Tuang Gagasan: Hari Seni Rupa 2018

We are very vulnerable, fragile creatures in desperate need of support. Art (can be) source of help with our problems – our innermost problems – the problems of the soul” – Alain de Botton

Dalam tiap jiwa manusia, seni mengisi kekosongan diri serta menghadirkan emosi dengan berbagai cara. Seni merupakan hal yang tidak lepas dari kehidupan manusia dan bagian dari kebudayaan yang diciptakan dari hubungan manusia dalam lingkungan sosialnya. Maka dari itu, seni dibutuhkan untuk menyempurnakan jalannya kehidupan diri manusia, di mana tiap individu dapat memanifestasikan seninya melalui sebuah karya dalam berbagai medium.

Kembali dalam konteks kampus, di mana setiap mahasiswa/i memiliki minat dan bakat seni yang dapat diaktualisasi untuk pengembangan diri mahasiswa/i. Dunia persenian di FISIP sangat aktif, hal ini dapat dibuktikan dengan aktifnya kegiatan seni di dalam maupun luar kampus serta berbagai prestasi yang ditoreh FISIP dalam berbagai ajang kesenian. Namun perkembangan seni rupa di FISIP belakangan ini mengalami stagnansi. Disamping itu terdapat mahasiswa dan mahasiswi FISIP yang memiliki minat dan bakat dalam bidang seni rupa, namun masih berkarya secara individual. Kesadaran yang ingin ditanamkan adalah kesadaran untuk menciptakan karya secara organik dan kolektif, sehingga tercipta iklim berkesenian yang berkelanjutan dan progresif. Hari Seni Rupa hadir sebagai wadah pengembangan potensi mahasiswa/i dalam bidang seni rupa, di mana mahasiswa/i dapat meningkatkan daya cipta dalam berkarya serta berjejaring.

Hari Seni Rupa terdiri rangkaian acara diskusi, kelas, dan pameran seni rupa kontemporer di FISIP. Rangkaian acara Hari Seni Rupa dibagi menjadi empat mata acara, antara lain Nonton Asyik, Sayembara Ide, Kelas Rupa, dan acara puncak yaitu Pameran Karya. Diawali dengan Nonton Asyik, yaitu acara screening film dokumenter “Cutie and The Boxer” karya Zachary Heinzerling, dilanjutkan dengan diskusi yang diisi oleh Komplotan Jkt32C. Setelah itu adalah sayembara ide adalah pendaftaran terbuka untuk partisipan pameran dan kelas rupa. Kelas Rupa dibagi menjadi tiga sesi utama dengan berbagai materi yang saling berkesinambungan satu sama lain yaitu, pengenalan seni rupa, eksplorasi dan pemilihan medium serta presentasi ide karya.

Tema acara Hari Seni Rupa yakni “Interasyik”. Interaksi merupakan proses saling mempengaruhi antara dua objek atau lebih, baik antar manusia maupun fenomena, masalah, kondisi bahkan benda mati di sekitar kita. Dari berbagai interaksi tersebut dapat muncul berbagai relasi yang menghasilkan suatu gagasan. Gagasan itulah yang disalurkan menjadi sebuah karya seni rupa. Pemberian kata ‘asyik’ mengibaratkan bahwa tiap proses dalam seni rupa dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan penuh sukacita. Hari Seni Rupa turut bekerja sama dengan komunitas seni Jakarta 32oC yaitu  komunitas yang berfokus pada pengembangan jejaring mahasiswa dalam lingkup seni kontemporer di Jakarta.

Proses  pembuatan karya seni rupa, menjadi satu hal yang sangat menarik. Di mana para peserta, bagi membangun roh pada tiap karyanya dan tentu melalui dinamika yang cukup panjang. Proses tersebut melalui pengolahan ide karya, observasi dan riset, pemilihan medium, pembuatan karya hingga karya siap untuk dipamerkan. Proses tersebut sejatinya membangun hubungan yang erat antara pembuat karya, penikmat karya serta karyanya itu sendiri.

Harapannya acara Hari Seni Rupa dapat membangkitkan semangat berkarya dan kemampuan daya cipta serta kreatifitas teman-teman FISIP. Lebih dari itu, proses pembuatan karya dapat dimaknai sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri teman-teman FISIP untuk dapat berkontribusi lebih. Kami tunggu kehadiran teman-teman sekalian pada pameran karya Hari Seni Rupa 2018 yang akan dilaksanakan pada tanggal 14-16 Mei 2018 di FISIP UI. Mari hadir, nikmati, dan apresasi karya jagoan rupa FISIP!

Salam hangat,

Retasya Bonita,

Ketua Pelaksana Hari Seni Rupa 2018.

Fenomena Pendangkalan Sungai di Indonesia

Pendangkalan sungai adalah proses pengendapan material-material padat di bagian dasar sungai. Fenomena ini umumnya disebabkan oleh penumpukan beberapa material alami seperti tanah, pasir atau lumpur, namun juga bisa disebabkan oleh hasil kegiatan manusia seperti pembuangan sampah ke sungai. Pendangkalan sungai merupakan salah satu masalah lingkungan yang kurang diperhatikan, sehingga berdampak kepada masyarakat yang kehidupannya bergantung pada sungai tersebut.

       

 

 

 

 

 

 

 

 

Fenomena pendangkalan sungai dapat terjadi secara alami. Contohnya pendangkalan akibat sedimentasi lumpur ketika musim hujan. Namun, sebagian besar pendangkalan sungai disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia. Di daerah perkotaan, pendangkalan sungai secara umum terjadi akibat penumpukan limbah aktivitas manusia. Sedangkan di daerah pedesaan, pendangkalan sungai dapat disebabkan oleh erosi tanah yang berlebihan akibat penebangan liar.

Pendangkalan sungai membawa banyak dampak buruk bagi makhluk hidup di sekitarnya. Pertama, penumpukan material padat di aliran sungai dapat mencemari kualitas air sungai dan mengancam bukan hanya kehidupan hewan dan tumbuhan air, tetapi juga manusia . Kedua, sedimentasi material di badan sungai akan mengurangi daya tampung dan mengubah aliran alami sungai, sehingga dapat menimbulkan bencana seperti banjir.

Di Indonesia, pendangkalan sungai merupakan masalah lingkungan yang serius. Di Jakarta sendiri, bencana banjir yang terjadi setiap tahun merupakan dampak langsung dari pendangkalan sungai-sungai yang melewati Jakarta. Bagaimana tidak, 70 persen dari aliran air di Jakarta tidak mengalir dengan baik karena tersumbat oleh sampah. Tentu saja hal ini merupakan hal yang wajar ketika 20 persen sampah Jakarta berakhir di sungai dan kali Jakarta.

Selain di Jakarta, beberapa sungai besar di Indonesia sudah dalam kondisi kritis karena banyaknya material yang mengganggu aliran air. Sebut saja Sungai Musi yang mengalami pengendapan lumpur dengan laju dua hingga tiga juta kubik per tahun akibat erosi tanah. Penebangan hutan di hulu sungai untuk perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai penyebab fenomena ini. Pendangkalan sungai ini mempersulit kapal yang melintas di sungai dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat yang kehidupannya bergantung pada Sungai Musi.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT:

Cochrane, Joe (2016, 3 Oktober ). What’s Clogging Jakarta’s Waterways? You Name Ithttps://www.nytimes.com/2016/10/04/world/asia/jakarta-indonesia-canals.html diakses pada 24 April 2018

Kompas (2010, 8 Februari). Pendangkalan Sungai Musi Mengganggu Pelayaran. diambil dari https://edukasi.kompas.com/read/2010/02/08/03311496/Pendangkalan.Sungai.Musi.Mengganggu.Pelayaran diakses pada 28 April 2018

Poleto, C. & Beier A. V. (2012). Siltation and Erosion Processes on a Tributary of Lake Itapu due a Dam Reservoir. Lakes, Reservoirs and Ponds, vol. 6(2): 108-119

Login Designer

This page is used by Login Designer to preview the login form in the Customizer.

Pojok Keilmuan

Nothing Found

Sorry, no posts matched your criteria

Jinggalogi

Baudrillard, Sepeda Sosialita, dan Distopia Budaya

Baudrillard, Sepeda Sosialita, dan Distopia Budaya

Oleh Pierre Bernando Ballo (Ilmu Politik 2020)

Pandemi COVID-19 yang mewabah sejak akhir 2019 lalu telah mendorong kemunculan tren-tren kultural baru dalam dinamika bermasyarakat, salah satunya ialah tren bersepeda. Bersepeda kini menjadi salah satu metode efektif dalam mencapai bonum commune masyarakat, yaitu hidup sehat di masa pandemi. Salah satu merek sepeda yang paling sering kita jumpai adalah sepeda Brompton. Menariknya, sekalipun dibanderol hingga puluhan juta rupiah, sepeda buatan perusahaan asal Inggris ini populer di kalangan masyarakat, terkhususnya masyarakat kelas menengah ke atas. Terlepas dari fungsi utama sepeda sebagai alat kesehatan, sepeda merek Brompton seringkali disebut sebagai “Sepeda Sosialita” yang memiliki gengsi lebih tinggi daripada sepeda merek lainnya. 

Pertanyaan yang menjadi semacam enigma tersendiri dalam fenomena merebaknya sepeda Brompton adalah mengapa masyarakat, sekalipun dengan pengetahuannya mengenai aspek-aspek rasional-ekonomis seperti kuantitas harga Brompton, tetap memilih untuk membelinya? Pertanyaan ini bisa kita telusuri melalui dua kategori penting, yaitu kategori ekonomi dan kategori sosial. Kedua kategori ini tidak terdistingsikan satu dengan yang lain, melainkan bersifat komplementer, di mana satu kategori memengaruhi kategori yang lainnya secara resiprokal. Sekilas terlewat di pikiran sebuah pertanyaan, jika memang Brompton berada di kelas atas, apakah berarti ada sepeda kelas bawah ataupun kelas menengah? Apakah suatu objek, yang dalam hal ini termanifestasi dalam sepeda, dapat dikonseptualisasikan berdasarkan kelas-kelas tertentu? 

Sebenarnya, jawaban atas fenomena Brompton sudah diprediksi bertahun-tahun lalu oleh seorang filsuf postmodern yaitu Jean Baudrillard. Dalam bukunya The System of Objects (1996), Baudrillard mengemukakan bahwa fabrikasi objek telah menjadi aspek utama masyarakat postmodern, di mana sistematisasi objek berdasarkan klasifikasi dan kelas tertentu merefleksikan struktur sosial yang ada. Menurutnya, dalam masyarakat postmodern, hierarki sosial tidak lagi menempatkan individu sebagai aktor utamanya, melainkan juga status dan peran sosial itu sendiri yang kini direduksi berdasarkan objek-objek yang ditempatkan dalam kelas-kelas tertentu. Fenomena tersebut disebut sebagai Hierarchy of Objects oleh Baudrillard. 

Dalam kasus Brompton, objek sepeda tersebut yang justru mendominasi subjek (atau dalam hal ini individu) dengan menentukan status dan peran individu yang mengonsumsinya. Baudrillard dan para pemikir neo-marxis lainnya menyebut fenomena ini sebagai reifikasi. Reifikasi adalah sebuah kondisi dimana komoditas, teknologi, dan objek-objek lainnya mendominasi subjek, yang dengan demikian mereduksi kapasitas dan kualitas dari manusia (Best & Kellner, 1991). 

Baudrillard adalah seorang strukturalis, sebuah aliran dalam filsafat linguistik. Postulat dasar strukturalisme menyatakan bahwa kata, simbol, dan tanda mendapatkan maknanya bukan dari konten intrinsik entitas tersebut, melainkan bagaimana entitas tersebut membedakan dirinya dari entitas-entitas lainnya (Oswell, 2006). Interpretasi Baudrillard terhadap postulat dasar strukturalisme adalah bahwa dalam masyarakat postmodern, komoditas-komoditas mendapatkan nilainya bukan dari nilai intrinsik ataupun seberapa berguna komoditas tersebut, melainkan bagaimana komoditas tersebut membedakan dirinya dari komoditas-komoditas lain (Genosko, 1994). Dengan menjadi berbeda, komoditas merepresentasikan prestise atau sebuah tampilan kemewahan dari status sosial tertentu. Dalam kasus Brompton, misalnya, bukan karena sepeda merek tersebut lebih berguna daripada sepeda merek-merek lainnya, melainkan karena konsumsi komoditas tersebut merefleksikan suatu simbol yang merepresentasikan status sosial tertentu. Dengan demikian, nilai simbolik yang melekat pada komoditas tersebut menempatkannya pada tingkatan tertinggi hirarki objek. 

Baudrillard berargumen bahwa masyarakat postmodern adalah masyarakat yang mengonsumsi tanda atau nilai simbolik dari suatu komoditas (Genosko, 1994). Dengan demikian, identitas seseorang ditentukan berdasarkan pemberian model dan simbol tertentu yang mendorong individu mempersepsikan dirinya sebagai entitas yang berbeda dari entitas yang lainnya (Kellner, 1989). Baudrillard memperbaharui teori nilai yang dikemukakan oleh Marx mengenai value, nilai tukar, dan nilai guna dengan menambahkan satu nilai lagi, yaitu nilai simbol atau bagaimana komoditas tersebut mendistingsikan dirinya dengan komoditas-komoditas lain dalam sistem objek yang dengan demikian merepresentasikan status, kemewahan, dan identitas seseorang dalam kelas-kelas tertentu (Bishop, 2009). Lagi-lagi, dalam kasus Brompton, apa yang dikonsumsi dari sepeda tersebut bukanlah nilai guna maupun nilai intrinsiknya karena kenyataannya terdapat berbagai sepeda merek lain yang identik dengan memiliki harga yang lebih murah, melainkan representasi simbol-simbol yang seolah berkata bahwa “Wah! Saya mengikuti tren kelas atas jika saya menggunakan Brompton”. 

Fenomena Brompton dapat dikatakan sebagai suatu distopia budaya bagi para pemikir postmodern, terutama penganut aliran neo-marxis. Adorno dan Horkheimer misalnya, mengemukakan bahwa dalam masyarakat postmodern, budaya menjadi semata-mata komoditas yang dapat diproduksi secara industrial (Magnis-Suseno, 2016). Budaya industri telah memanipulasi dan mereduksi rasionalitas manusia dan menempatkan manusia, yang awalnya diagung-agungkan sebagai sentral universal, menjadi sebatas objek dalam pola-pola relasi industrial, dan dengan demikian memarginalkan orang lain yang tidak mengikuti arus hegemoni tersebut (Gumelar, 2017).

 

Referensi

Adorno, T., & Horkheimer, M. (1972). Dialectic of Enlightenment. New York: Herder & Herder. 

Azwar, M. (2014). Teori Simulakrum Jean Baudrillard dan Upaya Pustakawan Mengidentifikasi Informasi Realitas. Jurnal Ilmu Perpustakaan & Kearsipan Khizanah Al-Hikmah, Vol. 2, No. 1, hlm. 38-48. 

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor: The University of Michigan Press. 

Baudrillard, J. (1996). The System of Objects. London: Verso. 

Best, S., & Douglas, K. (1991). Postmodern Theory: Critical Interrogations. London & New York: Macmillan and Guilford Press. 

Bishop, R. (2009). Baudrillard Now: Current Perspectives in Baudrillard Studies. Cambridge: Unity Press. 

Blunden, A. (2005). Frankfurt School and The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception. Diakses dari https://www.marxists.org/reference/archive/adorno/1944/culture-industry.htm 

Genosko, G. (1994). Baudrillard and Signs. London: Routledge. 

Gumelar, M. S. (2017). Industri Budaya dan Kontes Prestige: Terpinggirnya Pemuatan Laporan Penelitian di Jurnal yang Tidak Terindeks Scopus di Indonesia. Jurnal Studi Kultural, Vol. 2, No. 1, hlm. 29-32. 

Hermawan. (2020, 3 Agustus). Dilego Puluhan Juta, Ini Sebab Sepeda Brompton Mahal. Diakses dari https://www.tagar.id/dilego-puluhan-juta-ini-sebab-sepeda-brompton-mahal 

Hodges, D. C. (1972). Marx’s Theory of Value. Journal of Philosophy and Phenomenological Research, Vol. 33, No. 2, hlm. 249-258. 

Jonas Ceika – CCK Philosophy. (2018, 28 Mei). American Psycho, Baudrillard and the Postmodern Condition [Audio & Visual]. Diakses dari https://youtu.be/RJfurfb5_kw 

Kellner, D. (1989). Jean Baudrillard: From Marxism to Postmodernism and Beyond. Cambridge and Palo Alto: Polity Press and Stanford University Press.

Magnis-Suseno, F. (2016). Dari Mao ke Marcuse: Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Oswell, D. (2006). Culture and Society: An Introduction to Cultural Studies. London: SAGE Publications. 

Roesma, J., & Mulya, N. (2013). KOCOK! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Sindhunata. (2019). Teori Kritis Sekolah Frankfurt. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Yusara, N. P., & Masykur, A. M. (2017). Gambaran Perilaku Cosmo Ladies Semarang: Sebuah Studi Kualitatif Deskriptif. Jurnal EMPATI, Vol. 5, No. 4, hlm. 610-614.

Zalta, E. N., et al. (2005). Jean Baudrillard. Palo Alto, USA: Stanford Encyclopedia of Philosophy, diakses dari https://plato.stanford.edu/entries/baudrillard/ 

SOSMED ADALAH CANDU

SOSMED ADALAH CANDU

Di era konvergensi media ini, media sosial tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Khususnya masyarakat Indonesia di kalangan anak muda. Hal ini ditunjukan dengan tingginya angka penggunal media sosial di Indonesia yang menyentuh angka 130 juta jiwa dan rata rata menghabiskan 3 jam 23 menit dalam sehari unutk mengakses media sosial. Dari angka tersebut, terbagi menjadi beberapa bagian aktivitas di media sosial, dari melihat halaman miliki teman, melihat postingan teman, melihat tayangan microselebrity, dan juga membuat postingan sendiri. Pada tulisan kali ini, fokus pada bagian membuat postingan di media sosial.
Sebelum masuk pembahasan lebih dalam, sebelumnya perlu masuk terlebih dahulu pada konsep yang menyebabkan manusia menggunakan media sosial, yaitu FOMO. Mengutip dari tulisan Andrew Przybylski dalam artikel Telegraph.co.uk FOMO atau Fear Of Missing Out yaitu suatu kondisi dimana merasa takut kehilangan informasi atau pengalaman yang orang lain bisa dapatkan. Fenomena ini yang kemudian mendorong manusia untuk terus memantau perkembangan informasi yang ada di sosial media, baik dari teman temannya, atau dari publik figure di media sosial.

Salah satu wujud ketakutan merasa “tertinggalnya” manusia di media sosial ditunjukan dengan postingan yang diunggah melalui akun media sosial pribadinya. Dimulai dari posting sesuatu yang sedang “viral” di media sosial, hingga membuat postingan kegiatan sehari hari ke dunia maya. Hal ini yang marak terjadi di kalangan anak muda Indonesia, khususnya yang tinggal di kota besar. Dimana banyak ditemukan cafe atau restoran dengan tampilan menarik, dan diisi oleh sekumpulan anak muda yang sibuk memainkan smartphonenya walaupun sedang berkumpul dengan teman temannya di satu meja. Hal ini menunjukan motivasi mendatangi tempat makan “viral” yaitu agar tidak “tertinggal” dengan orang lain sehingga mengajak temannya untuk mendatangi tempat tersebut.

Selain itu juga, fenomena ini juga terjadi saat ada teman yang berulang tahun. saat ada yang berulang tahun, pasti akan ada kegiatan memberikan kejutan untuk yang sedang berulang tahun. Namun lucunya, momen tersebut tak lagi “sakral” sebab kegiatan memberikan kejutan ulang tahun, kini hanya dijadikan sebagai konten publikasi media sosialnya. Di mana biasanya saat ada yang ulang tahun, ada saja orang yang merekam momen itu dengan smartphone-nya, lalu saat temannya sudah selesai meniup lilin, segerombolan anak muda tersebut mulai membuka media sosialnya dan mengunggah momen tersebut ke dunia maya.

Contoh di atas menunjukkan dimana kondisi pertemanan saat ini, mengarah pada berubahnya teman menjadi konten publikasi media sosial. Di mana fenomena FOMO mendorong manusia untuk terus “terhubung” dengan media sosial, apapun caranya, apapun biayanya walaupun itu teman sendiri. Semoga dengan adanya tulisan ini, mengingatkan kita semua bahwasanya jangan sampai mengubah hubungan pertemanan menjadi konten publikasi saja. Ada hal yang hanya perlu dinikmati saja di dunia nyata tanpa perlu membagikannya di sosial media.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT: 

Blair, Linda (2017, 4 Maret). “Mind Healing: How to conquer your FOMO (Fear of Missing Out)” Diambil dari The Telegraph: https://www.telegraph.co.uk/health-fitness/body/mind-healing-conquer-fomo-fear-missing/ diakses pada 11 Agustus 2018

Keen, Andrew (2011). The Second Generation of the Internet has arrived and it’s worse than you think’. The digital divide: arguments for and against Facebook, Google, texting, and the age of social networking. Ed. Mark Bauerlein. New York: Jeremy P. Tarcher/Penguin. pp242–249.

Pertiwi, Wahyunanda Kusuma (2018, 1 Maret). “Riset Ungkap Pola Pemakaian Medsos Orang Indonesia” Diambil dari Kompas.com: https://tekno.kompas.com/read/2018/03/01/10340027/riset-ungkap-pola-pemakaian-medsos-orang-indonesia diakses pada 11 Agustus 2018

Siegel, Lee (2008). ‘Being There’. Against the machine : Being human in the age of the electronic mob. New York: Spiegel & Grau. pp 138–156.

Bara Aksara

Menyingkap Pelanggaran HAM di Papua

Menyingkap Pelanggaran HAM di Papua

Papua telah sejak lama mengalami berbagai dinamika yang pelik. Terutama mengenai kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terus menerus terjadi. Bahkan menurut Amnesty International, permasalahan di Papua saat ini bukan hanya menjadi masalah tingkat nasional, namun juga regional dan global. Padahal, penyelesaian pelanggaran HAM dan pembangunan ekonomi di Papua menjadi salah satu agenda politik yang disampaikan oleh pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pada kampanye pemilihan presiden empat tahun silam.

Menyorot kilas balik, pasca 1 Desember 1961 kemerdekaan Papua ‘dicaplok’ oleh Indonesia hingga kini melalui Trikora. Setelah Trikora, sejak 1961 hingga 1991 telah terjadi 44 kali operasi militer ke Papua. Akibatnya, lebih dari 500 ribu orang Papua mati dibunuh. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) yang digunakan untuk mengintegrasikan Papua dengan Indonesia dianggap sebagai sebuah cara yang represif.

Pada November 2017 lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berkolaborasi dengan Change.org melaksanakan survei daring berkaitan dengan permasalahan di Papua. Survei yang berlangsung selama tiga minggu ini melibatkan 27.298 responden yang 2% di antaranya adalah orang Papua asli (546 orang). Survei pun menunjukkan bahwa sebanyak 14,02% orang Papua asli yang mengisi survei menilai pelanggaran HAM adalah persoalan terbesar di Papua.

Berikut beberapa dari peristiwa pelanggaran HAM di Papua yang tercatat:

  1. Wasior (2001)
  • Pihak yang terlibat: Aparat Brimob Polda Papua, warga di Desa Wonoboi, perusahaan kayu PT Vatika Papuana Perkasa (VPP).
  • Kronologi: Menurut laporan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), PT VPP dianggap mengingkari kesepakatan yang dibuat untuk masyarakat. Masyarakat mengeluhkan perilaku perusahaan dan Brimob yang kemudian ditindaklanjuti oleh kelompok TPN/OPM dengan kekerasan yang menewaskan lima orang anggota Brimob dan seorang karyawan perusahaan PT VPP. Melansir dari BBC.com, “Saat aparat setempat melakukan pencarian pelaku, terjadi tindak kekerasan berupa penyiksaan, pembunuhan, penghilangan secara paksa hingga perampasan kemerdekaan di Wasior. Tercatat empat orang tewas, satu orang mengalami kekerasan seksual, lima orang hilang dan 39 orang disiksa”.
  1. Wamena (2003)
  • Pihak yang terlibat: Masyarakat sipil Papua, anggota Kodim.
  • Kronologi: Penyerangan terhadap masyarakat sipil Papua yang sedang mengadakan Hari Raya Paskah. Kelompok penyerang diduga membawa sejumlah pucuk senjata. Komnas HAM melaporkan kasus ini mengakibatkan sembilan orang tewas, serta 38 orang luka berat. Di samping itu, pemindahan paksa warga 25 kampung menyebabkan tewasnya 42 orang akibat kelaparan, serta 15 orang korban akibat perampasan kemerdekaan yang represif dan semena-mena: penangkapan, penyiksaan, perampasan secara paksa menimbukan korban jiwa dan pengungsian penduduk secara paksa.
  1. Paniai (2014)
  • Pihak yang terlibat: anggota TNI, warga sipil
  • Kronologi: Menurut KontraS, kejadian dimulai saat sebuah mobil hitam yang melaju dari Enaro menuju kota Madi yang diduga dikendarai oleh dua oknum anggota TNI, dihentikan tiga remaja warga sipil karena warga sedang memperketat keamanan menjelang hari natal. Tidak terima, anggota TNI dengan rekan-rekannya memukul tiga remaja sipil tersebut hingga babak belur. Keesokan harinya warga Paniai berkumpul dan meminta aparat mempertanggungjawabkan kejadian tersebut. Warga berkumpul, namun sebelum dilakukan pembicaraan, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan penembakan terhadap warga. Empat orang tewas ditempat, 13 orang terluka dilarikan ke rumah sakit. Satu orang akhirnya meninggal dalam perawatan di Rumah Sakit Mahdi.
  1. Freeport
  • Pihak yang terlibat: Pekerja PT Freeport McMoRan
  • Kronologi: Kasus pelanggaran HAM ini bermula dari aksi mogok kerja oleh ribuan pekerja dan subkontraktor PT Freeport pada 1 Mei 2017 lalu yang bertepatan dengan Hari Buruh Internasional (May Day). Tuntutannya adalah “pemberhentian program furlough, mempekerjakan kembali karyawan yang terkena furlough, mengembalikan semua pekerja yang mogok di Timika, Papua tanpa PHK, serta pemberhentian tindakan kriminalisasi terhadap para pengurus serikat pekerja.” Peristiwa-peristiwa di atas mencerminkan sudah lama keadaan di Papua mengeruh. Kini, kekerasan dan pelanggaran terhadap HAM makin sering terjadi baik yang dilakukan oleh pihak dari Indonesia maupun dari Papua (OPM). Perlu adanya diskursus dan konsolidasi lebih lanjt demi menuntaskan persoalan pelik yang menyangkut dua kepentingan ini.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT:

Wardah, F. (2017, Desember 15). Survei LIPI: Pelanggaran HAM Persoalan Terbesar di Papua. Diakses dari Voa Indonesia: https://www.voaindonesia.com/amp/survei-lipi-pelanggaran-ham-persoalan-terbesar-di-papua/4164959.html/  Diakses pada tanggal 5 Desember 2018.

Sitepu, M. (2017, Februari 21). Bagaimana kronologis tiga kasus ‘pelanggaran HAM berat’ di Papua? Diakses dari BBC Indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39031020# Diakses pada tanggal 5 Desember 2018.

Firman, T. (2018, Desember 2). Aksi Damai Mahasiswa Papua di Surabaya Dibalas Makian & Kekerasan” Diakses dari Tirto.id: https://tirto.id/aksi-damai-mahasiswa-papua-di-surabaya-dibalas-makian-amp-kekerasan-daPJ Pada tanggal 6 Desember 2018.

Amelia, Z. (2018, Maret 11). “Kemenaker Didesak Selidiki Kasus Pelanggaran HAM oleh Freeport” Diakses dari Tempo.Co: https://bisnis.tempo.co/read/1068738/kemenaker-didesak-selidiki-kasus-pelanggaran-ham-oleh-freeport/full&view=ok Pada tanggal 7 Desember 2018.

Mantan Koruptor Boleh Nyaleg?

Pada tanggal 1-3 Juli 2018, Peraturan KPU terbaru resmi diumumkan. Peraturan KPU (PKPU) No. 20 Tahun 2018 ini mengatur larangan pencalonan narapidana korupsi, bandar narkoba, dan mantan pelaku kejahatan seksual anak. Rilisnya PKPU ini kemudian mendapat kritik dari Bawaslu dan DPR. Bawaslu berpandangan bahwa PKPU tersebut bertentangan dengan UU Pemilu Nomor 7 tahun 2017 yang memperbolehkan eks-koruptor menjadi caleg asalkan mempublikasikan rekam jejaknya ke media massa atau ke masyarakat.

Wakil ketua Komisi II DPR Nifhayatul Mafiroh mengatakan, “Komisi II DPR, Bawaslu, Kemendagri menyepakati aturan tentang larangan mantan napi korupsi dikembalikan peraturannya pada Pasal 240 ayat 1 huruf g Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu”. Dalam hal ini pula eks-terpidana korupsi Wa Ode Nurhayati dan beberapa tokoh lain menggugat Peraturan KPU (PKPU) yang melarang eks-koruptor menjadi calon legislatif ke Mahkamah Agung.

Melalui berbagai macam gugatan, pada akhirnya Mahkamah Agung (MA) memutuskan untuk mengabulkan gugatan uji materi pasal 4 ayat 3 Peraturan KPU Nomor 20 tahun 2018, MA juga mengabulkan gugatan uji materi terhadap Pasal 60 huruf (j) PKPU Nomor 26 tahun 2018 tentang Pencalonan Anggota DPD. Keputusan ini memastikan bahwa para mantan napi korupsi bisa maju sebagai caleg DPR/DPRD maupun DPD karena MA menilai larangan terhadap eks koruptor menjadi caleg tidak sesuai dengan UU Pemilu.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT:

Sarwanto, Abi. (2018, Mei 23). DPR, Pemerintah dan Bawaslu: Eks Koruptor Boleh Jadi Caleg. Diakses dari cnnindonesia :       https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180523001204-32-300504/dpr-pemerintah-dan-bawaslu-eks-koruptor-boleh-jadi-caleg. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2018.

Grabilin, Abba. (2018, juli 10). UU Pemilu Masih Diuji Materi di MK, PKPU Terancam Tak Bisa Digugat ke MA. Diakses dari Kompas : https://nasional.kompas.com/read/2018/07/10/15045071/uu-pemilu-masih-diuji materi-di-mk-pkpu-terancam-tak-bisa-digugat-ke-ma. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2018.

Lazuardi, Glery. (2018, September 18). KPU patuhi putusan MA Loloskan Eks-Koruptor Daftar Caleg. Diakses dari Tribunnews : http://www.tribunnews.com/nasional/2018/09/18/kpu-patuhi-putusan-ma-loloskan-eks-koruptor-daftar-caleg. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2018.

Aji, Setyo. (2018, September 14). MA Restui Eks Koruptor Jadi Caleg. Diakses dari cnnindonesia : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180914194513-12 330351/ma-restui-eks-koruptor-jadi-caleg?. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2018.

Lazuardi, Glery. (2018, Juli 04). PKPU Resmi Jadi Undang-Undang Para Mantan Koruptor Dilarang Jadi Caleg. Diakses dari Tribunnews : http://www.tribunnews.com/nasional/2018/07/04/aturan-kpu-resmi-jadi-undang-undang-para-mantan-koruptor-dilarang-jadi-caleg. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2018.

Ridhoi, M. Ahsan. (2018, September 6). KPU Desak MA Segera Putuskan UJi Materi PKPU Caleg Koruptor. Diakses dari Tirto : https://tirto.id/kpu-desak-ma-segera-putuskan-uji-materi-pkpu-caleg-koruptor-cXlC. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2018.

Bayu, Dimas Jarot. (2018, September 15). Mahkamah Agung Kabulkan Uji Materi, Eks Koruptor Boleh Jadi Caleg. Diakses dari Katadata : https://katadata.co.id/berita/2018/09/15/mahkamah-agung-kabulkan-uji-materi-eks-koruptor-boleh-jadi-caleg. Diakses pada 1 Oktober 2018

Rozie, Fachrur. (2018, Juli 13). Ada Larangan KPU, Eks Napi Korupsi Wa Ode Nurhayati Nekat Jadi Caleg. Diakses dari Liputan 6: https://www.liputan6.com/news/read/3588216/ada-larangan-kpu-eks-napi-korupsi-wa-ode-nurhayati-nekat-jadi-caleg. Diakses pada tanggal 1 Oktober 2018.

Apa Kabar Rupiah?

Apa Kabar Rupiah?

Posisi nilai tukar Rupiah belakangan ini sedang mengalami depresiasi atau penurunan nilai. Data terakhir yang dihimpun pada tanggal 19 September 2018 menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dollar berada pada angka Rp14.880. Sebenarnya, hal apakah yang menyebabkan Rupiah terdepresiasi hingga menyentuh titik terendah selama beberapa tahun terakhir?

Pertama, Rupiah melemah karena karena penguatan Dollar AS terhadap hampir semua mata uang dunia. Hal ini disebabkan karena bank sentral AS menaikkan suku bunga obligasi mencapai 3,03%. Bukan hanya itu, pada Triwulan II 2018 pemintaan valuta asing terus meningkat guna membayar utang luar negeri, dividen, dan impor. Badan Pusat Statistik pun menyatakan neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit 1,02% pada bulan Agustus. Hal ini dipicu tak lain oleh penurunan ekspor pada sektor migas maupun non-migas. Ekspor migas turun 3,27% secara bulanan dari US$1,43 miliar menjadi US$1,38 miliar. Sementara itu, pada periode yang bersamaan, ekspor non-migas turun 2,86% dari US$14,86 miliar menjadi US$14,43 miliar. Penurunan ekspor non-migas yang paling besar dialami oleh sektor pertambangan dan lainnya, yaitu sebesar -13,58% menjadi US$2,35 miliar.

Karena hal-hal di atas, banyak dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat. Beberapa di antaranya: Pertumbuhan ekonomi yang melambat, PHK besar-besaran, inflasi bahan pangan, hingga menurunnya daya beli masyarakat. Lantas dengan keadaan yang demikian, bagaimana respon pemerintah guna memstabilkan kembali kondisi perekonomian di Indonesia? Sejauh ini, pemerintah mengusahakan untuk mendorong ekspor dan secara bertahap menekan impor guna mengembalikan neraca perdagangan. Selain itu, untuk mendukung penguatan Rupiah kembali, pemerintah mendongkrak pengembangan pariwisata melalui program “Bali Baru”, yaitu pengembangan 10 destinasi wisata di luar Bali. Hingga saat ini pemerintah masih memfokuskan diri pada empat kawasan: Mandalika di NTB, Labuan Bajo di NTT, Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan Danau Toba di Sumatra Utara. Selain itu, tak lupa juga peran krusial Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga sebagai strategi penguatan Rupiah.

Namun ternyata, beberapa kalangan masyarakat dapat memanfaatkan momentum turunnya nilai Rupiah terhadap Dollar ini. Salah satunya, depresiasi Rupiah menguntungkan pelaku ekspor karena keuntungan yang didapat lebih besar. Sektor pariwisata pun dapat berkembang dengan pesat sebab wisatawan asing ke Indonesia akan bertambah lebih banyak karena biaya yang semakin murah.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT: 

Fauzia, M. (2018, Agustus 28). Dongkrak Wisata, Pemerintah Manfaatkan Momentum Depresiasi Rupiah. Diambil dari Kompas: https://ekonomi.kompas.com/read/2018/08/28/203929826/dongkrak-wisata-pemerintah-manfaatkan-momentum-depresiasi-rupiah. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

Ismanto, H. W. (2018, Agustus 18). Menyelamatkan Rupiah. Diambil dari Kompas: https://kompas.id/baca/ekonomi/2018/08/18/menyelamatkan-rupiah/. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

Melani, A. (2018, September 1). Ini Penyebab Rupiah Sentuh Level Rendah. Diambil dari Liputan 6: https://www.liputan6.com/bisnis/read/3633784/ini-penyebab-rupiah-sentuh-level-terendah. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

R. S. A. (2018, Mei 30). Kuatkan Nilai Tukar Rupiah, BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%. Diambil kembali dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia: https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/kuatkan-nilai-tukar-rupiah-bi-naikkan-suku-bunga-acuan-jadi-4-75/. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

RSA, IG, IND. (2018, September 19). Pemerintah Bertekad Dorong Ekspor. Diambil dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia:https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/pemerintah-bertekad-dorong-ekspor/ Diakses pada tanggal 21 September 2018.

Tim CNN Indonesia. (2018, September 17). BPS: Neraca Perdagangan Agustus 2018 Masih Defisit. Diambil dari CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180917115330-92-330747/bps-neraca-perdagangan-agustus-2018-masih-defisit. Diakses pada tanggal 21 September 2018.

Widi, H. Rupiah!. Diambil dari Kompas: https://kompas.id/baca/ekonomi/2018/04/30/rupiah-2/. Diakses pada tanggal 21 September 2018.