Musik Pop Instan dan Bias Konfirmasi Masyarakat dalam Cognitive Dissonance

Oleh Albert Julio – Ilmu Hubungan Internasional ’20.

 

Pernahkah Anda mendengar musik pop di ruang publik dan kemudian Anda tertarik dengan musik tersebut, lalu Anda mencari liriknya dan terkejut setelah tahu lagu tersebut ternyata membahas hal yang jauh lebih dalam dari apa yang Anda sangka? Ketika Anda telah mengetahui makna lagu secara lebih mendalam, persepsi Anda terhadap lagu tersebut dapat berganti dengan cepat. Lagu bertempo tinggi seperti “I Took a Pill in Ibiza” oleh Mike Posner pun dapat menjadi sangat depresif ketika Anda menyadari lagu tersebut bertema adiksi narkoba karena depresi (Genius & Posner, 2016). Hal ini kemudian akan membuat Anda merasa tidak nyaman mendengar lagu tersebut di ruang publik.

Sifat musik pop yang didesain instan dan nyaman untuk didengar tampaknya telah menyebabkan degenerasi dalam lirik. Ketika orang terlalu menikmati “beat” dan tidak mementingkan lirik, agaknya semua lagu dapat menjadi lagu dansa (Frith et al., 2007). Menurut saya, sifat mendasar musik pop inilah yang menyebabkan pendengar tidak pernah menggubris masalah kontradiksi antara lirik melankolis dan musik upbeat dalam sebuah lagu. Keberadaan kontradiksi tersebut menciptakan sebuah cognitive dissonance yang menciptakan masyarakat memiliki bias konfirmasi terhadap musik pop dan menganggap seluruh lagu pop dangkal.

 

Musik Pop Instan

Musik pop menurut Simon Frith, musikologis Inggris, adalah musik yang dibuat hanya untuk populer oleh perusahaan produksi profesional guna mencapai angka komersial tinggi. Hal ini menyebabkan musik pop terkesan enak didengar, tak beridentitas khusus, dan terkesan konservatif. Sifat instan musik pop membuat pesan dalam lirik lagu kadang tidak begitu dipedulikan, yang penting enak didengar (Frith et al., 2007). Lihat saja tiga besar lagu pop barat dengan sukses komersial terbesar, yakni “Shape of You” oleh Ed Sheeran, “Despacito” oleh Luis Fonsi, dan “Work” oleh Rihanna yang semuanya bertemakan hubungan seks (Newman, 2021). Anehnya lagi, di Indonesia yang super konservatif, di  mana hubungan seks itu masih merupakan topik tabu, saya masih sering mendengar ketiga lagu tersebut diputar di ruang publik dan radio.

 

Teori dan Konsep

Cognitive Dissonance dan Bias Konfirmasi

Cognitive dissonance adalah teori sosiopsikologis yang menyatakan bahwa ketika manusia menerima informasi yang kontradiktif maka manusia akan mencari cara untuk menghilangkan kontradiksi (Festinger, 1957). Salah satu reaksi manusia untuk menghilangkan kontradiksi adalah melalui bias konfirmasi, yakni meyakinkan diri atas satu kesimpulan dengan hanya mengambil fakta yang mendukung kesimpulan tersebut. Hal ini termasuk ke dalam kesalahan-kesalahan logikal yang kerap kali dialami manusia dalam penelitian atau interpretasi. Bias konfirmasi berarti mendahulukan hasil terlebih dahulu dibandingkan proses interpretasi dan data yang ada (Nickerson, 1998).

 

Fenomena Bias Konfirmasi dalam Interpretasi Musik Pop

Seperti yang kita ketahui, musik pop diproduksi dengan daya produksi yang sangat tinggi agar lagu tersebut enak didengar. Hal ini menyebabkan sedikitnya kreativitas yang ada di tangan penyanyi dalam produksi musiknya karena banyaknya campur tangan produser. Keinginan studio rekaman untuk menjual musik sebanyak mungkin telah menciptakan situasi yang membuat lagu-lagu pop terkesan tidak begitu orisinil. Banyak sekali utilisasi klise seperti hook dan chorus yang dibuat simpel, tetapi menarik sehingga para pendengar bisa ikut bersenandung walau kata tersebut hanya kata yang dibuat-buat (Shepherd, 2003). Lihat saja dari judul lagu “BOOMBAYAH” oleh BLACKPINK, “Boom Boom Pow” oleh Black Eyed Peas, dan bahkan “Sussudio” oleh Phil Collins. Saya tantang Anda untuk menjelaskan apa arti kata-kata tersebut!

Kesuksesan musik pop dengan utilisasi klise tersebut telah menciptakan situasi dalam masyarakat yang menormalisasi sifat musik pop. Selama musik tersebut asyik dan ada bagian yang bisa dinyanyikan maka musik itu enak didengar. Hal tersebut menyebabkan masyarakat beranggapan bahwa musik pop itu amat dangkal dan membahas topik insensitif seperti cinta, romantisme, dan hal optimis lainnya. Ironisnya, menurut riset Universitas California, lagu pop sejak 1980-an memiliki tema yang jauh lebih sedih dan mendalam. Hal tersebut berhubungan dengan perkembangan electronic beat yang mampu menutupi tema sedih dari lagu dengan irama yang membuat pendengar bergoyang dan bahagia (Interiano et al., 2018).

Musik pop telah berhasil membentuk masyarakat yang mengkonsumsi musik atas dasar beat yang enak dirasakan. Kondisi tersebut didukung oleh rilisnya piranti walkman yang populer pada tahun ‘80-an dan membiarkan seseorang mendengarkan lagu sambil bekerja berat. Kondisi seperti itu membuat musik sekadar dengungan di latar belakang dan bukan menjadi fokus utama pendengar sehingga lirik menjadi hal yang makin tidak penting (Hosokawa, 1984). Masyarakat penikmat musik sendiri terlalu sibuk untuk terlibat stres akibat cognitive dissonance sehingga mereka menggunakan bias konfirmasi mereka untuk meyakinkan diri sendiri bahwa lagu yang mereka putar adalah lagu pemberi semangat dan bertajuk optimis.

Banyak masyarakat yang memprotes kedangkalan musik pop dan menganggap lagu produksi indie memiliki makna yang jauh mendalam. Saya tidak bisa menyalahkan mereka karena musik pop yang diolah amat sintetis kadang membuatnya terkesan insensitif, berbeda dengan musik indie yang biasa berusaha dengan gigih menyampaikan sebuah pesan. Model musik pop yang lebih diciptakan untuk viral dalam budaya populer telah membuat mereka terkesan semakin generik. Musik tidak lagi menjadi cerminan emosi penyanyi dan lirik hanya diciptakan untuk digumamkan pendengar. Musik pop berhasil memanfaatkan bias konfirmasi dan ketidakinginan masyarakat agar terjebak dalam cognitive dissonance untuk menjual beat yang klise.

Saya akan memberikan beberapa contoh lagu pop yang berarti dalam dan sempat populer sebagai contoh akan bias konfirmasi di masyarakat. Lagu-lagu tersebut antara lain:

  1. “Chandelier” (2014) oleh Sia membahas tentang perjuangan Sia melawan adiksi alkohol.
  2. “Can’t Feel My Face” (2015) oleh The Weeknd membahas tentang euforia ketika menghisap kokain.
  3. “Hey Ya!” (2003) oleh Outkast membahas tentang orang yang terjebak di pernikahan tidak harmonis, tetapi tidak berani bercerai karena tradisi.
  4. “Gangnam Style” (2012) oleh PSY adalah ejekan atas kapitalisme, terutama budaya kemewahan penduduk Gangnam di Korea.
  5. “Yoru ni Kakeru” (2019) oleh Yoasobi membahas tentang kisah sejoli yang terjebak dalam keinginan bunuh diri.
  6. “Papaoutai” (2013) oleh Stromae membahas tentang kisah anak yatim yang harus tumbuh tanpa ayahnya.
  7. “I Took a Pill in Ibiza” (Seeb remix, 2016) membahas adiksi narkoba yang diakibatkan tekanan sosial dan keinginan “terkenal”.

Sifat musik pop yang instan membuat masyarakat menggeneralisasikannya sebagai sesuatu yang dangkal. Nyatanya, musik pop juga dapat memberi arti yang dalam. Apakah hal ini berarti Anda tidak boleh menikmati musik tanpa mengerti liriknya? Tidak sama sekali. Bahkan, itulah tujuan diberikannya irama menarik dalam lagu favorit Anda. Hanya saja, jangan melakukan bias konfirmasi dan menganggap seluruh musik pop itu sintetis dan tidak bermakna. Walau begitu, jangan juga terlalu stres dan terjebak dalam cognitive dissonance yang disebabkan analisis yang berlebih terkait musik pop.

Daftar Pustaka

​​Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.

Frith, S., Straw, W., & Street, J. (2007). The Cambridge Companion to Pop and Rock. Cambridge University Press.

Genius, & Posner, M. (2016). Mike Posner “I Took A Pill In Ibiza” Official Lyrics & Meaning | Verified. Youtube. Interview, Genius. https://www.youtube.com/watch?v=5zvlETDEoZ0&ab_channel=Genius.

Hosokawa, S. (1984). The Walkman Effect. Popular Music, 4, 165–180. https://doi.org/10.1017/s0261143000006218.

Interiano, M., Kazemi, K., Wang, L., Yang, J., Yu, Z., & Komarova, N. L. (2018). Musical Trends and Predictability of Success in Contemporary Songs in and out of the Top Charts. Royal Society Open Science, 5(5), 1–16. https://doi.org/10.1098/rsos.171274.

Newman, T. (2021, July 12). Top 20 Best-selling Digital Singles of All Time. RouteNote Blog. https://routenote.com/blog/best-selling-digital-singles/.

Nickerson, R. S. (1998). Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.2.175.

Shepherd, J. (2003). Continuum Encyclopedia of Popular Music of The World. Performance and Production. Continuum.