Baudrillard, Sepeda Sosialita, dan Distopia Budaya

Baudrillard, Sepeda Sosialita, dan Distopia Budaya

Oleh Pierre Bernando Ballo (Ilmu Politik 2020)

Pandemi COVID-19 yang mewabah sejak akhir 2019 lalu telah mendorong kemunculan tren-tren kultural baru dalam dinamika bermasyarakat, salah satunya ialah tren bersepeda. Bersepeda kini menjadi salah satu metode efektif dalam mencapai bonum commune masyarakat, yaitu hidup sehat di masa pandemi. Salah satu merek sepeda yang paling sering kita jumpai adalah sepeda Brompton. Menariknya, sekalipun dibanderol hingga puluhan juta rupiah, sepeda buatan perusahaan asal Inggris ini populer di kalangan masyarakat, terkhususnya masyarakat kelas menengah ke atas. Terlepas dari fungsi utama sepeda sebagai alat kesehatan, sepeda merek Brompton seringkali disebut sebagai “Sepeda Sosialita” yang memiliki gengsi lebih tinggi daripada sepeda merek lainnya. 

Pertanyaan yang menjadi semacam enigma tersendiri dalam fenomena merebaknya sepeda Brompton adalah mengapa masyarakat, sekalipun dengan pengetahuannya mengenai aspek-aspek rasional-ekonomis seperti kuantitas harga Brompton, tetap memilih untuk membelinya? Pertanyaan ini bisa kita telusuri melalui dua kategori penting, yaitu kategori ekonomi dan kategori sosial. Kedua kategori ini tidak terdistingsikan satu dengan yang lain, melainkan bersifat komplementer, di mana satu kategori memengaruhi kategori yang lainnya secara resiprokal. Sekilas terlewat di pikiran sebuah pertanyaan, jika memang Brompton berada di kelas atas, apakah berarti ada sepeda kelas bawah ataupun kelas menengah? Apakah suatu objek, yang dalam hal ini termanifestasi dalam sepeda, dapat dikonseptualisasikan berdasarkan kelas-kelas tertentu? 

Sebenarnya, jawaban atas fenomena Brompton sudah diprediksi bertahun-tahun lalu oleh seorang filsuf postmodern yaitu Jean Baudrillard. Dalam bukunya The System of Objects (1996), Baudrillard mengemukakan bahwa fabrikasi objek telah menjadi aspek utama masyarakat postmodern, di mana sistematisasi objek berdasarkan klasifikasi dan kelas tertentu merefleksikan struktur sosial yang ada. Menurutnya, dalam masyarakat postmodern, hierarki sosial tidak lagi menempatkan individu sebagai aktor utamanya, melainkan juga status dan peran sosial itu sendiri yang kini direduksi berdasarkan objek-objek yang ditempatkan dalam kelas-kelas tertentu. Fenomena tersebut disebut sebagai Hierarchy of Objects oleh Baudrillard. 

Dalam kasus Brompton, objek sepeda tersebut yang justru mendominasi subjek (atau dalam hal ini individu) dengan menentukan status dan peran individu yang mengonsumsinya. Baudrillard dan para pemikir neo-marxis lainnya menyebut fenomena ini sebagai reifikasi. Reifikasi adalah sebuah kondisi dimana komoditas, teknologi, dan objek-objek lainnya mendominasi subjek, yang dengan demikian mereduksi kapasitas dan kualitas dari manusia (Best & Kellner, 1991). 

Baudrillard adalah seorang strukturalis, sebuah aliran dalam filsafat linguistik. Postulat dasar strukturalisme menyatakan bahwa kata, simbol, dan tanda mendapatkan maknanya bukan dari konten intrinsik entitas tersebut, melainkan bagaimana entitas tersebut membedakan dirinya dari entitas-entitas lainnya (Oswell, 2006). Interpretasi Baudrillard terhadap postulat dasar strukturalisme adalah bahwa dalam masyarakat postmodern, komoditas-komoditas mendapatkan nilainya bukan dari nilai intrinsik ataupun seberapa berguna komoditas tersebut, melainkan bagaimana komoditas tersebut membedakan dirinya dari komoditas-komoditas lain (Genosko, 1994). Dengan menjadi berbeda, komoditas merepresentasikan prestise atau sebuah tampilan kemewahan dari status sosial tertentu. Dalam kasus Brompton, misalnya, bukan karena sepeda merek tersebut lebih berguna daripada sepeda merek-merek lainnya, melainkan karena konsumsi komoditas tersebut merefleksikan suatu simbol yang merepresentasikan status sosial tertentu. Dengan demikian, nilai simbolik yang melekat pada komoditas tersebut menempatkannya pada tingkatan tertinggi hirarki objek. 

Baudrillard berargumen bahwa masyarakat postmodern adalah masyarakat yang mengonsumsi tanda atau nilai simbolik dari suatu komoditas (Genosko, 1994). Dengan demikian, identitas seseorang ditentukan berdasarkan pemberian model dan simbol tertentu yang mendorong individu mempersepsikan dirinya sebagai entitas yang berbeda dari entitas yang lainnya (Kellner, 1989). Baudrillard memperbaharui teori nilai yang dikemukakan oleh Marx mengenai value, nilai tukar, dan nilai guna dengan menambahkan satu nilai lagi, yaitu nilai simbol atau bagaimana komoditas tersebut mendistingsikan dirinya dengan komoditas-komoditas lain dalam sistem objek yang dengan demikian merepresentasikan status, kemewahan, dan identitas seseorang dalam kelas-kelas tertentu (Bishop, 2009). Lagi-lagi, dalam kasus Brompton, apa yang dikonsumsi dari sepeda tersebut bukanlah nilai guna maupun nilai intrinsiknya karena kenyataannya terdapat berbagai sepeda merek lain yang identik dengan memiliki harga yang lebih murah, melainkan representasi simbol-simbol yang seolah berkata bahwa “Wah! Saya mengikuti tren kelas atas jika saya menggunakan Brompton”. 

Fenomena Brompton dapat dikatakan sebagai suatu distopia budaya bagi para pemikir postmodern, terutama penganut aliran neo-marxis. Adorno dan Horkheimer misalnya, mengemukakan bahwa dalam masyarakat postmodern, budaya menjadi semata-mata komoditas yang dapat diproduksi secara industrial (Magnis-Suseno, 2016). Budaya industri telah memanipulasi dan mereduksi rasionalitas manusia dan menempatkan manusia, yang awalnya diagung-agungkan sebagai sentral universal, menjadi sebatas objek dalam pola-pola relasi industrial, dan dengan demikian memarginalkan orang lain yang tidak mengikuti arus hegemoni tersebut (Gumelar, 2017).

Referensi

Adorno, T., & Horkheimer, M. (1972). Dialectic of Enlightenment. New York: Herder & Herder. 

Azwar, M. (2014). Teori Simulakrum Jean Baudrillard dan Upaya Pustakawan Mengidentifikasi Informasi Realitas. Jurnal Ilmu Perpustakaan & Kearsipan Khizanah Al-Hikmah, Vol. 2, No. 1, hlm. 38-48. 

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation. Ann Arbor: The University of Michigan Press. 

Baudrillard, J. (1996). The System of Objects. London: Verso. 

Best, S., & Douglas, K. (1991). Postmodern Theory: Critical Interrogations. London & New York: Macmillan and Guilford Press. 

Bishop, R. (2009). Baudrillard Now: Current Perspectives in Baudrillard Studies. Cambridge: Unity Press. 

Blunden, A. (2005). Frankfurt School and The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception. Diakses dari https://www.marxists.org/reference/archive/adorno/1944/culture-industry.htm 

Genosko, G. (1994). Baudrillard and Signs. London: Routledge. 

Gumelar, M. S. (2017). Industri Budaya dan Kontes Prestige: Terpinggirnya Pemuatan Laporan Penelitian di Jurnal yang Tidak Terindeks Scopus di Indonesia. Jurnal Studi Kultural, Vol. 2, No. 1, hlm. 29-32. 

Hermawan. (2020, 3 Agustus). Dilego Puluhan Juta, Ini Sebab Sepeda Brompton Mahal. Diakses dari https://www.tagar.id/dilego-puluhan-juta-ini-sebab-sepeda-brompton-mahal 

Hodges, D. C. (1972). Marx’s Theory of Value. Journal of Philosophy and Phenomenological Research, Vol. 33, No. 2, hlm. 249-258. 

Jonas Ceika – CCK Philosophy. (2018, 28 Mei). American Psycho, Baudrillard and the Postmodern Condition [Audio & Visual]. Diakses dari https://youtu.be/RJfurfb5_kw 

Kellner, D. (1989). Jean Baudrillard: From Marxism to Postmodernism and Beyond. Cambridge and Palo Alto: Polity Press and Stanford University Press.

Magnis-Suseno, F. (2016). Dari Mao ke Marcuse: Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Oswell, D. (2006). Culture and Society: An Introduction to Cultural Studies. London: SAGE Publications. 

Roesma, J., & Mulya, N. (2013). KOCOK! The Untold Stories of Arisan Ladies and Socialites. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Sindhunata. (2019). Teori Kritis Sekolah Frankfurt. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Yusara, N. P., & Masykur, A. M. (2017). Gambaran Perilaku Cosmo Ladies Semarang: Sebuah Studi Kualitatif Deskriptif. Jurnal EMPATI, Vol. 5, No. 4, hlm. 610-614.

Zalta, E. N., et al. (2005). Jean Baudrillard. Palo Alto, USA: Stanford Encyclopedia of Philosophy, diakses dari https://plato.stanford.edu/entries/baudrillard/ 

SOSMED ADALAH CANDU

SOSMED ADALAH CANDU

Di era konvergensi media ini, media sosial tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Khususnya masyarakat Indonesia di kalangan anak muda. Hal ini ditunjukan dengan tingginya angka penggunal media sosial di Indonesia yang menyentuh angka 130 juta jiwa dan rata rata menghabiskan 3 jam 23 menit dalam sehari unutk mengakses media sosial. Dari angka tersebut, terbagi menjadi beberapa bagian aktivitas di media sosial, dari melihat halaman miliki teman, melihat postingan teman, melihat tayangan microselebrity, dan juga membuat postingan sendiri. Pada tulisan kali ini, fokus pada bagian membuat postingan di media sosial.
Sebelum masuk pembahasan lebih dalam, sebelumnya perlu masuk terlebih dahulu pada konsep yang menyebabkan manusia menggunakan media sosial, yaitu FOMO. Mengutip dari tulisan Andrew Przybylski dalam artikel Telegraph.co.uk FOMO atau Fear Of Missing Out yaitu suatu kondisi dimana merasa takut kehilangan informasi atau pengalaman yang orang lain bisa dapatkan. Fenomena ini yang kemudian mendorong manusia untuk terus memantau perkembangan informasi yang ada di sosial media, baik dari teman temannya, atau dari publik figure di media sosial.

Salah satu wujud ketakutan merasa “tertinggalnya” manusia di media sosial ditunjukan dengan postingan yang diunggah melalui akun media sosial pribadinya. Dimulai dari posting sesuatu yang sedang “viral” di media sosial, hingga membuat postingan kegiatan sehari hari ke dunia maya. Hal ini yang marak terjadi di kalangan anak muda Indonesia, khususnya yang tinggal di kota besar. Dimana banyak ditemukan cafe atau restoran dengan tampilan menarik, dan diisi oleh sekumpulan anak muda yang sibuk memainkan smartphonenya walaupun sedang berkumpul dengan teman temannya di satu meja. Hal ini menunjukan motivasi mendatangi tempat makan “viral” yaitu agar tidak “tertinggal” dengan orang lain sehingga mengajak temannya untuk mendatangi tempat tersebut.

Selain itu juga, fenomena ini juga terjadi saat ada teman yang berulang tahun. saat ada yang berulang tahun, pasti akan ada kegiatan memberikan kejutan untuk yang sedang berulang tahun. Namun lucunya, momen tersebut tak lagi “sakral” sebab kegiatan memberikan kejutan ulang tahun, kini hanya dijadikan sebagai konten publikasi media sosialnya. Di mana biasanya saat ada yang ulang tahun, ada saja orang yang merekam momen itu dengan smartphone-nya, lalu saat temannya sudah selesai meniup lilin, segerombolan anak muda tersebut mulai membuka media sosialnya dan mengunggah momen tersebut ke dunia maya.

Contoh di atas menunjukkan dimana kondisi pertemanan saat ini, mengarah pada berubahnya teman menjadi konten publikasi media sosial. Di mana fenomena FOMO mendorong manusia untuk terus “terhubung” dengan media sosial, apapun caranya, apapun biayanya walaupun itu teman sendiri. Semoga dengan adanya tulisan ini, mengingatkan kita semua bahwasanya jangan sampai mengubah hubungan pertemanan menjadi konten publikasi saja. Ada hal yang hanya perlu dinikmati saja di dunia nyata tanpa perlu membagikannya di sosial media.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT: 

Blair, Linda (2017, 4 Maret). “Mind Healing: How to conquer your FOMO (Fear of Missing Out)” Diambil dari The Telegraph: https://www.telegraph.co.uk/health-fitness/body/mind-healing-conquer-fomo-fear-missing/ diakses pada 11 Agustus 2018

Keen, Andrew (2011). The Second Generation of the Internet has arrived and it’s worse than you think’. The digital divide: arguments for and against Facebook, Google, texting, and the age of social networking. Ed. Mark Bauerlein. New York: Jeremy P. Tarcher/Penguin. pp242–249.

Pertiwi, Wahyunanda Kusuma (2018, 1 Maret). “Riset Ungkap Pola Pemakaian Medsos Orang Indonesia” Diambil dari Kompas.com: https://tekno.kompas.com/read/2018/03/01/10340027/riset-ungkap-pola-pemakaian-medsos-orang-indonesia diakses pada 11 Agustus 2018

Siegel, Lee (2008). ‘Being There’. Against the machine : Being human in the age of the electronic mob. New York: Spiegel & Grau. pp 138–156.