‘I Remember It All too Well’Taylor Swift, Resistensi, dan The New Economy Industri Musik Kontemporer

Vilona Stevanny & Mario Hartanto

“And maybe we got lost in translation

Maybe i asked for too much”

Penggalan lirik tersebut tak asing kita dengar beberapa waktu ke belakang ini. Tidak bisa dipungkiri, supremasi Taylor Swift di industri musik semakin terlihat melalui lagu “All Too Well” dan album Red (Taylor’s Version) yang dirilis pada tengah November 2021 silam. Tulisan ini akan membahas bagaimana fenomena ini dapat terjadi dan dampaknya bagi industri musik.

This is the golden age of something good and right and real for Taylor and the fandom

Pada November 2020 silam, Taylor Swift mengungkapkan dalam siniar bersama Rolling Stones bahwa ia telah merekam ulang lagu “All too Well”, sebuah lagu yang sejak pertama kali rilis pada tahun 2012 lalu telah menjadi favorit para penggemar, dengan durasi dua kali lipat lebih panjang dari 10 menit. Sejak saat itu, animo para penggemar terhadap rilisnya lagu ini mulai berkembang. Kurang lebih satu tahun kemudian, pada Agustus 2021, para penggemar kembali dihebohkan ketika Taylor mengkonfirmasi bahwa lagu orisinal “All too Well” berdurasi 10 menit ini akan dirilis seiring dengan album Red (Taylor’s Version) melalui permainan teka-teki tebak judul bonus tracks untuk para penggemar yang difasilitasi oleh Taylor sendiri. 

Hubungan yang begitu erat antara Taylor dan para fans ini berakar dari kemahiran Taylor dalam memanfaatkan media sosial untuk menjadikan para penggemar sebagai aktor dalam budaya partisipatoris, di mana para penggemar turut terlibat dalam menciptakan, membentuk, membentuk ulang, dan menyebarkan konten media (Jenkins, 2006). Ciri khas dari budaya partisipatoris ini adalah intensitas keterlibatan dan interaksi sosial. Uniknya, bukan hanya para penggemar yang menjadi aktor dalam budaya partisipatori, tetapi juga sebaliknya; Taylor turut berpartisipasi dan berinteraksi dengan konten yang dibuat oleh para penggemar. Kehadiran Taylor sebagai aktor budaya partisipatori dalam pembuatan konten para Swifties menjadi semakin intens jelang periode rilis album Red (Taylor’s Version) sekaligus lagu “All too Well” (10 Minute Version) November 2021 lalu sehingga tidak heran para penggemar begitu antusias dengan rilisnya lagu ini. 

‘But maybe this thing was a masterpiece’, and yes indeed.

Omongan adalah doa, nyatanya, bait dalam lirik tersebut justru menjadi manifestasi seberapa mahakarya lagu “All too Well (10 Minute Version) (Taylor’s Version) (from The Vault)” ini. Dengan durasi 10 menit 13 detik, lagu ini mencapai banyak prestasi di awal debutnya. Di minggu pertamanya, “All too Well” memecahkan rekor sebagai lagu dengan durasi terlama yang debut di nomor 1 tanggar Billboard Hot 100. Prestasi Taylor ini sebelumnya dipegang oleh “American Pie” Don Mclean 50 tahun silam dengan durasi 8 menit 37 detik. Selain itu, album Taylor sendiri, Red (Taylor’s Version) juga menuai prestasi, seperti debut no. 1 di Billboard Top 200 Album dan memecahkan rekor Spotify sebagai album yang paling sering dimainkan dalam kurun waktu satu hari dengan 90.8 juta stream.

Dengan animo yang begitu tinggi dari para penggemar, sebenarnya wajar saja jika lagu “All too Well (10 Minute Version) (Taylor’s Version) (from The Vault)” ini dapat menduduki #1 dalam top charts di berbagai streaming services. Namun, tidak hanya dalam streaming services, para penggemar juga berhasil membawa lagu berdurasi 10 menit 13 detik ini menduduki #1 di iTunes Music, sebuah platform nonstreaming di mana lagu harus dibeli terlebih dahulu sebelum dapat didengar. Dengan kata lain, lagu ini berhasil mencapai #1 di iTunes Music tidak terlepas dari dukungan para penggemar yang mau merogoh kantong mereka dalam rangka mendukung idolanya. 

~All along there were some ‘invisible second hand’ tying you to me~

Dalam ilmu Antropologi, Dolgin menyebut perilaku para penggemar ini sebagai karakteristik dari New Economy, di mana seseorang membeli sesuatu bukan atas dasar kebutuhan akan komoditas tersebut, melainkan karena ingin. Keinginan ini berakar dari kebutuhan mereka untuk memenuhi quality communication, yang dalam konteks ini untuk mengkomunikasikan dukungan para penggemar terhadap idolanya.  Konsumsi terhadap barang non-material seperti media consumption, yaitu pembelian musik digital juga merupakan karakteristik dari New Economy. Dalam hal ini, penggemar membeli lagu “All too Well” (10 Minute Version) secara digital melalui iTunes merupakan sesuatu yang simbolis, tetapi juga di sisi lain ekonomis karena terjadi perputaran uang di dalam kegiatan ini. Adam Smith merumuskan konsep Second Invisible Hand yang dapat berguna dalam melihat fenomena ini. Second Invisible Hand berbicara mengenai bagaimana rasa keterikatan dan keinginan manusia untuk membantu orang lain juga dapat memengaruhi perilaku ekonomi mereka. Manifestasi dari konsep ini dapat dilihat dari fenomena para penggemar yang membeli musik digital guna menunjukkan loyalitas serta rasa tanggung jawab mereka dalam menyukseskan rilisnya lagu “All too Well” (10 Minute Version) (Taylor’s Version) (from The Vault). 

Rekam Ulang dan Resistensi Taylor Swift dalam Industri Musik

Prestasi Taylor Swift baru-baru ini didapat ketika ia merilis ulang album Red yang sudah rilis pada Oktober 2012 silam. Rasa penasaran pun banyak bermunculan, “mengapa Taylor Swift merilis ulang albumnya?

Pertama kali Taylor merintis kariernya sebagai musisi, ia bergabung dengan label Big Machine Records pada tahun 2005. Setelah rilisnya album ‘Reputation’, Taylor Swift pun pindah label rekaman ke Universal Republic Records pada tahun 2018. Akan tetapi, perjanjian yang mengikat Taylor dan label lamanya membuat Big Machine memiliki hak milik atas rekaman asli lagu Taylor Swift. Pada tahun 2019, label lamanya menjual rekaman asli enam album pertama Taylor Swift kepada Ithaca Holdings sebesar $300 juta USD. Pemilik Ithaca Holdings sendiri adalah Scooter Braun, orang yang juga mengurus Kanye West, artis yang sempat memiliki konflik dengan Taylor. Alhasil, keuntungan dari setiap stream atau unduhan lagu Taylor Swift dikantongi oleh Scooter Braun, bukan Taylor sendiri. Hal inilah yang membuat Taylor geram dan memutuskan untuk merekam ulang lagu-lagu miliknya di album terdahulu.

Dalam industri musik, para musisi membutuhkan label rekaman untuk membantu memproduksi dan mendistribusikan karyanya kepada khalayak luas. Perusahaan label ini memiliki kapital yang tidak dimiliki musisi, seperti modal uang, alat rekaman, koneksi, media promosi, dan lain-lain. Layaknya logika kapitalisme, perusahaan label rekaman pun memanfaatkan kapitalnya untuk menghasilkan banyak kapital lainnya melalui musisi. Perusahaan pun menikmati keuntungan ketika lagu musisi laris di pasaran, baik dari penjualan album, streaming, soundtrack, hingga tur sang musisi.

Kejadian yang dialami Taylor Swift ini membuktikan bagaimana para pemilik modal industri musik berusaha mempertahankan kekuasaannya melalui kepemilikan rekaman musisinya, bahkan setelah lepas dari label tersebut. Dalam hal ini, Taylor Swift melakukan resistensi terhadap dominasi label rekaman dengan merekam ulang lagu-lagu di albumnya. Usaha ini dilakukan untuk melindungi karya orisinalnya dan memastikan keuntungan dari musik Taylor Swift tidak jatuh ke tangan label lamanya. 

Upaya resistensi Taylor ini sejalan dengan konsep Stuart Hall. Dalam esainya yang berjudul “Notes on Deconstructing ‘The Popular’” pada tahun 1981, ia menyatakan terdapat kontestasi dan resistensi di balik budaya populer. Di balik lagu-lagu Taylor yang dinikmati penduduk seluruh dunia, terdapat usaha perlawanan Taylor memperjuangkan karya musiknya melawan label rekaman lamanya yang memanfaatkan kapital rekaman asli Taylor Swift untuk keuntungan label semata.  

 “Popular culture is one of the sites where this struggle for and against a culture of the powerful is engaged: it is also the stake to be won or lost in that struggle” . “It is the arena of consent and resistance.” -Notes on Deconstructing 1981, Stuart Hall.

Daftar Pustaka:

Dolgin, A. (2011). Manifesto of the New Economy: Institutions and Business Models of the Digital Society (2012th ed.). Springer.

Hoke, C. (2021, Desember 5). Taylor Swift Just Broke A 50-Year Old Music Record, And The ‘American Pie’ Singer Responded. CINEMABLEND. https://www.cinemablend.com/television/taylor-swift-just-broke-a-50-year-old-music-record-and-the-american-pie-singer-responded

Hsu, H. (2017, Juli 17). Stuart Hall and the Rise of Cultural Studies. The New Yorker. https://www.newyorker.com/books/page-turner/stuart-hall-and-the-rise-of-cultural-studies

Hussey, A. (2021, November 22). Taylor Swift Sets New Record for Longest No. 1 Song With “All Too Well (10 Minute Version).” Pitchfork. https://pitchfork.com/news/taylor-swift-sets-new-record-for-longest-no-1-song-with-all-too-well-10-minute-version/amp/

Jenkins, H. (2008). Convergence Culture: Where Old and New Media Collide (Revised ed.). NYU Press.

Stuart Hall “Notes on Deconstructing ‘The Popular’”, People’s History and Socialist Theory, Raphael Samuel (ed), London: Kegan Paul-Routledge

William, C. (2021, November 13). Taylor Swift Breaks Two Spotify Records in One Day With Release of ‘Red (Taylor’s Version).’ Variety. https://variety.com/2021/music/news/taylor-swift-breaks-spotify-record-red-taylors-version-streams-1235111709/