Krusialnya Kampanye #NoPlasticStraws

Kamu mungkin sudah pernah mendengar mengenai kampanye #NoPlasticStraws baik melalui media sosial atau media lainnya. Jika belum, kampanye #NoPlasticStraws merupakan kampanye yang mendukung pembatasan penggunaan sedotan plastik. Lalu, bukankah itu hanya sampah berukuran kecil?

Menurut data penelitian Divers Clean Action, pemakaian sedotan plastik di Indonesia setiap harinya mencapai 93,2 juta batang atau jika dibentangkan jaraknya sama seperti perjalanan lintas benua Jakarta – Mexico City! Indonesia juga salah satu yang berkontribusi besar dalam sampah plastik dunia, yaitu sebesar 10 persen. Salah satu sampah yang ‘merajalela’ di lautan Indonesia salah satunya adalah sampah plastik. Hal ini dibuktikan dengan rekaman penyelam asal Inggris, Rich Horner, di ‘lautan plastik’ Bali. Oleh karena itu, kampanye #NoPlasticStraws merupakan hal yang penting untuk mengurangi sampah di lautan Indonesia dan dunia.

Kampanye #NoPlasticStraws juga berpengaruh pada lingkungan dalam jangka panjang, terutama lingkungan laut. Mungkin kita hanya memakai sedotan selama 5 menit, namun sedotan tersebut baru akan hancur 400-500 tahun yang akan datang! Jika tidak dihentikan sekarang, maka diprediksi pada tahun 2050 akan lebih banyak plastik di lautan dibanding jumlah ikan. Selain itu 71% burung laut dan 30% kura-kura memiliki plastik dalam makanan mereka dan dapat menghambat pernafasan dan pencernaan mereka bahkan bisa berujung kematian.

Lantas, bagaimana kita menyukseskan #NoPlasticStraws? Langkah pertama tentu saja membuat komitmen pada diri sendiri. Jika masih bisa minum tanpa sedotan plastik, maka minumlah tanpa sedotan plastik. Jika terpaksa menggunakan sedotan plastik, kalian bisa mengumpulkan bekas sedotan kalian untuk didaur ulang menjadi barang yang berguna. Jika komitmen sudah terbentuk, sosialisasikanlah pada masyarakat luas utamanya pada restoran yang masih menggunakan sedotan plastik.

Kamu dapat memberikan pemahaman pada mereka bahwa masih banyak bahan baku lain yang bisa digunakan sebagai sedotan seperti bambu, dan logam. Walaupun lebih mahal dibanding sedotan plastik, namun hal tersebut sebagai wujud dari upaya melindungi lingkungan hidup. Bahkan, saat ini sedang dikembangkan sedotan yang bisa dimakan di Amerika untuk mengurangi sampah sedotan plastik.

Hal terkecil yang kita bisa lakukan sekarang, bisa berarti langkah terbesar di masa yang akan datang. Ayo, wujudkan #NoPlasticStraws!

 

Refrensi:

Langone, Alix. “All The Major Companies That Are Banning Plastic Straws”. Timeinc, 18 Juli 2018. Dikutip dari https://www.google.co.id/amp/amp.timeinc.net/time/money/5333715/starbucks-hyatt-ban-plastic-straws pada 5 Agustus 2018.

Peters, Adele. “After You Finish Your Drink, You Can Eat This New Edible StrawFastCompany, 12 Mei 2017. Dikutip dari https://www.google.co.id/amp/s/amp.fastcompany.com/40502404/after-you-finish-your-drink-you-can-eat-this-new-edible-straw pada 5 Agustus 2018.

Roughneen, Simon. “British diver exposes sea of plastic rubbish off Bali coast”. The Telegraph, 6 Maret 2018. Dikutip dari https://www.google.co.id/amp/s/www.telegraph.co.uk/news/2018/03/06/british-diver-exposes-sea-plastic-rubbish-bali-coast/amp/ pada 5 Agustus 2018.

Tashandra, Nabilla. “Lima Alternatif Pengganti Sedotan Plastik, Mau Coba?”. Kompas, 3 Juli 2018. Dikutip dari https://lifestyle.kompas.com/read/2018/07/03/201521420/lima-alternatif-pengganti-sedotan-plastik-mau-coba pada 5 Agustus 2018.

No Straw Please : The Last Plastic Straw”. Plasticpollutioncoalition. Dikutip dari http://www.plasticpollutioncoalition.org/no-straw-please/ pada 5 Agustus 2018.

“Understanding Plastic Pollution” For A Strawless Ocean. Dikutip dari https://www.strawlessocean.org/ pada 5 Agustus 2018.