Musik Pop Instan dan Bias Konfirmasi Masyarakat dalam Cognitive Dissonance

Oleh Albert Julio – Ilmu Hubungan Internasional ’20.

 

Pernahkah Anda mendengar musik pop di ruang publik dan kemudian Anda tertarik dengan musik tersebut, lalu Anda mencari liriknya dan terkejut setelah tahu lagu tersebut ternyata membahas hal yang jauh lebih dalam dari apa yang Anda sangka? Ketika Anda telah mengetahui makna lagu secara lebih mendalam, persepsi Anda terhadap lagu tersebut dapat berganti dengan cepat. Lagu bertempo tinggi seperti “I Took a Pill in Ibiza” oleh Mike Posner pun dapat menjadi sangat depresif ketika Anda menyadari lagu tersebut bertema adiksi narkoba karena depresi (Genius & Posner, 2016). Hal ini kemudian akan membuat Anda merasa tidak nyaman mendengar lagu tersebut di ruang publik.

Sifat musik pop yang didesain instan dan nyaman untuk didengar tampaknya telah menyebabkan degenerasi dalam lirik. Ketika orang terlalu menikmati “beat” dan tidak mementingkan lirik, agaknya semua lagu dapat menjadi lagu dansa (Frith et al., 2007). Menurut saya, sifat mendasar musik pop inilah yang menyebabkan pendengar tidak pernah menggubris masalah kontradiksi antara lirik melankolis dan musik upbeat dalam sebuah lagu. Keberadaan kontradiksi tersebut menciptakan sebuah cognitive dissonance yang menciptakan masyarakat memiliki bias konfirmasi terhadap musik pop dan menganggap seluruh lagu pop dangkal.

 

Musik Pop Instan

Musik pop menurut Simon Frith, musikologis Inggris, adalah musik yang dibuat hanya untuk populer oleh perusahaan produksi profesional guna mencapai angka komersial tinggi. Hal ini menyebabkan musik pop terkesan enak didengar, tak beridentitas khusus, dan terkesan konservatif. Sifat instan musik pop membuat pesan dalam lirik lagu kadang tidak begitu dipedulikan, yang penting enak didengar (Frith et al., 2007). Lihat saja tiga besar lagu pop barat dengan sukses komersial terbesar, yakni “Shape of You” oleh Ed Sheeran, “Despacito” oleh Luis Fonsi, dan “Work” oleh Rihanna yang semuanya bertemakan hubungan seks (Newman, 2021). Anehnya lagi, di Indonesia yang super konservatif, di  mana hubungan seks itu masih merupakan topik tabu, saya masih sering mendengar ketiga lagu tersebut diputar di ruang publik dan radio.

 

Teori dan Konsep

Cognitive Dissonance dan Bias Konfirmasi

Cognitive dissonance adalah teori sosiopsikologis yang menyatakan bahwa ketika manusia menerima informasi yang kontradiktif maka manusia akan mencari cara untuk menghilangkan kontradiksi (Festinger, 1957). Salah satu reaksi manusia untuk menghilangkan kontradiksi adalah melalui bias konfirmasi, yakni meyakinkan diri atas satu kesimpulan dengan hanya mengambil fakta yang mendukung kesimpulan tersebut. Hal ini termasuk ke dalam kesalahan-kesalahan logikal yang kerap kali dialami manusia dalam penelitian atau interpretasi. Bias konfirmasi berarti mendahulukan hasil terlebih dahulu dibandingkan proses interpretasi dan data yang ada (Nickerson, 1998).

 

Fenomena Bias Konfirmasi dalam Interpretasi Musik Pop

Seperti yang kita ketahui, musik pop diproduksi dengan daya produksi yang sangat tinggi agar lagu tersebut enak didengar. Hal ini menyebabkan sedikitnya kreativitas yang ada di tangan penyanyi dalam produksi musiknya karena banyaknya campur tangan produser. Keinginan studio rekaman untuk menjual musik sebanyak mungkin telah menciptakan situasi yang membuat lagu-lagu pop terkesan tidak begitu orisinil. Banyak sekali utilisasi klise seperti hook dan chorus yang dibuat simpel, tetapi menarik sehingga para pendengar bisa ikut bersenandung walau kata tersebut hanya kata yang dibuat-buat (Shepherd, 2003). Lihat saja dari judul lagu “BOOMBAYAH” oleh BLACKPINK, “Boom Boom Pow” oleh Black Eyed Peas, dan bahkan “Sussudio” oleh Phil Collins. Saya tantang Anda untuk menjelaskan apa arti kata-kata tersebut!

Kesuksesan musik pop dengan utilisasi klise tersebut telah menciptakan situasi dalam masyarakat yang menormalisasi sifat musik pop. Selama musik tersebut asyik dan ada bagian yang bisa dinyanyikan maka musik itu enak didengar. Hal tersebut menyebabkan masyarakat beranggapan bahwa musik pop itu amat dangkal dan membahas topik insensitif seperti cinta, romantisme, dan hal optimis lainnya. Ironisnya, menurut riset Universitas California, lagu pop sejak 1980-an memiliki tema yang jauh lebih sedih dan mendalam. Hal tersebut berhubungan dengan perkembangan electronic beat yang mampu menutupi tema sedih dari lagu dengan irama yang membuat pendengar bergoyang dan bahagia (Interiano et al., 2018).

Musik pop telah berhasil membentuk masyarakat yang mengkonsumsi musik atas dasar beat yang enak dirasakan. Kondisi tersebut didukung oleh rilisnya piranti walkman yang populer pada tahun ‘80-an dan membiarkan seseorang mendengarkan lagu sambil bekerja berat. Kondisi seperti itu membuat musik sekadar dengungan di latar belakang dan bukan menjadi fokus utama pendengar sehingga lirik menjadi hal yang makin tidak penting (Hosokawa, 1984). Masyarakat penikmat musik sendiri terlalu sibuk untuk terlibat stres akibat cognitive dissonance sehingga mereka menggunakan bias konfirmasi mereka untuk meyakinkan diri sendiri bahwa lagu yang mereka putar adalah lagu pemberi semangat dan bertajuk optimis.

Banyak masyarakat yang memprotes kedangkalan musik pop dan menganggap lagu produksi indie memiliki makna yang jauh mendalam. Saya tidak bisa menyalahkan mereka karena musik pop yang diolah amat sintetis kadang membuatnya terkesan insensitif, berbeda dengan musik indie yang biasa berusaha dengan gigih menyampaikan sebuah pesan. Model musik pop yang lebih diciptakan untuk viral dalam budaya populer telah membuat mereka terkesan semakin generik. Musik tidak lagi menjadi cerminan emosi penyanyi dan lirik hanya diciptakan untuk digumamkan pendengar. Musik pop berhasil memanfaatkan bias konfirmasi dan ketidakinginan masyarakat agar terjebak dalam cognitive dissonance untuk menjual beat yang klise.

Saya akan memberikan beberapa contoh lagu pop yang berarti dalam dan sempat populer sebagai contoh akan bias konfirmasi di masyarakat. Lagu-lagu tersebut antara lain:

  1. “Chandelier” (2014) oleh Sia membahas tentang perjuangan Sia melawan adiksi alkohol.
  2. “Can’t Feel My Face” (2015) oleh The Weeknd membahas tentang euforia ketika menghisap kokain.
  3. “Hey Ya!” (2003) oleh Outkast membahas tentang orang yang terjebak di pernikahan tidak harmonis, tetapi tidak berani bercerai karena tradisi.
  4. “Gangnam Style” (2012) oleh PSY adalah ejekan atas kapitalisme, terutama budaya kemewahan penduduk Gangnam di Korea.
  5. “Yoru ni Kakeru” (2019) oleh Yoasobi membahas tentang kisah sejoli yang terjebak dalam keinginan bunuh diri.
  6. “Papaoutai” (2013) oleh Stromae membahas tentang kisah anak yatim yang harus tumbuh tanpa ayahnya.
  7. “I Took a Pill in Ibiza” (Seeb remix, 2016) membahas adiksi narkoba yang diakibatkan tekanan sosial dan keinginan “terkenal”.

Sifat musik pop yang instan membuat masyarakat menggeneralisasikannya sebagai sesuatu yang dangkal. Nyatanya, musik pop juga dapat memberi arti yang dalam. Apakah hal ini berarti Anda tidak boleh menikmati musik tanpa mengerti liriknya? Tidak sama sekali. Bahkan, itulah tujuan diberikannya irama menarik dalam lagu favorit Anda. Hanya saja, jangan melakukan bias konfirmasi dan menganggap seluruh musik pop itu sintetis dan tidak bermakna. Walau begitu, jangan juga terlalu stres dan terjebak dalam cognitive dissonance yang disebabkan analisis yang berlebih terkait musik pop.

Daftar Pustaka

​​Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.

Frith, S., Straw, W., & Street, J. (2007). The Cambridge Companion to Pop and Rock. Cambridge University Press.

Genius, & Posner, M. (2016). Mike Posner “I Took A Pill In Ibiza” Official Lyrics & Meaning | Verified. Youtube. Interview, Genius. https://www.youtube.com/watch?v=5zvlETDEoZ0&ab_channel=Genius.

Hosokawa, S. (1984). The Walkman Effect. Popular Music, 4, 165–180. https://doi.org/10.1017/s0261143000006218.

Interiano, M., Kazemi, K., Wang, L., Yang, J., Yu, Z., & Komarova, N. L. (2018). Musical Trends and Predictability of Success in Contemporary Songs in and out of the Top Charts. Royal Society Open Science, 5(5), 1–16. https://doi.org/10.1098/rsos.171274.

Newman, T. (2021, July 12). Top 20 Best-selling Digital Singles of All Time. RouteNote Blog. https://routenote.com/blog/best-selling-digital-singles/.

Nickerson, R. S. (1998). Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.2.175.

Shepherd, J. (2003). Continuum Encyclopedia of Popular Music of The World. Performance and Production. Continuum.

 

All About Binge-watching: Motivasi Audiens Melakukan Binge-watching

Disusun oleh Adinda Nur Shadrina, Bima Aditya, Belva Zahra Firdaus, Erina Lagman, Kevin Rosul, dan Syaimma Alia

 

I. Latar Belakang

Kehadiran teknologi membantu manusia dalam menuntaskan berbagai kebutuhannya, diantaranya adalah kebutuhan akan informasi, interaksi, dan hiburan. Salah satunya adalah teknologi media. Media hadir dalam bentuk audio, visual, dan audiovisual (tayangan). Berkaca ke dua dekade sebelumnya, manusia pernah bersusah payah untuk menyaksikan sebuah tayangan. Masyarakat harus berkumpul untuk menyaksikan sebuah tayangan televisi karena televisi masih menjadi barang yang eksklusif. Ada pula layar tancap sebagai alternatifnya. Namun, kedua media tersebut tidak memberi keleluasaan bagi penonton untuk memilih tayangan; penonton harus mengikuti jadwal siaran yang ada. Pada akhirnya, seiring dengan kemudahaan akses internet di Indonesia, hadir pula Video on Demand, di mana masyarakat dapat memilih sebuah tayangan dengan sesuka hati. Fitur tersebut memunculkan fenomena binge-watching atau menonton beberapa tayangan secara maraton yang kini telah ternormalisasi dalam masyarakat modern. 

Istilah binge-watching diadopsi dari frasa-frasa seperti binge drinking dan binge eating. Binge-watching menandakan praktik perilaku menonton sejumlah episode dari sebuah program televisi secara penuh dan terus-menerus (Sung et al, 2018). Walaupun belum ada definisi tunggal mengenai apa itu binge-watching, aktivitas binge diukur berdasarkan kuantitas dan intensitas seseorang melakukan satu kegiatan di satu waktu tertentu. Sebagai contoh, seseorang yang menonton sepuluh episode dari satu drama dalam jangka waktu satu bulan tidak diklasifikasikan sebagai pelaku binge-watching. Namun, seseorang yang menonton sepuluh episode dalam kurun waktu sehari dan melakukannya tanpa henti adalah seseorang yang melakukan binge-watching.  

Streaming platforms seperti Netflix, Hulu, Amazon, dan lain-lain telah memfasilitasi aktivitas binge-watching. Teknologi menonton seperti tablet, ponsel pintar, laptop, dan TV pintar juga mengamplifikasi fenomena ini. Melalui kajian ini, fenomena binge-watching akan digali dari perspektif audiens dan motivasi dalam melakukan binge-watching. Analisis dari fenomena ini menggunakan Uses and Gratification Theory yang melihat bahwa audiens merupakan konsumen media yang aktif. 

 

II. Video on Demand

Video on Demand atau VoD adalah salah satu hasil konvergensi media yang menyatukan televisi dan film atau konten audiovisual dengan teknologi (Pradsmadji dan Irwansyah, 2020). VoD merupakan hasil konvergensi dari penggabungan televisi dan film dengan internet yang memungkinkan pengguna untuk dapat memilih sendiri tayangan yang ingin ditonton. Dengan fitur tersebut, pengguna tidak perlu lagi memusingkan jadwal maupun durasi penayangan karena sepenuhnya merupakan otonomi pengguna. Akibatnya, banyak pengguna yang menonton episode suatu tayangan secara maraton atau yang disebut dengan binge-watching. Pada tahun 2019, Merikivi dalam Zahara dan Irwansyah (2020) mendefinisikan binge-watching sebagai praktik menonton lebih dari satu episode serial dalam sekali duduk dengan kecepatan dan waktu yang ditentukan sendiri oleh pengguna. Menurut Pittman dan Sheehan (2015), binge-watching mewakili perubahan radikal untuk konsumsi media pada abad ke-21 karena dilihat sebagai cara menonton televisi yang baru atau terkadang ekstrim. Berdasarkan statistik yang dilakukan oleh Populix (2020), 52% dari 3.423 responden di Indonesia kerap melakukan binge-watching. 

 

III. Uses and Gratification Theory

Pada tahun 1974, UGT digagas oleh Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch (dalam West & Turner, 2019). Teori ini melihat bahwa audiens merupakan konsumen media yang aktif untuk memilih media yang dikonsumsinya. Teori ini memiliki beberapa asumsi, yaitu:

  • Audiens merupakan sosok yang aktif dan menggunakan media berdasarkan tujuannya.

Terdapat beberapa kategori kebutuhan yang dipenuhi oleh media (diadaptasi dari Katz, Gruvetichm, dan Haas, 1973), yaitu kognitif, afektif, integratif personal, integratif sosial, dan pelepas ketegangan atau relaksasi.

  • Inisiatif untuk menghubungkan penggunaan media dan pemuasan kebutuhan terletak pada audiens.

Audiens adalah agen yang aktif untuk berinisiatif dalam menghubungkan kebutuhan dengan media yang digunakan. Sebagai contoh, apabila mereka membutuhkan hiburan, audiens memilih untuk menonton acara komedi. 

  • Media saling bersaing dengan sumber lain dalam memuaskan audiens.

Sebuah media dapat lebih unggul dari media lainnya tergantung situasi audiens.

  • Audiens sadar dengan penggunaan, minat, dan motif media mereka.

Dalam penelitian seputar konsumsi media, para peneliti berasumsi bahwa audiens sadar akan pilihan media yang mereka konsumsi, apa yang mereka konsumsi, dan mengapa mereka mengonsumsi media tersebut.

  • Penilaian konten media hanya ditentukan oleh audiens.

Audiens merupakan penentu dari penggunaan media maka penilaian sebuah konten ditentukan oleh audiens.

 

IV. Kaitan dengan UGT

Dalam studi komunikasi, motivasi untuk binge-watching dapat dipahami dengan menggunakan kerangka Uses and Gratifications Theory (UGT). Menurut Lariscy et al. (dikutip oleh Whiting & Williams, 2013), Uses and Gratifications Theory, yang banyak digunakan untuk riset dalam konteks media baru, berupaya memahami mengapa dan bagaimana individu mencari media tertentu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Menurut Steiner & Xu (2020), yang melakukan riset mengenai binge-watching dengan kerangka Uses and Gratifications Theory, binge-watching terjadi karena berbagai macam motif yang dimiliki oleh penonton, seperti untuk mencapai relaksasi, rasa tidak mau ketinggalan, inklusi budaya, pengalaman menonton yang lebih baik, dan lain-lain. Motivasi ini sejalan dengan asumsi pertama dalam UGT yang menyatakan bahwa audiens merupakan sosok yang aktif dan menggunakan media berdasarkan tujuannya (afektif, integratif sosial, dan pelepas ketegangan).

  • Afektif

Paul J. Zak (dalam Williams, 2017) mengungkapkan bahwa cerita yang digerakkan oleh karakter dapat menimbulkan hormon oksitosin yang berpengaruh pada emosi kita. Emosi termasuk dalam aspek afektif yang merupakan salah satu tujuan orang dalam memilih sebuah media (Katz et al., 1979). Steiner dan Xu (2020) mengatakan bahwa dengan melakukan binge-watching, seseorang dapat merasakan narrative immersion atau pendalaman naratif. Mereka menambahkan bahwa pendalaman naratif akan semakin bertambah apabila audiens tidak mengalami interupsi ketika menonton episode serial televisi. 

  • Integratif Sosial

Binge-watching juga didukung oleh motif untuk mencapai inklusi budaya (Steiner dan Xu, 2020). Saat ini, menonton serial Netflix terbaru dikonotasikan oleh masyarakat modern sebagai kegiatan yang relevan secara kultural; mengikuti tren agar dapat berpartisipasi dalam diskusi dengan orang lain yang juga menonton serial tersebut. Argumen ini didukung oleh Yoon et al. (2018) yang menegaskan bahwa peer influence atau pengaruh teman sebaya berperan penting dalam binge-watching. Binge-watchers menikmati percakapan mengenai serial pilihan mereka, baik secara langsung, online, maupun melalui ponsel pribadi sambil menonton. Membicarakan serial TV bersama teman sebaya dapat membangun sense of community. Mereka yang tidak dapat berpartisipasi di percakapan tersebut akan termotivasi untuk menonton serial TV yang berkaitan agar dapat memasukkan diri ke percakapan dengan teman sebaya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Anghelcev et al. (2020), audiens yang melakukan binge-watching secara ekstrem melaporkan bahwa mereka tetap menghabiskan banyak waktu untuk berinteraksi dengan teman dan keluarga, tetapi lebih cenderung mengalami fear of missing out (FOMO); tertinggal dari fenomena sosial di sekitar mereka. Dengan demikian, motif inklusi budaya dapat dikaitkan dengan aspek integratif sosial yang melibatkan penambahan koneksi atau hubungan yang lebih baik dengan keluarga, teman, ataupun masyarakat melalui penggunaan media tertentu (Katz et al., 1979). 

  • Pelepas Ketegangan 

Motif selanjutnya yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi semua orang adalah untuk mencapai relaksasi. Motif relaksasi dapat dikaitkan dengan aspek pelepas ketegangan dalam asumsi UGT yang dideskripsikan sebagai pelarian diri atau pengalihan dari tanggung jawab di kehidupan sehari-hari (Katz et al., 1979). Sebagai contoh, beberapa penonton yang melakukan binge-watch terhadap tayangan yang sudah pernah mereka tonton melaporkan bahwa mereka melakukannya untuk tertidur, bersantai, atau untuk mencapai rasa nostalgia (Steiner dan Xu, 2020). Relaksasi, dalam arti lain, juga mencakup escape motive atau motif pelarian, di mana penonton dapat melalui hari dan mengabaikan segala hal di sekitar mereka untuk binge-watching setelah menyelesaikan tugas atau tanggung jawab yang bersifat berat dalam pekerjaan mereka (Yoon et al., 2018). 

 

V. Kesimpulan

Pengguna media saat ini dapat menikmati perkembangan teknologi media berupa Video on Demand, di mana audiens dapat menentukan sendiri tayangan yang ingin ditonton tanpa harus mengikuti jadwal penayangan. Hal tersebut memunculkan fenomena binge-watching, di mana pengguna memilih untuk menonton beberapa episode secara maraton. Dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa binge-watching dapat membuat penonton lebih larut pada narasi film, lebih terinklusi dengan budaya, dan melepaskan ketegangan. Hal tersebut sejalan dengan asumsi dari Uses and Gratification Theory yang menyatakan bahwa audiens menggunakan media berdasarkan tujuannya, yakni mencapai kepuasan afeksi, integrasi sosial, dan melepas ketegangan.

 

VI. Trivia (Dampak Binge-watching)

Kebiasaan binge-watching memang terdengar menghibur. Namun, membiasakan diri dengan hal tersebut tidak sepenuhnya baik untuk individu. Para ahli kesehatan percaya bahwa terdapat beberapa dampak buruk yang diakibatkan oleh binge-watching. Dengan tersedianya banyak konten untuk ditonton, waktu yang dikhususkan untuk melakukan hal lain seperti tidur, bersosialisasi, hingga olahraga akan tergantikan. Hal ini tentu akan menimbulkan potensi implikasi kesehatan dalam diri individu, baik dari aspek psikologis maupun fisik.

Aspek psikologis yang pertama adalah menimbulkan candu. Menurut Alam (2021), melakukan binge-watching itu seperti menggunakan obat-obatan. Saat kita terlibat dalam suatu aktivitas yang disukai, otak kita akan menghasilkan dopamin yang mendorong perasaan bahagia hingga menimbulkan “high”. Hal ini, bila diulangi dari waktu ke waktu, dapat menjadi kebiasaan saraf aktual yang sulit diubah serta menciptakan kecanduan semu. Selanjutnya, kebiasaan binge-watching akan mengganggu jam biologis kalian. Penelitian yang dilakukan Breus (2018) mengatakan bahwa melakukan binge-watching dapat menggairahkan otak sehingga mengganggu kemampuan tidur. Melakukan maraton film dapat membuatmu terjaga di malam hari dan tentu menimbulkan kelelahan di keesokan harinya. Kebiasaan binge-watching juga akan menimbulkan rasa cemas hingga depresi. Salah satu peneliti dari Universitas Texas di Austin mengatakan bahwa dalam upaya seseorang mengalihkan dirinya dari pikiran yang negatif, biasanya mereka akan melakukan binge-watching (Preidt, 2015). Dalam penelitian itu pula ditemukan bahwa semakin kesepian dan depresi seseorang, semakin mungkin mereka melakukan binge-watching. Penelitian menunjukkan bahwa emosi-emosi seperti depresi, kesepian, dan kekurangan regulasi diri adalah indikator dari perilaku binge-watching (Bonin et al., 2000; LaRose & Eastin, 2004 dalam Sung et al., 2018). Dampak psikologis lainnya adalah penarikan diri seseorang dari realitas. Aktivitas binge-watching dapat dianalogikan sebagai aksi transportasi (Sung et al., 2018), di mana seluruh konsentrasi menuju pada satu hal dan terus berjalan di alur konsentrasi tersebut. Ketika seseorang melakukan binge-watching, konsentrasi individu “ditransportasi” ke tayangan yang mereka saksikan sampai tidak menyisakan porsi konsentrasi untuk hal-hal yang ada di dunia nyata.

Dalam aspek fisik, studi yang dilakukan Kubota et al. (2018) menemukan bahwa duduk lama untuk melakukan binge-watching dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2. Deep vein thrombosis (DVT) atau penggumpalan darah pada salah satu pembuluh darah vena dalam akan rawan terjadi apabila kita terbiasa untuk duduk dalam waktu yang lama. Hal ini bisa berakibat fatal jika sewaktu-waktu pembuluh darah tersebut putus dan menyebar ke daerah jantung serta paru-paru. Walaupun kita sudah berusaha mencapai jumlah aktivitas yang disarankan, hal tersebut tetap tidak cukup untuk membalikkan risiko DVT selama binge-watching. Selanjutnya, kebiasaan binge-watching juga dapat meningkatkan berat badan hingga risiko obesitas. Seorang dokter ahli kedokteran keluarga di Rumah Sakit Wexner Universitas Ohio, Sophia Tolliver, mencatat bahwa binge-watching dan binge-eating sering berjalan beriringan. Sesi maraton film dilengkapi dengan mengonsumsi camilan tanpa ada batasan tertentu akan dengan mudah meningkatkan berat badan. Apabila hal ini tidak dikontrol, risiko obesitas pun akan turut meningkat.

VII. Saran 

Binge-watching memiliki manfaatnya sendiri. Penonton dapat merasakan sensasi relaksasi dan akan terhibur dari konten-konten yang ditonton. Namun, binge-watching juga memiliki dampak negatif, seperti menimbulkan risiko penyakit dan menimbulkan rasa candu. Untuk menghindari dampak-dampak negatif tersebut, dapat dilakukan beberapa hal untuk mengurangi kebiasaan binge-watching. Pertama, perlu disadari bentuk pola binge-watching yang ditemukan dalam kehidupan individu dan mulai mematahkan pola tersebut. Kedua, dapat juga menyeimbangkan kegiatan menonton dengan aktivitas lain, seperti olahraga, membaca buku, dan bertemu dengan teman. Ketiga, kegiatan menonton dalam kegelapan dapat dikurangi karena bisa mengakibatkan kehilangan jejak waktu. Terakhir, merubah kebiasaan binge-watching menjadi acara sosial, seperti mengajak keluarga dan teman untuk menonton bersama.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alam, D. A. (2021, Juli 21). Binge Watching. Northwestern Medicine. https://www.nm.org/healthbeat/healthy-tips/emotional-health/binge-watching

Anghelcev, G., Sar, S., Martin, J., & Moultrie, J. L. (2020). Is Heavy Binge-Watching A Socially Driven Behaviour? Exploring Differences Between Heavy, Regular and Non-Binge-Watchers. Journal of Digital Media & Policy, 11(3), 1-32. https://doi.org/10.1386/jdmp_00035_1

Birch, J. (2019, Juni 3). How Binge-watching is Hazardous to Your Health. Washington Post. https://www.washingtonpost.com/lifestyle/wellness/how-binge-watching-is-hazardous-to-your-health/2019/05/31/03b0d70a-8220-11e9-bce7-40b4105f7ca0_story.html

Blumler, J. G. (1979). The Role of Theory in Uses and Gratifications Studies. Communication Research, 6(1), 9-36. https://doi.org/10.1177/009365027900600102

Breus, M. J. (2018, Januari 18). Binge Watching and Its Effects on Your Sleep. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/sleep-newzzz/201801/binge-watching-and-its-effects-your-sleep

Flayelle, M., Canale, N., Vögele, C., Karila, L., Maurage, P., & Billieux, J. (2019). Assessing Binge-watching Behaviors: Development and Validation of the “Watching TV Series Motives” and “Binge-watching Engagement and Symptoms” Questionnaires. Computers in Human Behavior, 90, 26–36. https://doi.org/10.1016/j.chb.2018.08.022

Govaert, H., & Van Kenhove, P. (2014). How is the Concept of “binge-watching” of TV Shows by Customers Going  to Impact Traditional Marketing approaches in the entertainment sector? [Tesis Magister, Universiteit Gent]. Ugent Library. https://libstore.ugent.be/fulltxt/RUG01/002/165/307/RUG01-002165307_2014_0001_AC.pdf

Katz, E., Haas, H., & Gurevitch, M. (1973). On the Use of the Mass Media for Important ThingsAmerican Sociological Review, 38(2), 164-181. https://doi.org/10.2307/2094393k

Kubota, Y., Cushman, M., Zakai, N., Rosamond, W. D., & Folsom, A. R. (2018). TV Viewing and Incident Venous Thromboembolism: the Atherosclerotic Risk in Communities Study. Journal of Thrombosis and Thrombolysis, 45, 353-359. https://doi.org/10.1007/s11239-018-1620-7

Panda, S., & Pandey, S. C. (2017). Binge Watching and College Students: Motivations and Outcomes. Young Consumers, 18(4), 425-438. https://doi.org/10.1108/YC-07-2017-00707

Populix. (2020, Mei 7). Fenomena Binge Watching dan Persaingan Sengit Layanan Video on Demand di Indonesia. https://www.info.populix.co/post/fenomena-binge-watching-dan-persaingan-sengit-layanan-video-on-demand-di-indonesia

Preidt, R. (2015, Januari 29). Binge-Watching TV: Sign of Depression, Loneliness?. WebMD. https://www.webmd.com/depression/news/20150129/binge-watching-tv-may-be-sign-of-depression-loneliness

Schweidel, D. A., Moe, & Wendy, W. (2016). Binge Watching and Advertising. Journal of Marketing, 80(5), 1-56. https://doi.org/10.1509/jm.15.0258

Steiner, E., & Xu, K. (2018). Binge-watching Motivates Change: Uses and Gratifications of Streaming Video Viewers Challenge Traditional TV Research. Convergence, 26(1), 82-101. https://doi.org/10.1177/1354856517750365

Sung, Y. H., Kang, E. Y., & Lee, W. (2018). Why Do We Indulge? Exploring Motivations for Binge Watching. Journal of Broadcasting & Electronic Media, 62(3), 408-426. https://doi.org/10.1080/08838151.2018.1451851

West, R., & Turner, L. H. (2019). Introducing Communication Theory: Analysis and Application (3rd ed.). New York: McGraw – Hill.

Whiting, A., & Williams, D. (2013). Why People Use Social Media: A Uses and Gratifications Approach. Qualitative Market Research, 16(4), 362-369. https://doi.org/10.1108/QMR-06-2013-0041

Zahara, E. N., & Irwansyah. (2020). Binge Watching: Cara Baru Menonton Televisi sebagai Dampak Konvergensi Media. Jurnal Sosioteknologi, 19(2), 237-248. https://doi.org/10.5614/sostek.itbj.2020.19.2.8