus untuk mengurangi kekuasaan Soeharto yang bekerja secara tidak efisien.

Pada akhirnya krisis ekonomi membuat pemerintahan tidak dapat membuat banyak pilihan dan harus tunduk pada keputusan IMF. Kondisi tersebut membuat legitimasi pemerintahan pada saat itu dipertanyakan yang juga diperparah oleh friksi politik yang juga terjadi di dalam kabinet. Pak Harmoko yang saat itu menduduki jabatan sebagai Ketua DPR dan dianggap sebagai orang terdekat dengan Pak Harto pun bahkan meminta Pak Harto untuk mundur.

Tahun 1998 – 2004, terjadilah masa kecairan yang memberi kesempatan untuk mereformasi Lembaga dan pemerintahan. Dalam masa tersebut terjadi pembentukan partai politik secara besar besaran yang tak lepas dari kepentingan elite-elite politik di rezim Orba dan kemudian membuat terjadinya hijacking oleh kekuatan oligarki karena tidak terbentuknya oposisi yang dapat menyeimbangkan para elit politik. Pada akhirnya, kehidupan kepartaian, relasi DPR-Presiden, dan pemilu di Indonesia pun kini masih berlangsung penuh dengan masalah. Ide ide lama tentang otoritarianisme masih bertahan hingga sekarang. Hampir seluruh partai di Indonesia tidak memiliki ideologi yang jelas dan hanya menjunjung para elit yang berkecimpung di partai tersebut, lebih mirip kepada fans club daripada sebuah partai politik. Setelah 20 tahun melewati masa reformasi, 6 tuntutan reformasi pun tidak seluruhnya terlaksana, seperti contohnya tuntutan pengadilan Soeharto dan penghapusan Dwifungsi ABRI.

Selain itu, selalu ada agenda agenda Lembaga internasional pada negara negara dunia ketiga, termasuk Indonesia di masa reformasi, yang memasuki Indonesia melalu elit elit politik yang berkuasa. Sejarah selalu digerakkan oleh para elit, oleh karena itulah kita tidak dapat mempercayai kaum elit. Peluang perbaikan kemudian ada pada gerakan dan tekanan yang berasal dari massa yang bersifat kritis terhadap penguasa.

  • Mas Berly

Orde Baru merupakan anti thesis dari Orde Lama, dimana Orde Lama sangat menekankan kebebasan dalam demokrasi sedangkan Orde Baru menekan hal tersebut. Selama 70-an dan 80-an, kritik hanya berasal dari kelompok mahasiswa dan aktivis, sebab kebijakan pemerintah belum menyebabkan krisis yang menyentuh rakyat secara luas. Ketika Institusi ekonomi yang merupakan suprastruktur penunjang rezim Orba runtuh, hal tersebut akhirnya memicu rakyat untuk melawan rezim. Gagalnya rezim orde baru dalam mensejahterakan rakyat akhirnya membuat rakyat bersimpati terhadap gerakan mahasiswa dan gerakan reformasi lainnya.

Sebelum Pak Harto mengundurkan diri dari jabatannya, Pak Harto telah lebih dulu kehilangan kewibawaannya ketika Bu Tien meninggal dunia. Lalu, sempat membuat ia ragu dalam pencalonan diri sebagai Presiden 1998. Hal tersebut menunjukkan bahwa peristiwa reformasi tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor di luar pemerintahan, namun juga oleh factor-faktor di dalam pemerintahan itu sendiri.

Setelah krisis moneter, kondisi ekonomi di Indonesia terus memburuk hingga saat ini. Tuntutan reformasi pun juga menimbulkan masalah masalah baru, seperti pemberlakuan otonomi daerah yang justru menimbulkan Soeharto-Soeharto Kecil di daerah-daerah. Membuat daerah-daerah dikuasai oleh dinasti-dinasti keluarga yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Untuk mengatasi itu, institusi hukum haruslah diperkuat sebagai usaha mensejahterakan rakyat. Mahasiswa kini seharusnya memiliki posisi bukan sebagai pro atau kontra pemerintah, melainkan sebagai pemberi solusi pada masalah yang ada di masyarakat.

  • Mas Rein

Kondisi mahasiswa sebelum reformasi sangatlah apolitis. Mahasiswa didepolitisasi oleh rezim namun juga didoktrin untuk menjadi agent of change. Di FISIP, terdapat kelompok-kelompok studi yang mengkaji dan mengkritik rezim di FISIP. Pada tahun 1998, terbentuklah momentum yang memicu pengorganisiran diri dari kalangan mahasiswa, yang terutama berasal dari kelompok kelompok studi yang telah memiliki basis massa.

Orde Baru telah membuat mahasiswa menjadi golongan yang ter-eksklusifkan dari masyarakat pada umumnya. Namun ketika peristiwa 21 Mei 1998 terjadi, UI merupakan satu satunya yang membawa massa yang berasal dari masyarakat yang di luar dari golongan mahasiswa. Kerusuhan 1998 merupakan metafora bagi kondisi sosial politik Indonesia saat ini yang dibakar, dibuat membenci satu sama lain, dan menyalahkan Cina. Narasi orde baru masih berjalan hingga sekarang dalam artian pemerintahan yang feodalistis, militeristik, dan anti-demokratis. Bahkan sekarang pun terdapat kerinduan masyarakat terhadap rezim yang militeristik. Kaum elit yang menggunakan kekuatan rakyat untuk membawa kepentingannya masing masing pun masih berlanjut hingga saat ini.

  • Mas Agus

Hampir seluruh peristwa sejarah Indonesia digerakkan oleh pemuda, lebih khusus lagi oleh mahasiswa. Contohnya STOVIA, Gerakan Kemerdekaan 1945, TRIP (Tentara Republik Indonesia Pemuda), Angkatan 1966, dan juga Reformasi. Di tahun 1998, krisis ekonomi menghasilkan turbulensi yang menyebabkan masalah sosial dan politik lebih lanjut di dalam masyarakat Indonesia. Naiknya harga dollar kemudian merupakan salah satu faktor utama terjadinya gerakan gerakan reformasi.

Peristiwa penjarahan 1998 sebenarnya dapat memberikan refleksi bagi masyarakat Indonesia bahwa penjarahan yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu hakikatnya tidak berbeda dengan korupsi yang dilakukan oleh elit politik pada masa itu; yang sama sama mencuri dan mengambil sesuatu yang bukan hak para pelakunya.

Selain itu, kekuasaan Soeharto merupakan kekuasaan yang sangat rapih dan efisien dalam menjaga kekuasaannya. Masyarakat di masa Orde Baru merupakan masyarakat yang pola dan karakter-nya diseragamkan oleh rezim penguas. Hal tersebut dikarenakan media massa di masa orde baru yang sangat dikendalikan oleh rezim yang berkuasa. Akses masyarakat terhadap informasi di masa reformasi sangatlah terbatas, hyang oleh karenanya Orde BAru berhasil menyeragamkan masyarakat Indonesia

  • Sesi Tanya Jawab

Dimas Dwiputra (FIB)          :           “Bagaimana pandangan luar negeri (terutama Amerika) terhadap peristiwa Reformasi? Bagaimana proses pengorganisasian dan konsolidasi massa saat reformasi?”

Mas Panji                               :           “Sejak 1945 Dunia terjadi menjadi Blok Barat dan Blok Timur. Kedua Blok tersbut berupaya untuk mendapatkan sekutu sebanyak banyaknya yang memiliki sumber daya alam untuk kepentingan masing masing Blok. Amerika memiliki National Security Council yang memiliki fungsi untuk mengurus perang dingin dan mengawal kepentinganna di dunia internasional. Negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan oleh kedua Blok Barat dan Timur. Amerika memiliki kepentingan untuk menjaga kepentingan perusahaan perusahaannya di Indonesia pasca-kolonialisme. Ketika UU PMA disahkan pada tahun 1965, perusahaan-perusahaan Amerika memiliki ruang untuk memasuki Indonesia, termasuk freeport. Pinjaman luar negeri Indonesia kepada IMF merupakan pinjaman yang secara tak langsung merupka pinjaman kepada amerika. Pada masa perang dingin, Amerika membutuhkan rezim yang dapat diatur oleh dirinya untuk melindungi kepentingan amerika. Usai perang dingin, terjadi pergeseran politik didalam rezim Soeharto dimana ia memberikan ruang bagi kelompok islam untuk berada didalam kekuasaan, sehingga membuat amerika merasa kepentingannya di Indonesia mulai terancam. Ada sekitar 200 perusahaan minyak di Indonesia, yang seluruhnya merupakan perusahaan asing. Hal tersebut membuat kita sebagai pemilik minyak justru tak dapat mengontrol harga minyak negeri sendiri. Caltex berubah menjadi chevron pada tahun 2007 karena pemerintah Venezuela naik banding.AS ingin menjaga subordinasi.”

Mas Rein                                :           “Yang paling penting dalam sebuah gerakan adalah pengorganisasian massa. Sebuah gerakan dapat menjadi masif dipicu ketika bertemu dengan momentum yang tepat. Sebuah gerakan yang dipimpin oleh golongan tua memiliki pandangan yang konservatif, sementara yang memiliki pandangan progresif hanyalah golongan muda.”

Kamerad Che Nurul             :           “Apa yang menyebabkan para elit politik yang berkuasa di masa Orde Baru tetap bertahan pasca reformasi?”

Mas Panji                               :           “Secara teoritis, bertahannya elit dalam kekuasaan disebabkan oleh pola transisi yang terjadi dalam perubahan tersebut. Di masa reformasi, pola perubahan tersebut terjadi dengan pola negotiated/transactional transition. Dimana terjadi transaksi kepentingan tersebut terjadi di antara elite ciganjur dan kelompok Habibie dan wiranto pada saat pemilu. Pola transisi tersebut memberikan ruang bagi para elite politik yang berkuasa di rezim orde baru untuk terus bertahan pada masa pasca-reformasi. Contoh keberlanjutan tersebut hadir dalam undang undang amandemen dan undang undang partai politik yang dibentuk pasca-reformasi. Selain itu, reformasi merupakan upaya rezim rezim demokrasi menyerap nilai nilai otoritarian, yang berasal dari para elit lokal, elit militer, serta elit politik dari golongan fundamentalis islam. Selain pola transisi tersebut, berlanjutnya kekuasaan elit politik masa orba disebabkan oleh belum solid-nya kelompok oposisi pada saat reformasi.”

Tegar                                      :           “Adakah elite lit politik yang mencoba mengambil momentum reformasi bersama mahasiswa? Apa usaha yang dilakukan mahasiswa untuk mengawal 6 tuntutan reformasi 1998?”

Reinhard                                :           “Kepentingan elit yang mencoba untuk bercampur dan menitipkan agenda dalam gerakan mahasiswa pasti selalu ada. Yang menjadi penting adalah bagaimana kita menempatkan diri dalam kepentingan kepentingan yang memasuki gerakan tersebut.”

Mas Agus                               :           “Tidak semua tuntutan pada zaman reformasi terpenuhu, karena oposisi tidak solid, pola transisi orba ke reformassi terjadi negosiasi menghasilkan demokrasi substantial. Mas panji blg kemajuan reformasi hanya 20%. Aktor2 orba masih hidup. Mas rinhard blg gerakan tidak langsung besar tp melalui gerakan kecil dari kampus. Melihat pola untuk kedepannya.”

 

Narahubung: Ican (085719899169)

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM FISIP UI 2018
Nyalakan Asa, Bangkitkan Karya