Notulensi Diskusi Rutin Terbuka “20 Tahun Reformasi: Menilik Kembali Sejarah yang Hilang”

 NOTULENSI

DEPARTEMEN KAJIAN DAN AKSI STRATEGIS

PROGRAM KERJA DIRUTE (DISKUSI RUTIN TERBUKA)

  • Hari, tanggal : Jumat, 11 Mei 2018
  • Waktu : 17.00 – 20.30 WIB
  • Agenda : DIRUTE (Diskusi Rutin Terbuka) dengan tema “20 Tahun Reformasi: Menilik Kembali Sejarah yang Hilang.

 

  • Pembicara 1 : Mas Panji
  • Pembicara 2 : Mas Berly
  • Pembicara 3 : Mas Rein
  • Pembicara 4 : Mas Agus
  • Moderator : Fuadil `Ulum (Ketua BEM FISIP UI 2018)
  • Notulen : Salman Al – Fathan (Staf Departemen Kastrat BEM FISIP UI 2018)

  • Mas Panji

Reformasi 1998 diawali oleh krisis ekonomi nasional yang memicu dislokasi sosial yang serius di dalam masyarakat Indonesia, seperti pengangguran, PHK, dan protes sosial. PHK massal memicu orang untuk beralih profesi menuju sektor informal seperti, pedagang asongan dan pedagang pinggir jalanan. Hal tersebut kemudian memicu gerakan mahasiswa di tahun tersebut sebagai lanjutan dari gerakan mahasiswa 80-an dan 90-an di awal ketika NKK BKK diberlakukan.

Ketika peristiwa 21 Mei 1998 terjadi, mundurnya Soeharto sebagai presiden kemudian menjadi suatu kejadian yang mengagetkan bagi rakyat Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena rakyat dan mahasiswa sebenarnya belum siap untuk menghadapi runtuhnya rezim Soeharto, yang terutama disebabkan oleh adanya fragmentasi agenda diantara kelompok kelompok oposisi pemerintah. Fragmentasi tersebut terjadi diantara kalangan oposisi yang menuntut reformasi terbatas, reformasi total, dan yang mendukung Habibie untuk terus menjabat sebagai Presiden. Kalangan mahasiswa radikal menolak naiknya Habibie menjadi presiden karena dianggap hanya akan memberikan sedikit ruang untuk melaksanakaan reformasi secara sepenuhnya

Perpecahan kepentingan itu pun tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat luas, namun juga di antara elite politik yang berkuasa dalam masa Orde Baru. Hal tersebut disebabkan karena Presiden Soeharto telah melakukan institutional layering dalam masa pemerintahannya sebelum mengundurkan diri, yaitu dengan mengganti rezim militeristiknya di tahun 70-an dan mulai membagi kekuasaan pemerintahannya pada kekuasaan Islam yang berada di bawah pimpinan Habibie. Di kelompok ABRI pun kemudian terjadi perpecahan antara kelompok ‘hijau’ dan kelompok ‘merah putih’.

Dengan adanya fragmentasi agenda diantara kelompok kelompok masyarakat dan elit elit politik di masa reformasi tersebut, terjadilah bounded transition yang menyebabkan berlanjutnya rezim otoritarian dalam system yang demokratis, membuat infrastruktur politik Orba terus bertahan setelah reformasi. Pola transactional transition pun terjadi dengan adanya transaksi dan negosiasi di antara para elit politik, yang terutama terjadi di antara Kelompok Ciganjur (Gus Dur, Megawati, Amien Rais, dan Sri Sultan) dengan Habibie dan Wiranto.

Sebelum Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden, pada tahun 1997 keluar kesepakatan pertama di antara Pemerintah Indonesia dengan IMF, yaitu structural adjustment terhadap rezim Soeharto yang dianggap tidak bekerja secara efisien dan marak dengan KKN. Kesepakatan yang kedua keluar pada Februari 1998, yang masih memiliki fokus untuk mengurangi kekuasaan Soeharto yang bekerja secara tidak efisien.

Pada akhirnya krisis ekonomi membuat pemerintahan tidak dapat membuat banyak pilihan dan harus tunduk pada keputusan IMF. Kondisi tersebut membuat legitimasi pemerintahan pada saat itu dipertanyakan yang juga diperparah oleh friksi politik yang juga terjadi di dalam kabinet. Pak Harmoko yang saat itu menduduki jabatan sebagai Ketua DPR dan dianggap sebagai orang terdekat dengan Pak Harto pun bahkan meminta Pak Harto untuk mundur.

Tahun 1998 – 2004, terjadilah masa kecairan yang memberi kesempatan untuk mereformasi Lembaga dan pemerintahan. Dalam masa tersebut terjadi pembentukan partai politik secara besar besaran yang tak lepas dari kepentingan elite-elite politik di rezim Orba dan kemudian membuat terjadinya hijacking oleh kekuatan oligarki karena tidak terbentuknya oposisi yang dapat menyeimbangkan para elit politik. Pada akhirnya, kehidupan kepartaian, relasi DPR-Presiden, dan pemilu di Indonesia pun kini masih berlangsung penuh dengan masalah. Ide ide lama tentang otoritarianisme masih bertahan hingga sekarang. Hampir seluruh partai di Indonesia tidak memiliki ideologi yang jelas dan hanya menjunjung para elit yang berkecimpung di partai tersebut, lebih mirip kepada fans club daripada sebuah partai politik. Setelah 20 tahun melewati masa reformasi, 6 tuntutan reformasi pun tidak seluruhnya terlaksana, seperti contohnya tuntutan pengadilan Soeharto dan penghapusan Dwifungsi ABRI.

Selain itu, selalu ada agenda agenda Lembaga internasional pada negara negara dunia ketiga, termasuk Indonesia di masa reformasi, yang memasuki Indonesia melalu elit elit politik yang berkuasa. Sejarah selalu digerakkan oleh para elit, oleh karena itulah kita tidak dapat mempercayai kaum elit. Peluang perbaikan kemudian ada pada gerakan dan tekanan yang berasal dari massa yang bersifat kritis terhadap penguasa.

  • Mas Berly

Orde Baru merupakan anti thesis dari Orde Lama, dimana Orde Lama sangat menekankan kebebasan dalam demokrasi sedangkan Orde Baru menekan hal tersebut. Selama 70-an dan 80-an, kritik hanya berasal dari kelompok mahasiswa dan aktivis, sebab kebijakan pemerintah belum menyebabkan krisis yang menyentuh rakyat secara luas. Ketika Institusi ekonomi yang merupakan suprastruktur penunjang rezim Orba runtuh, hal tersebut akhirnya memicu rakyat untuk melawan rezim. Gagalnya rezim orde baru dalam mensejahterakan rakyat akhirnya membuat rakyat bersimpati terhadap gerakan mahasiswa dan gerakan reformasi lainnya.

Sebelum Pak Harto mengundurkan diri dari jabatannya, Pak Harto telah lebih dulu kehilangan kewibawaannya ketika Bu Tien meninggal dunia. Lalu, sempat membuat ia ragu dalam pencalonan diri sebagai Presiden 1998. Hal tersebut menunjukkan bahwa peristiwa reformasi tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor di luar pemerintahan, namun juga oleh factor-faktor di dalam pemerintahan itu sendiri.

Setelah krisis moneter, kondisi ekonomi di Indonesia terus memburuk hingga saat ini. Tuntutan reformasi pun juga menimbulkan masalah masalah baru, seperti pemberlakuan otonomi daerah yang justru menimbulkan Soeharto-Soeharto Kecil di daerah-daerah. Membuat daerah-daerah dikuasai oleh dinasti-dinasti keluarga yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Untuk mengatasi itu, institusi hukum haruslah diperkuat sebagai usaha mensejahterakan rakyat. Mahasiswa kini seharusnya memiliki posisi bukan sebagai pro atau kontra pemerintah, melainkan sebagai pemberi solusi pada masalah yang ada di masyarakat.

  • Mas Rein

Kondisi mahasiswa sebelum reformasi sangatlah apolitis. Mahasiswa didepolitisasi oleh rezim namun juga didoktrin untuk menjadi agent of change. Di FISIP, terdapat kelompok-kelompok studi yang mengkaji dan mengkritik rezim di FISIP. Pada tahun 1998, terbentuklah momentum yang memicu pengorganisiran diri dari kalangan mahasiswa, yang terutama berasal dari kelompok kelompok studi yang telah memiliki basis massa.

Orde Baru telah membuat mahasiswa menjadi golongan yang ter-eksklusifkan dari masyarakat pada umumnya. Namun ketika peristiwa 21 Mei 1998 terjadi, UI merupakan satu satunya yang membawa massa yang berasal dari masyarakat yang di luar dari golongan mahasiswa. Kerusuhan 1998 merupakan metafora bagi kondisi sosial politik Indonesia saat ini yang dibakar, dibuat membenci satu sama lain, dan menyalahkan Cina. Narasi orde baru masih berjalan hingga sekarang dalam artian pemerintahan yang feodalistis, militeristik, dan anti-demokratis. Bahkan sekarang pun terdapat kerinduan masyarakat terhadap rezim yang militeristik. Kaum elit yang menggunakan kekuatan rakyat untuk membawa kepentingannya masing masing pun masih berlanjut hingga saat ini.

  • Mas Agus

Hampir seluruh peristwa sejarah Indonesia digerakkan oleh pemuda, lebih khusus lagi oleh mahasiswa. Contohnya STOVIA, Gerakan Kemerdekaan 1945, TRIP (Tentara Republik Indonesia Pemuda), Angkatan 1966, dan juga Reformasi. Di tahun 1998, krisis ekonomi menghasilkan turbulensi yang menyebabkan masalah sosial dan politik lebih lanjut di dalam masyarakat Indonesia. Naiknya harga dollar kemudian merupakan salah satu faktor utama terjadinya gerakan gerakan reformasi.

Peristiwa penjarahan 1998 sebenarnya dapat memberikan refleksi bagi masyarakat Indonesia bahwa penjarahan yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu hakikatnya tidak berbeda dengan korupsi yang dilakukan oleh elit politik pada masa itu; yang sama sama mencuri dan mengambil sesuatu yang bukan hak para pelakunya.

Selain itu, kekuasaan Soeharto merupakan kekuasaan yang sangat rapih dan efisien dalam menjaga kekuasaannya. Masyarakat di masa Orde Baru merupakan masyarakat yang pola dan karakter-nya diseragamkan oleh rezim penguas. Hal tersebut dikarenakan media massa di masa orde baru yang sangat dikendalikan oleh rezim yang berkuasa. Akses masyarakat terhadap informasi di masa reformasi sangatlah terbatas, hyang oleh karenanya Orde BAru berhasil menyeragamkan masyarakat Indonesia

  • Sesi Tanya Jawab

Dimas Dwiputra (FIB)          :           “Bagaimana pandangan luar negeri (terutama Amerika) terhadap peristiwa Reformasi? Bagaimana proses pengorganisasian dan konsolidasi massa saat reformasi?”

Mas Panji                               :           “Sejak 1945 Dunia terjadi menjadi Blok Barat dan Blok Timur. Kedua Blok tersbut berupaya untuk mendapatkan sekutu sebanyak banyaknya yang memiliki sumber daya alam untuk kepentingan masing masing Blok. Amerika memiliki National Security Council yang memiliki fungsi untuk mengurus perang dingin dan mengawal kepentinganna di dunia internasional. Negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan oleh kedua Blok Barat dan Timur. Amerika memiliki kepentingan untuk menjaga kepentingan perusahaan perusahaannya di Indonesia pasca-kolonialisme. Ketika UU PMA disahkan pada tahun 1965, perusahaan-perusahaan Amerika memiliki ruang untuk memasuki Indonesia, termasuk freeport. Pinjaman luar negeri Indonesia kepada IMF merupakan pinjaman yang secara tak langsung merupka pinjaman kepada amerika. Pada masa perang dingin, Amerika membutuhkan rezim yang dapat diatur oleh dirinya untuk melindungi kepentingan amerika. Usai perang dingin, terjadi pergeseran politik didalam rezim Soeharto dimana ia memberikan ruang bagi kelompok islam untuk berada didalam kekuasaan, sehingga membuat amerika merasa kepentingannya di Indonesia mulai terancam. Ada sekitar 200 perusahaan minyak di Indonesia, yang seluruhnya merupakan perusahaan asing. Hal tersebut membuat kita sebagai pemilik minyak justru tak dapat mengontrol harga minyak negeri sendiri. Caltex berubah menjadi chevron pada tahun 2007 karena pemerintah Venezuela naik banding.AS ingin menjaga subordinasi.”

Mas Rein                                :           “Yang paling penting dalam sebuah gerakan adalah pengorganisasian massa. Sebuah gerakan dapat menjadi masif dipicu ketika bertemu dengan momentum yang tepat. Sebuah gerakan yang dipimpin oleh golongan tua memiliki pandangan yang konservatif, sementara yang memiliki pandangan progresif hanyalah golongan muda.”

Kamerad Che Nurul             :           “Apa yang menyebabkan para elit politik yang berkuasa di masa Orde Baru tetap bertahan pasca reformasi?”

Mas Panji                               :           “Secara teoritis, bertahannya elit dalam kekuasaan disebabkan oleh pola transisi yang terjadi dalam perubahan tersebut. Di masa reformasi, pola perubahan tersebut terjadi dengan pola negotiated/transactional transition. Dimana terjadi transaksi kepentingan tersebut terjadi di antara elite ciganjur dan kelompok Habibie dan wiranto pada saat pemilu. Pola transisi tersebut memberikan ruang bagi para elite politik yang berkuasa di rezim orde baru untuk terus bertahan pada masa pasca-reformasi. Contoh keberlanjutan tersebut hadir dalam undang undang amandemen dan undang undang partai politik yang dibentuk pasca-reformasi. Selain itu, reformasi merupakan upaya rezim rezim demokrasi menyerap nilai nilai otoritarian, yang berasal dari para elit lokal, elit militer, serta elit politik dari golongan fundamentalis islam. Selain pola transisi tersebut, berlanjutnya kekuasaan elit politik masa orba disebabkan oleh belum solid-nya kelompok oposisi pada saat reformasi.”

Tegar                                      :           “Adakah elite lit politik yang mencoba mengambil momentum reformasi bersama mahasiswa? Apa usaha yang dilakukan mahasiswa untuk mengawal 6 tuntutan reformasi 1998?”

Reinhard                                :           “Kepentingan elit yang mencoba untuk bercampur dan menitipkan agenda dalam gerakan mahasiswa pasti selalu ada. Yang menjadi penting adalah bagaimana kita menempatkan diri dalam kepentingan kepentingan yang memasuki gerakan tersebut.”

Mas Agus                               :           “Tidak semua tuntutan pada zaman reformasi terpenuhu, karena oposisi tidak solid, pola transisi orba ke reformassi terjadi negosiasi menghasilkan demokrasi substantial. Mas panji blg kemajuan reformasi hanya 20%. Aktor2 orba masih hidup. Mas rinhard blg gerakan tidak langsung besar tp melalui gerakan kecil dari kampus. Melihat pola untuk kedepannya.”

 

Narahubung: Ican (085719899169)

Departemen Kajian dan Aksi Strategis
BEM FISIP UI 2018
Nyalakan Asa, Bangkitkan Karya