, , , , , ,

Apa Kabar Rupiah?

Apa Kabar Rupiah?

Posisi nilai tukar Rupiah belakangan ini sedang mengalami depresiasi atau penurunan nilai. Data terakhir yang dihimpun pada tanggal 19 September 2018 menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dollar berada pada angka Rp14.880. Sebenarnya, hal apakah yang menyebabkan Rupiah terdepresiasi hingga menyentuh titik terendah selama beberapa tahun terakhir?

Pertama, Rupiah melemah karena karena penguatan Dollar AS terhadap hampir semua mata uang dunia. Hal ini disebabkan karena bank sentral AS menaikkan suku bunga obligasi mencapai 3,03%. Bukan hanya itu, pada Triwulan II 2018 pemintaan valuta asing terus meningkat guna membayar utang luar negeri, dividen, dan impor. Badan Pusat Statistik pun menyatakan neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit 1,02% pada bulan Agustus. Hal ini dipicu tak lain oleh penurunan ekspor pada sektor migas maupun non-migas. Ekspor migas turun 3,27% secara bulanan dari US$1,43 miliar menjadi US$1,38 miliar. Sementara itu, pada periode yang bersamaan, ekspor non-migas turun 2,86% dari US$14,86 miliar menjadi US$14,43 miliar. Penurunan ekspor non-migas yang paling besar dialami oleh sektor pertambangan dan lainnya, yaitu sebesar -13,58% menjadi US$2,35 miliar.

Karena hal-hal di atas, banyak dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat. Beberapa di antaranya: Pertumbuhan ekonomi yang melambat, PHK besar-besaran, inflasi bahan pangan, hingga menurunnya daya beli masyarakat. Lantas dengan keadaan yang demikian, bagaimana respon pemerintah guna memstabilkan kembali kondisi perekonomian di Indonesia? Sejauh ini, pemerintah mengusahakan untuk mendorong ekspor dan secara bertahap menekan impor guna mengembalikan neraca perdagangan. Selain itu, untuk mendukung penguatan Rupiah kembali, pemerintah mendongkrak pengembangan pariwisata melalui program “Bali Baru”, yaitu pengembangan 10 destinasi wisata di luar Bali. Hingga saat ini pemerintah masih memfokuskan diri pada empat kawasan: Mandalika di NTB, Labuan Bajo di NTT, Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan Danau Toba di Sumatra Utara. Selain itu, tak lupa juga peran krusial Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga sebagai strategi penguatan Rupiah.

Namun ternyata, beberapa kalangan masyarakat dapat memanfaatkan momentum turunnya nilai Rupiah terhadap Dollar ini. Salah satunya, depresiasi Rupiah menguntungkan pelaku ekspor karena keuntungan yang didapat lebih besar. Sektor pariwisata pun dapat berkembang dengan pesat sebab wisatawan asing ke Indonesia akan bertambah lebih banyak karena biaya yang semakin murah.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT: 

Fauzia, M. (2018, Agustus 28). Dongkrak Wisata, Pemerintah Manfaatkan Momentum Depresiasi Rupiah. Diambil dari Kompas: https://ekonomi.kompas.com/read/2018/08/28/203929826/dongkrak-wisata-pemerintah-manfaatkan-momentum-depresiasi-rupiah. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

Ismanto, H. W. (2018, Agustus 18). Menyelamatkan Rupiah. Diambil dari Kompas: https://kompas.id/baca/ekonomi/2018/08/18/menyelamatkan-rupiah/. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

Melani, A. (2018, September 1). Ini Penyebab Rupiah Sentuh Level Rendah. Diambil dari Liputan 6: https://www.liputan6.com/bisnis/read/3633784/ini-penyebab-rupiah-sentuh-level-terendah. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

R. S. A. (2018, Mei 30). Kuatkan Nilai Tukar Rupiah, BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%. Diambil kembali dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia: https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/kuatkan-nilai-tukar-rupiah-bi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-75/. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

RSA, IG, IND. (2018, September 19). Pemerintah Bertekad Dorong Ekspor. Diambil dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia:https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/pemerintah-bertekad-dorong-ekspor/ Diakses pada tanggal 21 September 2018.

Tim CNN Indonesia. (2018, September 17). BPS: Neraca Perdagangan Agustus 2018 Masih Defisit. Diambil dari CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180917115330-92-330747/bps-neraca-perdagangan-agustus-2018-masih-defisit. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

Widi, H. Rupiah!. Diambil dari Kompas: https://kompas.id/baca/ekonomi/2018/04/30/rupiah-2/. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

, , ,

Pentingnya Pengolahan Sampah Organik

Food waste atau sampah makanan adalah jenis sampah yang berasal dari sisa makanan yang terbuang. Sampah makanan ini tidak hanya berasal dari sisa makanan yang telah dikonsumsi, tetapi juga berasal dari sampah makanan saat diproduksi. Pada akhirnya, masalah sampah makanan dapat membawa dampak buruk pada lingkungan dan manusia, sehingga harus segera diatasi.

Selain itu, sampah makanan juga dapat bersumber dari empat proses. Yang pertama adalah di level produksi dimana sampah makanan dapat disebabkan oleh cuaca buruk, serangan hama, dan permasalahan distribusi. Kedua, sampah makanan berproses dari proses pengolahan produk makanan. Ketiga, yang paling umum terjadi adalah saat penjualan dimana makanan yan tidak laku terjual akhirnya menjadi sampah makanan. Dan yang terakhir adalah saat proses konsumsi dimana makanan yang tidak termakan akhirnya berakhir di tempat sampah.

Sampah makanan menjadi salah satu penyumbang besar pembuangan sampah masyarakat. Menurut Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Jakarta pada tahun 2011 dari  total 7.500 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, 4.050 ton diantaranya merupakan sampah sisa makanan. Jumlah tersebut jika dibandingkan maka setara dengan 667 gajah afrika dan mampu memberi makan hampir 11% populasi Indonesia atau sekitar 28 juta penduduk miskin. Penyumbang terbesar sampah makanan bersumber dari rumah tangga. Permasalahan ini bukanlah masalah yang terjadi hanya di Indonesia. Menurut Friends of Earth, masyarakat dunia menghasilkan 1,3 ton sampah makanan setiap tahunnya.

Besarnya angka sampah makanan yang terbuang disebabkan oleh tiga penyebab utama. Pertama, konsumsi masyarakat yang berlebihan. Konsumsi makanan yang tidak disertai dengan kesadaran lingkungan akan memperbanyak sampah makanan yang dihasilkan. Kedua, pengelolaan sampah yang buruk. Adanya sampah makanan merupakan hal yang tidak bisa dicegah, tetapi pengelolaan sampah makanan dengan efektif dapat mengurangi jumlah sampah makanan yang terbuang. Terakhir,belum adanya regulasi untuk mengatur dan mengawasi pelaku food waste. Memang beberapa restoran sudah menerapkan biaya tambahan jika ada sampah makanan yang tersisa. Namun, itu hanya diterapkan di beberapa restoran saja sedangkan penyumbang sampah makanan terbesar tidak hanya restoran, ada juga hotel, katering, supermarket, gerai ritel, dan rumah tangga.

Sampah makanan yang begitu banyak merupakan permasalahan lingkungan yang serius. Sampah makanan dapat mencemari tanah dan air disekitarnya dan mengakibatkan turunya tingkat kesuburan tanah dan mengancam makhluk hidup lainnya. Selain tanah dan air, sampah makanan yang bersifat organik akan menghasilkan gas metana yang berdampak langsung pada fenomena pemanasan global. Setiap sampah makanan yang terbuang berarti juga menyia-nyiakan sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya dan bahkan berkemungkinan untuk menyebabkan ancaman ekonomi yang disebabkan oleh krisis pangan karena makanan yang terus berakhir di tempat sampah.

Untuk mengatasi masalah sampah makanan diperlukan pengelolaan sampah dan manajemen pribadi yang baik. Pengelolaan sampah yang baik dapat mengurangi dampak pencemaran yang disebabkan sampah makanan. Selain itu, jika pengelolaan sampah sudah baik, sampah organik dapat dimanfaatkan untuk membuat kompos, atau bahkan diubah menjadi sumber energi melalui fasilitas Intermediate Treatment Facility.

Manajemen pribadi bersumber dari diri sendiri. Kita harus sadar akan kemampuan kita setidaknya untuk menghabiskan makanan yang kita beli atau pesan. Jangan membeli makanan lebih dari konsumsi kita. Jika pun sudah terlanjur membeli lebih dan diluar daya konsumsi kita, maka sumbangkanlah kepada orang – orang yang lebih membutuhkan sebelum kita mengonsumsinya. Hal tersebut lebih mulia dibandingkan membuang makanan tersebut ke tempat sampah.

 

Referensi

Idris, Muhammad. “13 Juta Ton Makanan Terbuang Percuma di RI Setiap Tahun” Detikcom, 11 Oktober 2016. Diperoleh dari https://finance.detik.com/wawancara-khusus/d-3317570/13-juta-ton-makanan-terbuang-percuma-di-ri-setiap-tahun pada 19 Agustus 2018.

Kresna, Mawa. “DKI Hasilkan 4 Ribuan Ton Sampah Makanan Per Hari” Tirtoid, 22 Februari 2017. Diperoleh dari https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/dki-hasilkan-4-ribuan-ton-sampah-makanan-per-hari-cjti pada 19 Agustus 2018.

“4 Sources of Food Waste”. Ecodyger, 6 April 2015. Diperoleh dari http://ecodyger.com/the-4-sources-of-food-waste/ pada 19 Agustus 2018

www.zerowasteweek.co.uk

Friendsoftheearth.uk

, , , , , ,

PRESIDENTIAL THRESHOLD, PERLUKAH?

PRESIDENTIAL THRESHOLD, PERLUKAH?

Pada Juni 2018 lalu, uji materi Pasal 222 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum akhirnya dilakukan oleh MK atas permohonan kembali dari aliansi masyarakat non-partisan, Gerindra, Demokrat, PAN, dan PKS. Mereka menuntut presidential threshold menjadi 0% agar kedaulatan tertinggi tetap berada di tangan rakyat, yang dijamin oleh UUD 1945, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengusung pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Sebelumnya, MK telah menolak untuk uji materi pasal tersebut sehingga syarat pencalonan capres dan cawapres belum berubah.

Menurut Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% dari suara sah secara nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya. Ini merupakan dasar aturan pencalonan capres dan cawapres yang disebut sebagai presidential threshold atau ambang batas pencalonan capres dan cawapres.

Ditinjau dari pengertian tersebut, partai politik dituntut untuk saling berkoalisi untuk mengusung pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019 karena tidak ada partai politik di pemilu legislatif tahun 2014 yang mendapatkan kursi lebih dari atau sama dengan 20% dari keseluruhan kursi DPR. Peneliti SMRC Sirojudin Abbas menyatakan bahwa presidential threshold akan berdampak pada penyederhanaan jumlah partai di parlemen disebabkan partai-partai yang tidak lolos ambang batas akan tersingkir dan kemudian kekuatan politik terakumulasi hanya di beberapa partai.

Menanggapi hal tersebut, Gerindra, Demokrat, PAN, dan PKS, serta 12 orang perwakilan aliansi masyarakat nonpartisan yang terdiri dari sejumlah aktivis, pakar hukum, hingga eks pimpinan KPK dan KPU telah meminta agar presidential threshold 20-25% ditiadakan. Kali ini, mereka juga membawa sembilan argumentasi yang berbeda dari permohonan sebelumnya, seperti dikutip dari Kompas.com, yaitu:

  • Pasal 222 UU 7/2017 mengatur “syarat” capres-cawapres bertentangan dengan Pasal 6A ayat (5) UUD 1945 yang hanya mendelegasikan pengaturan “tata cara”.
  • Pengaturan delegasi “syarat” capres ke UU ada pada Pasal 6 ayat (2) UUD 1945 dan tidak terkait pengusulan oleh parpol, sehingga pasal 222 UU 7/2017 yang mengatur “syarat” capres oleh parpol bertentangan dengan Pasal 6 ayat (2) UUD 1945.
  • Pengusulan capres dilakukan oleh parpol peserta pemilu yang akan berlangsung bukan “Pemilu anggota DPR sebelumnya”, sehingga pasal 222 UU 7/2017 bertentangan dengan Pasal 6A ayat (2) UUD 1945.
  • Syarat pengusulan capres oleh parpol seharusnya adalah “close legal policy” bukan “open legal policy”, sehingga pasal 222 UU 7/2017 bertentangan dengan Pasal 6A ayat (2) UUD 1945.
  • Penghitungan presidential threshold berdasarkan hasil pemilu DPR sebelumnya adalah irasional dan karenanya pasal 222 UU 7/2017 bertentangan dengan pasal 6A ayat (2) UUD 1945.
  • Penghitungan presidential threshold berdasarkan hasil pemilu DPR sebelumnya telah menghilangkan esensi pelaksanaan pemilu dan karenanya pasal 222 UU 7/2017 bertentangan dengan Pasal 22E ayat (1) dan (2) UUD 1945.
  • Presidential threshold menghilangkan esensi pemilihan presiden karena lebih berpotensi menghadirkan capres-cawapres tunggal, sehingga bertentangan dengan pasal 6A ayat (1), (3), dan (4) UUD 1945.
  • Kalaupun pasal 222 UU 7/2017 dianggap tidak langsung bertentangan dengan konstitusi, quod non, tetapi potensi pelanggaran konstitusi sekecil apapun yang disebabkan pasal tersebut harus diantisipasi Mahkamah agar tidak muncul ketidakpastian hukum yang bertentangan dengan pasal 28D ayat (1) UUD 1945.
  • Pasal 222 UU 7/2017 bukanlah “constitutional engineering”, tetapi justru adalah “constitutional breaching”, karena melanggar Pasal 6 ayat (2), Pasal 6A ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), Pasal 22E ayat (1) dan (2), serta Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.

Pilpres tahun 2019 mendatang dilaksanakan serentak, dengan maksud tidak didahului pemilu legislatif tidak selayaknya yang dilaksanakan pada tahun 2014. Akibatnya, presidential threshold yang digunakan adalah hasil pemilu legislatif 2014. Tahun 2014 hingga saat ini, kursi DPR didominasi oleh partai politik pendukung pemerintah: PDI-P, Golkar, Nasdem, PKB, PPP, Hanura, dan PAN (68,9% dari keseluruhan kursi DPR).

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT: 

Kuwado, Fabian Januarius (2018, 21 Juni). “”Presidential Threshold” Kembali Digugat ke MK, Ini Argumentasinya” Diambil dari Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2018/06/21/18010761/presidential-threshold-kembali-digugat-ke-mk-ini-argumentasinya diakses pada 11 Agustus 2018

M, Jay Akbar dan Ridhoi, M. Ahsan (2017, 5 Juli). “Sirojudin Abbas (SMRC): Presidential Threshold Tak Relevan Jika Pemilu 2019 Serentak” Diambil dari Tirto.id: https://tirto.id/presidential-threshold-tak-relevan-jika-pemilu-2019-serentak-crZ5 diakses pada tanggal 11 Agustus 2018

https://nasional.kompas.com/read2018/01/11/16080101/melihat-peta-politik-pilpres-2019-pascaputusan-mk-soal-presidential-threshold

https://metrotvnews.com/amp/nN98v6GK-ini-daftar-perolehan-kursi-dpr-ri-tiap-parpol

, , , , ,

SOSMED ADALAH CANDU

SOSMED ADALAH CANDU

Di era konvergensi media ini, media sosial tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Khususnya masyarakat Indonesia di kalangan anak muda. Hal ini ditunjukan dengan tingginya angka penggunal media sosial di Indonesia yang menyentuh angka 130 juta jiwa dan rata rata menghabiskan 3 jam 23 menit dalam sehari unutk mengakses media sosial. Dari angka tersebut, terbagi menjadi beberapa bagian aktivitas di media sosial, dari melihat halaman miliki teman, melihat postingan teman, melihat tayangan microselebrity, dan juga membuat postingan sendiri. Pada tulisan kali ini, fokus pada bagian membuat postingan di media sosial.
Sebelum masuk pembahasan lebih dalam, sebelumnya perlu masuk terlebih dahulu pada konsep yang menyebabkan manusia menggunakan media sosial, yaitu FOMO. Mengutip dari tulisan Andrew Przybylski dalam artikel Telegraph.co.uk FOMO atau Fear Of Missing Out yaitu suatu kondisi dimana merasa takut kehilangan informasi atau pengalaman yang orang lain bisa dapatkan. Fenomena ini yang kemudian mendorong manusia untuk terus memantau perkembangan informasi yang ada di sosial media, baik dari teman temannya, atau dari publik figure di media sosial.

Salah satu wujud ketakutan merasa “tertinggalnya” manusia di media sosial ditunjukan dengan postingan yang diunggah melalui akun media sosial pribadinya. Dimulai dari posting sesuatu yang sedang “viral” di media sosial, hingga membuat postingan kegiatan sehari hari ke dunia maya. Hal ini yang marak terjadi di kalangan anak muda Indonesia, khususnya yang tinggal di kota besar. Dimana banyak ditemukan cafe atau restoran dengan tampilan menarik, dan diisi oleh sekumpulan anak muda yang sibuk memainkan smartphonenya walaupun sedang berkumpul dengan teman temannya di satu meja. Hal ini menunjukan motivasi mendatangi tempat makan “viral” yaitu agar tidak “tertinggal” dengan orang lain sehingga mengajak temannya untuk mendatangi tempat tersebut.

Selain itu juga, fenomena ini juga terjadi saat ada teman yang berulang tahun. saat ada yang berulang tahun, pasti akan ada kegiatan memberikan kejutan untuk yang sedang berulang tahun. Namun lucunya, momen tersebut tak lagi “sakral” sebab kegiatan memberikan kejutan ulang tahun, kini hanya dijadikan sebagai konten publikasi media sosialnya. Di mana biasanya saat ada yang ulang tahun, ada saja orang yang merekam momen itu dengan smartphone-nya, lalu saat temannya sudah selesai meniup lilin, segerombolan anak muda tersebut mulai membuka media sosialnya dan mengunggah momen tersebut ke dunia maya.

Contoh di atas menunjukkan dimana kondisi pertemanan saat ini, mengarah pada berubahnya teman menjadi konten publikasi media sosial. Di mana fenomena FOMO mendorong manusia untuk terus “terhubung” dengan media sosial, apapun caranya, apapun biayanya walaupun itu teman sendiri. Semoga dengan adanya tulisan ini, mengingatkan kita semua bahwasanya jangan sampai mengubah hubungan pertemanan menjadi konten publikasi saja. Ada hal yang hanya perlu dinikmati saja di dunia nyata tanpa perlu membagikannya di sosial media.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT: 

Blair, Linda (2017, 4 Maret). “Mind Healing: How to conquer your FOMO (Fear of Missing Out)” Diambil dari The Telegraph: https://www.telegraph.co.uk/health-fitness/body/mind-healing-conquer-fomo-fear-missing/ diakses pada 11 Agustus 2018

Keen, Andrew (2011). The Second Generation of the Internet has arrived and it’s worse than you think’. The digital divide: arguments for and against Facebook, Google, texting, and the age of social networking. Ed. Mark Bauerlein. New York: Jeremy P. Tarcher/Penguin. pp242–249.

Pertiwi, Wahyunanda Kusuma (2018, 1 Maret). “Riset Ungkap Pola Pemakaian Medsos Orang Indonesia” Diambil dari Kompas.com: https://tekno.kompas.com/read/2018/03/01/10340027/riset-ungkap-pola-pemakaian-medsos-orang-indonesia diakses pada 11 Agustus 2018

Siegel, Lee (2008). ‘Being There’. Against the machine : Being human in the age of the electronic mob. New York: Spiegel & Grau. pp 138–156.

, , ,

Krusialnya Kampanye #NoPlasticStraws

Kamu mungkin sudah pernah mendengar mengenai kampanye #NoPlasticStraws baik melalui media sosial atau media lainnya. Jika belum, kampanye #NoPlasticStraws merupakan kampanye yang mendukung pembatasan penggunaan sedotan plastik. Lalu, bukankah itu hanya sampah berukuran kecil?

Menurut data penelitian Divers Clean Action, pemakaian sedotan plastik di Indonesia setiap harinya mencapai 93,2 juta batang atau jika dibentangkan jaraknya sama seperti perjalanan lintas benua Jakarta – Mexico City! Indonesia juga salah satu yang berkontribusi besar dalam sampah plastik dunia, yaitu sebesar 10 persen. Salah satu sampah yang ‘merajalela’ di lautan Indonesia salah satunya adalah sampah plastik. Hal ini dibuktikan dengan rekaman penyelam asal Inggris, Rich Horner, di ‘lautan plastik’ Bali. Oleh karena itu, kampanye #NoPlasticStraws merupakan hal yang penting untuk mengurangi sampah di lautan Indonesia dan dunia.

Kampanye #NoPlasticStraws juga berpengaruh pada lingkungan dalam jangka panjang, terutama lingkungan laut. Mungkin kita hanya memakai sedotan selama 5 menit, namun sedotan tersebut baru akan hancur 400-500 tahun yang akan datang! Jika tidak dihentikan sekarang, maka diprediksi pada tahun 2050 akan lebih banyak plastik di lautan dibanding jumlah ikan. Selain itu 71% burung laut dan 30% kura-kura memiliki plastik dalam makanan mereka dan dapat menghambat pernafasan dan pencernaan mereka bahkan bisa berujung kematian.

Lantas, bagaimana kita menyukseskan #NoPlasticStraws? Langkah pertama tentu saja membuat komitmen pada diri sendiri. Jika masih bisa minum tanpa sedotan plastik, maka minumlah tanpa sedotan plastik. Jika terpaksa menggunakan sedotan plastik, kalian bisa mengumpulkan bekas sedotan kalian untuk didaur ulang menjadi barang yang berguna. Jika komitmen sudah terbentuk, sosialisasikanlah pada masyarakat luas utamanya pada restoran yang masih menggunakan sedotan plastik.

Kamu dapat memberikan pemahaman pada mereka bahwa masih banyak bahan baku lain yang bisa digunakan sebagai sedotan seperti bambu, dan logam. Walaupun lebih mahal dibanding sedotan plastik, namun hal tersebut sebagai wujud dari upaya melindungi lingkungan hidup. Bahkan, saat ini sedang dikembangkan sedotan yang bisa dimakan di Amerika untuk mengurangi sampah sedotan plastik.

Hal terkecil yang kita bisa lakukan sekarang, bisa berarti langkah terbesar di masa yang akan datang. Ayo, wujudkan #NoPlasticStraws!

 

Refrensi:

Langone, Alix. “All The Major Companies That Are Banning Plastic Straws”. Timeinc, 18 Juli 2018. Dikutip dari https://www.google.co.id/amp/amp.timeinc.net/time/money/5333715/starbucks-hyatt-ban-plastic-straws pada 5 Agustus 2018.

Peters, Adele. “After You Finish Your Drink, You Can Eat This New Edible StrawFastCompany, 12 Mei 2017. Dikutip dari https://www.google.co.id/amp/s/amp.fastcompany.com/40502404/after-you-finish-your-drink-you-can-eat-this-new-edible-straw pada 5 Agustus 2018.

Roughneen, Simon. “British diver exposes sea of plastic rubbish off Bali coast”. The Telegraph, 6 Maret 2018. Dikutip dari https://www.google.co.id/amp/s/www.telegraph.co.uk/news/2018/03/06/british-diver-exposes-sea-plastic-rubbish-bali-coast/amp/ pada 5 Agustus 2018.

Tashandra, Nabilla. “Lima Alternatif Pengganti Sedotan Plastik, Mau Coba?”. Kompas, 3 Juli 2018. Dikutip dari https://lifestyle.kompas.com/read/2018/07/03/201521420/lima-alternatif-pengganti-sedotan-plastik-mau-coba pada 5 Agustus 2018.

No Straw Please : The Last Plastic Straw”. Plasticpollutioncoalition. Dikutip dari http://www.plasticpollutioncoalition.org/no-straw-please/ pada 5 Agustus 2018.

“Understanding Plastic Pollution” For A Strawless Ocean. Dikutip dari https://www.strawlessocean.org/ pada 5 Agustus 2018.

 

Liputan Acara Hari Seni Rupa 2018

Jumat, 18 Mei 2018

Rangkaian acara Hari Seni Rupa telah selesai dilaksanakan. Hari Seni rupa merupakan program kerja dari departemen seni budaya BEM FISIP UI 2018 yang berfokus pada pengenalan seni rupa di lingkungan kampus FISIP UI. Tema yang dibawa pada Hari Seni Rupa 2018 adalah ”Interasyik”.

Dalam penyelenggaraan Hari Seni Rupa telah selesai dilaksanakan 4 mata acara. 4 mata acara tersebut antara lain : Nonton Asyik, Sayembara Ide, Kelas Rupa, dan Pameran Karya. Masing-masing mata acara tersebut saling terkait. Dalam penyelenggaraan mata acara yang diadakan, Hari Seni Rupa bekerja sama dengan Komunitas Jakarta32c.

Mata acara pertama diadakan adalah Nonton Asyik. Nonton Asyik diadakan pada tanggal 3 April 2018 di gedung H.301. Pada acara Nonton Asyik diadakan sesi nonton film dan diskusi. Film yang dipilih pada acara nonton asyik adalah “Cutie and the boxer” arahan sutradara Zachary Heinzerling. Film tersebut bercerita tentang bagaimana kehidupan dari pasangan seniman seni rupa yang tetap berkarya ditengah permasalahan yang mereka hadapi. Setelah sesi nonton bersama, diadakan sesi diskusi dengan pembicara dari Jakarta32c yaitu Ahmad Fuadillah dan Viandira Athia dan sebagai moderator Mutiara Choiriyah.

Setelah acara Nonton Asyik diadakan Sayembara Ide. Sayembara Ide adalah pengumpulan ide calon peserta dari Hari Seni Rupa yang dilaksanakan pada rentang waktu 4-11 april 2018. Ide yang dikumpulkan berkaitan dengan tema yang dibawa oleh hari seni rupa yaitu “Interasyik”. Pengumpulan ide dilakukan secara online pada link yang telah diberikan oleh panitia hari seni rupa. Pada Sayembara ide didapatkan peserta berjumlah 17 orang yang selanjutnya akan mengikuti kelas rupa.

Setelah Sayembara Ide, peserta diberikan pengetahuan mengenai seni rupa melalui Kelas Rupa. Kelas Rupa diadakan secara berkala dalam bentuk 3 kelas. Bentuk kelas yang diberikan berupa diskusi dengan materi yang disampaikan oleh Jakarta32c. Pada Kelas Rupa pertama diadakan pada tanggal 16 April 2018 di Gedung H.402 pada pukul 18.00 – 20.30 WIB. Fokus pada Kelas Rupa pertama ialah mengenal tentang seni rupa kontemporer. Kemudian pada tanggal 23 April 2018, dilaksanakan kelas rupa kedua. Kelas Rupa kedua dilaksanakan di Sekretariat Bersama (SEKBER) FISIP UI pada pukul 18.00 – 20.30 WIB. Di Kelas Rupa kedua berfokus pada eksplorasi Medium Seni Rupa. Para peserta diajak untuk berkeliling disekitaran FISIP UI dengan berkelompok. Pada kelas rupa kedua dengan adanya sesi eksplorasi, peserta dapat memilih medium apa yang akan dipilih dalam membuat karya. Kelas Rupa ketiga diadakan pada tanggal 25 April 2018 di Sekretariat Bersama (SEKBER) pada pukul 18.00 – 20.30 WIB. Pada kelas rupa ketiga diadakan presentasi ide karya oleh peserta mengenai karya yang akan mereka buat dan dipamerkan di Pameran Karya Hari Seni Rupa. Setelah selesainya kelas rupa 3, peserta yang telah menentukan karya yang akan dibuat didampingi oleh LO masing-masing. Waktu pengerjaan karya oleh peserta diberikan dalam rentang waktu 19 hari.

Setelah mengikuti serangkaian acara dari sayembara ide hingga kelas rupa, pada tanggal 15 – 18 Mei diadakan Pameran Karya Hari Seni Rupa. Pada pameran tersebut karya-karya peserta yang telah mengikuti serangkaian acara dari Sayembara ide hingga Kelas rupa 3 ditampilkan ke khalayak umum. Tempat Pameran Karya di Perpustakaan Pusat (PERPUSAT) dan dibuka dari jam 11.00 – 17.00 WIB. Pada pameran Hari Seni Rupa terdapat infografis mengenai tema yang dibawa, nama peserta, dan video dari para peserta Hari Seni Rupa. Selama rentang waktu 3 hari pameran, total pengunjung yang datang untuk melihat Pameran Karya Hari Seni Rupa berkisar 823 pengunjung.

Diharapkan dengan adanya Hari Seni Rupa iklim kesenian di lingkungan kampus FISIP UI khususnya seni rupa dapat berkembang dan menjadi awal yang baik dalam usaha mengembangkan bakat seni rupa  Mahasiswa FISIP UI.

#SiapSenangSenang

Penulis : Rivaldo Herman (dengan ubahan oleh Muhamad Rivo Al Fahrezy Mandahiling)

Dokumentasi : Fauzan F, M. Rakyan Farrasani, Ashiva Aulia, Chomsky, Marchi, Muhammad Wildan, dan Syafika Erisa.

Foto-foto Hari Seni Rupa 2018 dapat diakses di Galeri BEM FISIP UI