Penghargaan Adipura

Pada artikel Newsletter kali ini, kami akan membahas mengenai penghargaan Adipura. Penghargaan tersebut mungkin sudah akrab di telinga pembaca karena kita sering mendengarnya atau membacanya. Penghargaan tersebut adalah penghargaan kebersihan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam rangka mewujudkan kota yang bersih dan teduh. Penghargaan ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1986 walaupun sempat terhenti pada tahun 1998 dan dilanjutkan pada tahun 2002.

Dalam mewujudkan kota yang bersih dan teduh, KLHK memiliki 21 komponen penilaian untuk kota yang dinilai. Dari 21 komponen tersebut, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) memiliki komponen yang paling besar. TPA berkaitan dengan penimbunan sampah dan pengelolaan limbah. Selain TPA, komponen penilaian lainnya meliputi kondisi pasar, terminal, jalan, sungai, taman, sekolah, rumah sakit, dan komponen lainnya. Selain melihat kondisi fisik, penghargaan ini juga memandang dari sisi sosial-ekonomi, seperti keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang diperbolehkan namun tetap harus rapih dan tertata sehingga menimbulkan rasa aman dan nyaman dalam masyarakat.  KLHK pun terus mengembangkan penghargaan Adipura dengan strategi rebranding Adipura. Dimulai tahun 2017, para bupati/walikota nominator penerima Adipura wajib untuk presentasi di depan Dewan Pertimbangan Adipura, praktisi pengelolaan sampah dan bidang pemasaran, pejabat KLHK, akademisi perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan media massa. Dengan rebranding tersebut, diharapkan Adipura dapat menyelesaikan berbagai isu lingkungan hidup yakni pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau, pemanfaatan ekonomi dari pengelolaan sampah dan RTH, pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengendalian dampak perubahan iklim, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat pertambangan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta penerapan tata kelola pemerintahan yang baik.

Salah satu pemenang Adipura pada tahun 2017 adalah kota Depok. Tugu Adipura Depok dapat ditemukan di Jalan Margonda. Walaupun begitu, keberhasilan kota Depok mendapatkan Adipura dipertanyakan banyak pihak, salah satunya dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Koordinator Advokasi Walhi Jakarta, Chandra Hutasoit, mempertanyakan keberhasilan kota Depok mengingat TPA kota Depok kelebihan kapasitas, serta belum ada pengelolaan sampah berbasis pasar atau komunitas. Pengangkutan sampah melalui truk pun juga masih berantakan. Hal ini menandakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh kota Depok meskipun sudah meraih Piala Adipura.

UNTUK BACAAN LEBIH LANJUT:

Arifianto, Bambang. (2017, Agustus 2) “TPA Kelebihan Kapasitas, Kota Depok Raih Piala Adipura”.  Diambil dari Pikiran Rakyat: http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/08/02/tpa-kelebihan-kapasitas-kota-depok-raih-piala-adipura-2017-406580 diakses pada tanggal 5 Juni 2018.

Kata Kota. (2016, Oktober 19) “Inilah Syarat Baru Penghargaan Adipura 2017”. Diambil dari: http://katakota.com/inilah-syarat-baru-penghargaan-adipura-2017/ diakses pada tanggal 5 Juni 2018.

Hasanah, Nurul. (2016, Oktober 7) “21 Komponen Penilaian Adipura”. Diambil dari Portal Resmi Pemerintah Kota Depok: https://www.depok.go.id/07/10/2016/01-berita-depok/21-komponen-penilaian-piala-adipura diakses pada tanggal 5 Juni 2018.