Dibalik Tarian dan Nyanyian: Eksploitasi dalam Industri K-Pop

Di Balik Tarian dan Nyanyian: Eksploitasi dalam Industri K-Pop

Hasil Kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Sosiologi UI dan Jinggalogi

Dimulai dari sebuah gerakan pemuda yang melawan kebosanan terhadap musik tradisional bernuansa colonial hingga menjadi gelombang industri musik yang mendunia, K-Pop pertama kali berkembang pada abad 19-an, dipelopori oleh grup band beraliran hip-hop “Seo Taiji and Boys”. Aliran musik yang mencampurkan budaya ala Korea-Amerika dengan personilnya yang colorful, funky, dan good looking ini kemudian mendapat sambutan baik dari publik dan kalangan pebisnis Korea. Kini, formulasi antusiasme publik dan strategi ekonomi yang dibantu kemajuan teknologi informasi saat ini telah membawa K-Pop menjadi bagian dari pop culture modern. Internet membawa informasi menyebar secara cepat ke berbagai penjuru dunia. Berbagai agensi musik Korea pun menggunakannya untuk menyebarluaskan musik K-Pop kepada penjuru dunia. Hingga akhirnya, kini, K-Pop dikonsumsi dan diketahui secara global. Akan tetapi, di balik semua gemerlap dunia K-Pop, ada sisi yang jarang diketahui oleh banyak orang.

Definisi Musik Pop dan K-pop

Pada dasarnya, musik pop adalah musik yang berorientasi kepada tujuan yang sifatnya komersial. Di samping itu, genre musik yang satu ini juga memiliki tujuan untuk mendapat apresiasi dari orang-orang yang berada di masyarakat yang maju. Berbeda dengan musik tradisional, musik pop ditulis oleh orang yang sudah memiliki popularitas dan tidak melibatkan proses transmisi oral. Sementara K-Pop sendiri merupakan musik bergenre popular yang berasal dari negara Korea Selatan.

Definisi Eksploitasi

Eksploitasi secara umum dapat digambarkan sebagai hubungan tuan-budak. Si tuan merampas harta milik si budak dan memaksa si budak bergantung pada tuannya untuk kebutuhannya sehari-hari. Ini disebut sebagai accumulation by dispossession, di mana harta milik buruh diambil oleh pemilik modal untuk mengakumulasi modalnya sendiri dan “mencuri” hasil kerja buruh tersebut.

Nilai Guna

Komoditas yang dipertukarkan tentunya memiliki nilai guna. Dalam hal ini, komoditi adalah sesuatu yang mempunyai kegunaan bagi individu yang membelinya, baik kegunaan untuk diri sendiri untuk apa yang kita sebut tujuan konsumsi, atau kegunaan dalam proses produksi, seperti alat, mesin, bangunan, atau struktur. Nilai guna adalah suatu pemberian, tetapi memiliki kepentingan sebagai dasar kekayaan masyarakat, penyimpanan nilai tukar material, dan menjadi nyata hanya dalam konsumsi individu atau produktif.

Nilai Tukar

Masyarakat kapitalis hidup dengan melakukan pertukaran barang dan karenanya mendapat nilai tukar. Agar suatu komoditas memiliki nilai tukar, objek atau jasa tersebut harus ditukar dengan komoditas lain di pasar. Dengan demikian, komoditas memiliki aspek ganda, yaitu nilai guna dan di sisi lain, memiliki nilai tukar yang ditunjukkan dengan sejumlah uang atau seperangkat barang yang nilainya setara dengan komoditas. Supaya nilai tukar dapat konsisten dan berkelanjutan, harus ada bentuk pertukaran pasar yang teratur dan mapan. Menurut Marx, pertukaran ini tidak wajar, tidak teratur, dan bahkan tidak kooperatif bagi masyarakat. Agar nilai tukar dapat dibangun, harus ada pembagian kerja yang baik sehingga orang tidak mandiri dan perlu mendapatkan nilai pakai atau komoditas dari orang lain.

Nilai Surplus

Mengikuti teori David Ricardo, Marx menganggap kerja manusia merupakan sumber nilai ekonomi. Kapitalis biasanya membayar pekerjanya kurang dari nilai yang telah mereka tambahkan ke barang yang mereka produksi, bahkan terkadang hanya cukup untuk mereka bertahan hidup. Dalam kata lain, total nilai kerja pekerja dan kompensasi yang diberikan perusahaan hanya sebagian dengan sisanya adalah “surplus labor” dan nilai yang dihasilkannya “surplus value”. Nilai inilah yang diambil kapitalis dan dengan demikian mengeksploitasi pekerja.

Bentuk Eksploitasi di Dalam Industri K-pop

Akan tetapi, di balik gemerlapnya industri musik Korea ini, terdapat sisi lain yang jarang diketahui oleh banyak orang. K-pop merupakan industri yang seringkali tersandung isu eksploitasi idol, bahkan sejak di langkah awal seseorang masuk ke dalam dunia industri tersebut. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Grazy Grace, seorang penyanyi solo dan juga YouTuber asal Korea kepada cosmopolitan.com, pada masa pelatihan (trainee) sebelum akhirnya memutuskan untuk solo, ia pernah tinggal bersama dengan delapan orang trainee lainnya dalam satu ruangan dan tidur di kasur bertingkat atau lantai. Dengan ruangan istirahat seperti itu, para trainee juga diharuskan berlatih selama kurang lebih 12 jam (bisa lebih) untuk mengingat lirik lagu dan juga gerakan dansa hingga mereka tidak lagi membuat kesalahan. Berdasarkan keterangan Grace, serangan verbal merupakan hal yang seringkali diterima oleh trainee ketika mereka melakukan kesalahan saat berlatih. Pada masa ini, trainee juga tidak mendapatkan bayaran dari agensi mereka, di mana pembayaran atas latihan dan usaha mereka oleh agensi dianggap telah diberikan dalam bentuk akomodasi dan juga operasi plastik.

Tidak hanya eksploitasi dalam bentuk waktu latihan dan kualitas akomodasi yang mereka sediakan, eksploitasi secara langsung juga dilakukan pihak agensi kepada individu trainee lewat cara mengatur berat badan yang dimiliki oleh para trainee. Pada kasus yang dialami Grace, agensinya bahkan tidak memperbolehkan dirinya untuk menambah berat badannya sedikit pun. Keterangan mengenai kasus serupa juga pernah diberikan oleh Momo anggota girl band Twice. Momo mengatakan bahwa ia pernah mengalami masa di mana ia hanya memakan satu buah es batu selama beberapa hari hingga berat badannya dapat turun sebanyak 6 Kg. Dalam industri ini, pihak agensi memiliki kekuatan yang besar atas kehidupan pribadi para trainee, di mana amar dilengkapi dengan kamera pengawasan, ponsel rutin di cek oleh manajer, unggahan media sosial harus melalui persetujuan, dan setiap selfie harus diteliti terlebih dahulu dengan alasan agar tidak mengundang ketertarikan lawan jenis, tidak mengizinkan para idola untuk memiliki pasangan. Apabila melanggar hal-hal tersebut, kontrak dapat dibatalkan. Jika seseorang membatalkan kontraknya atau dibatalkan oleh pihak agensi, maka mereka akan dipaksa membayar “utang” selama mereka dalam masa pelatihan. Selain itu, meskipun mereka sudah melakukan debut sebagai seorang idol, mereka tetap masih harus membayar “utang”. Dilansir dari Koreaboo, tidak jarang idol yang telah debut belum bisa merasakan hasil jerih payah mereka sendiri karena pendapatan mereka digunakan untuk membayar fasilitas yang diberikan selama masa pelatihan.

Pengaruh besar pihak agensi dalam kehidupan individu ini tidak hanya berhenti pada masa trainee, tetapi terus berlanjut hingga mereka menjadi idol. Sebagai contoh, mari kita lihat kasus yang terjadi pada tahun 2009 yang menjerat grup musik JYJ dengan pihak agensi mereka SM Entertainment. Pihak JYJ menggugat pihak agensi dengan beberapa alasan, yaitu kontrak dengan durasi 13 tahun dianggap terlalu lama oleh para personel meskipun kedua belah pihak telah menyetujui kontrak yang mengatur durasi tersebut dengan tujuan yang bersifat ekonomi, tetapi pada saat kontrak ditandatangani, pihak JYJ masih di bawah umur. Dalam kontrak, mereka juga diharuskan mengikuti seluruh jadwal dan tugas yang diberikan pihak agensi kepada mereka secara tanpa syarat dan mereka tidak punya hak untuk meminta kontrak mereka direvisi. Untuk kepemilikan hak cipta, semua hak atas lagu dan juga album dimiliki oleh pihak SM Entertainment meskipun penulis dan penyusunnya adalah si artis sendiri. Dengan begitu, pihak SM Entertainment bebas menggunakan lagu tersebut tanpa sepengetahuan artis dan sebaliknya, pihak JYJ jika ingin menggunakan lagu tersebut harus mendapat izin dari pihak agensi.

Dalam pembagian hasil keuntungan juga terjadi kecurangan. Berdasarkan kontrak yang telah disetujui oleh kedua pihak, apabila penjualan album melebihi 500.000 salinan, maka JYJ akan mendapat bonus sebanyak lima juta Won. Tuan Yoon yang menjabat sebagai bendahara Agensi SM mengatakan bahwa album mereka hanya terjual sebanyak 480.000 salinan saja. Akan tetapi, pihak JYJ berhasil membuktikan bahwa album yang terjual telah melebihi ketentuan, yaitu 540.000 salinan. Selain itu, pihak JYJ juga membayar biaya yang sebenarnya tidak menjadi kewajiban mereka, seperti biaya sewa asrama, gaji ART atau penjaga keamanan, biaya listrik, serta uang makan. Masalah lainnya terkait dengan transparansi keuangan, seharusnya setiap 6 bulan sekali, pihak agensi harus memberikan rincian kalkulasi pembagian pendapatan dan juga pajak yang dikenakan kepada pihak JYJ dan mendapatkan tanda tangan mereka sebagai bukti. Akan tetapi, pihak agensi hanya memberikan rincian tersebut apabila diminta oleh pihak artis. Pihak agensi mengatakan bahwa pihak JYJ tidak akan bisa melihat dokumen tersebut tanpa sepengetahuan pihak agensi.

Analisis Kasus

K-Pop memiliki tempat yang spesial di mata para penggemarnya. Selain menjadi sumber hiburan bagi mereka yang menyukai genre musik yang satu ini, K-Pop juga memiliki manfaat lain, seperti membuat penggemarnya rajin menabung, menjadi tempat bersosialisasi antarpenggemar, dan menjadi motivasi untuk mempelajari budaya dan bahasa baru bagi mereka yang berada di luar Korea. Manfaat-manfaat tersebut merupakan sebuah bentuk nilai guna dari K-Pop bagi para penggemarnya. Pada dasarnya, nilai guna merupakan manfaat yang bisa dirasakan oleh para pembelinya, di mana dalam kasus ini, penggemar K-Pop yang bisa merasakan manfaatnya. K-Pop yang memiliki penggemar yang tersebar di seluruh dunia, tentunya para artis ini memiliki nilai tukar yang relatif tinggi karena pendapatan yang mereka dapatkan tergantung dari seberapa banyak pendapatan yang mereka peroleh dan dibagi dengan kontrak yang mereka miliki dengan pihak agensi. Sebagai contoh, mari kita lihat pembagian profit yang dilakukan oleh SM Entertainment. Dilansir dari Tirto.id, dalam kontrak dinyatakan bahwa pembagian profit dari hasil acara senilai 60% ialah untuk agensi dan sisanya untuk artis. Tentunya, semakin terkenal suatu grup maka akan semakin tinggi bayarannya.

Agar sebuah grup K-Pop memiliki nilai tukar yang tinggi, tentu mereka harus memiliki media untuk menyalurkan talenta yang mereka miliki. Di sinilah pihak agensi memainkan peran mereka. Pihak agensi akan “membantu” para pemuda – pemudi ini untuk mencapai panggung yang bersinar. Untuk menambah nilai tukar para trainee, mereka akan diberikan pelatihan berupa kelas menyanyi dan juga menari yang bisa berlangsung lebih dari 12 jam, juga operasi plastik. Selama masa pelatihan ini, para trainee akan dikekang kebebasannya, seperti pengecekan telepon genggam, pemasangan kamera pengintai, bahkan dilarang untuk mencinta. Semua hal ini dilakukan dengan dalih meningkatkan kualitas dari para trainee. Dengan kualitas yang baik maka nilai tukar mereka di mata pihak agensi akan lebih tinggi. Apabila ada trainee yang berusaha keluar sebelum waktu yang telah disetujui dalam kontrak atau kontrak tersebut dibatalkan akibat adanya pelanggaran, maka trainee tersebut harus membayar segala akomodasi dan fasilitas yang telah diberikan oleh pihak agensi.

Pihak agensi sama seperti kebanyakan industri lainnya, selalu ingin memiliki nilai surplus yang tinggi atas para pekerjanya. Hal ini bisa dilihat dari sikap pihak agensi yang tidak membayar uang sedikit pun kepada para trainee di masa pelatihan. Bahkan segala fasilitas serta akomodasi yang diberikan dianggap utang oleh pihak agensi. Berkat praktik semacam ini, maka tidak jarang setelah debut mereka tidak mendapat penghasilan sedikit pun karena mereka harus membayar kembali pihak agensi atas fasilitas yang diberikan. Cara lain yang dilakukan pihak agensi untuk mendapat nilai surplus adalah dengan cara tidak memiliki transparansi. Melalui kasus JYJ, kita bisa melihat pihak agensi membohongi pihak artis dengan mengatakan bahwa penjualan album mereka tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan bonus tambahan. Karena dengan membohongi pihak JYJ, pihak agensi akan mendapatkan nilai surplus lebih. Selain itu, pihak agensi tidak memberi tahu JYJ mengenai keberadaan dokumen rincian pendapatan sehingga mereka tidak tahu pendapatan mereka yang sebenarnya.

Kesimpulan

Di balik gemerlapnya dunia musik Korean Pop yang terkenal dengan suara para penyanyi yang merdu dan paras mereka yang rupawan, terdapat sisi lain yang jarang diketahui oleh khalayak umum. Pihak agensi yang menjadi penyalur bagi talenta-talenta muda ini kerap berlaku semena-mena kepada artis dan calon artis yang ada di bawah naungan mereka. Tindakan-tindakan seperti merebut kebebasan pribadi, kontrak yang tidak adil, dan di beberapa kasus secara sadar membohongi artis yang mereka naungi, dilakukan dengan tujuan mendapatkan keuntungan lebih. Pada dasarnya, industri K-Pop tidak ada bedanya dengan industri lainnya. Mereka selalu ingin mendapatkan keuntungan tanpa memperhitungkan kondisi orang-orang yang mereka kerjakan.

 

Referensi

Bancin, E. L. (2019). Infografik: 5 manfaat Yang dirasakan FANS K-POP. https://kumparan.com/kumparank-pop/infografik-5-manfaat-yang-dirasakan-fans-k-pop.  Diakses pada 19 Mei 2021.

Britannica, T. Editors of Encyclopaedia (2020). Popular music. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/art/popular-music. Diakses pada 19 Mei 2021

Fernandez, C. (2020). K-Pop Trainees Reveal Why It’s Possible For Idols To Earn NOTHING Even Years After DebutC. Koreaboo. https://www.koreaboo.com/news/kpop-trainees-reveal-possible-idols-earn-nothing-years-after-debut/.

K-pop. k-pop noun – Definition, pictures, pronunciation and usage notes | Oxford Advanced Learner’s Dictionary. https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/k-pop.  Diakses pada 20 Mei 2021.

Pilling, G. (1972). The Law of Value in Ricardo and Marx. Economy and Society, 1 (3).

Shariff, R, N, M., Azlin, N, R. (2011). Unfair Contract Terms.: The Case of JYJ v SME. 6th  UUM International Legal Conference.

Sherman, M. (2020,). The K-Pop Cover-Up. https://www.cosmopolitan.com/entertainment/celebs/a31088096/k-pop-dark-side-exploitation/. Diakses pada 20 Mei 21,

Ramadhani, Y., & Ulfa, M. (2019, February 22). Membandingkan Penghasilan Idol Group dari Agensi YG, JYP, dan SM.  https://tirto.id/membandingkan-penghasilan-idol-group-dari-agensi-yg-jyp-dan-sm-dhy.  Diakses 20 Mei 2021

Vincent, B. (n.d.). A Brief, Condensed History of K-pop. Teen Vogue. https://www.teenvogue.com/story/brief-history-of-k-pop.

Zukerfeld, M., & Wylie, S. (2017). Capitalist Exploitation. In Knowledge in the Age of Digital Capitalism: An Introduction to Cognitive Materialism (pp. 115-160). London: University of Westminster Press. Diakses pada 21 Mei 2021.