Permasalahan Lingkungan di Daerah Kemiri Muka

Pada artikel sebelumnya, newsletter kami telah membahas mengenai gambaran umum daerah Kemiri Muka, salah satu situs kerja program FISIP Environmental Act. Artikel kali ini akan membahas mengenai permasalahan lingkungan yang ada dan upaya perbaikan yang dilakukan di daerah tersebut. Informasi ini kami himpun melalui advokasi yang kami telah lakukan ke Kemiri muka.

 

Salah satu masalah lingkungan yang kerap melanda daerah Kemiri Muka adalah banjir yang terjadi ketika musim penghujan datang. Banjir di daerah Kemiri Muka disebabkan oleh dua penyebab utama, yaitu penggunaan lahan yang tidak sesuai dan pendangkalan sungai yang disebabkan oleh sampah di Kali Ciliwung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penggunaan lahan yang tidak sesuai di daerah Kemiri Muka terjadi dalam beberapa kasus. Pertama, pembangunan daerah pemukiman di daerah resapan. Meningkatnya pertumbuhan penduduk di Kota Depok menyebabkan pembangunan daerah pemukiman warga di daerah yang seharusnya berfungsi sebagai area resapan air. Hal tersebut mengakibatkan banyak resapan air banyak tertutup oleh beton dan menyebabkan tidak terserapnya air hujan. Kedua, alih fungsi wilayah kebun dan sawah yang sebelumnya ada menjadi lokasi pembangunan Depok Mall. Pembangunan pusat perbelanjaan tersebut menyebabkan daerah Kemiri Muka kehilangan area penyerapan air hujan dan aliran alami air ke arah utara.

 

Permasalahan lingkungan kedua penyebab banjir di wilayah ini adalah pendangkalan sungai. Pendangkalan sungai adalah akibat langsung dari pembuangan sampah warga ke sungai. Akibatnya adalah sungai tidak mampu lagi menampung volume air yang seharusnya sehingga ketika musim hujan datang, air akan meluap dan menyebabkan banjir. Pembuangan sampah ke sungai juga disebabkan oleh gerobak sampah yang hanya lewat satu kali per hari. Padahal gerobak sampah tersebut memiliki kapasitas yang kecil sehingga tidak mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beberapa upaya telah dilakukan oleh warga Kemiri Muka untuk mengatasi masalah banjir yang terjadi di daerah mereka antara lain adalah program kerja bakti yang dilakukan setiap dua bulan. Meskipun telah dilakukan, program ini masih kurang efektif karena sebagian besar penduduk bekerja sehingga kekurangan sumber daya manusia. Normalisasi sungai oleh Pemerintah Kota Depok juga telah diusahakan walaupun tidak terealisasi karena tingginya biaya yang dibutuhkan untuk pengerukan sampah.